To: In
2008/03/24
14:22
Lg d mana sich?
From: Ephe
To: Ephe
2008/03/24
14:24
Taw ga.. Aq + bingung bout my honey.
Sbk mulu. Tengsin dunkz ajakin dy pegi
truz. Dy ga penah ajak
From: In
To:In
2008/03/24
14:27
Lg d mana whoy….?
Ma sapa?
Koq ditlp-nin di rmh lom plg?
From: Ephe
To: Ephe
2008/03/24
14:28
BT-in bgt sih lo!
From: In
To:In
2008/03/24
14:29
Ga usah hiperbola gt deh. Masi untung
pny pcr lo..
Lg di mana??
From: Ephe
To: Ephe
2008/03/24
14:31
Makan soto dpn SD qta dl.
Np tny2…? Ga bkl maw nyusulin khan?!
From:In
To:In
2008/03/24
14:32
Pedes bgt sih,hari ini?? Lo kan baru dapet
2minggu lg.
From: Ephe
To: Ephe
2008/03/24
14:33
Pacarku nge-BT in.
From: In
To:In
2008/03/24
14:33
Putusin aja…
From: Ephe
To: Ephe
2008/03/24
14:34
Gampang bgt loe omong..cinta nih
From: In
To: In
2008/03/24
14:35
Lo lagi makan soto ato makan ati
gara2 cinta sih…?
From: Ephe
To: Ephe
2008/03/24
14:37
Resek…
Udh ah..brenti buang-buang pulsa.
From: In
To: In
2008/03/24
14:39
Gmn skolah qta doeloe.. Ad kemajuan ga?
Kangen jugak!
From: Ephe
To: Ephe
2008/03/24
14:41
Ehm..ngengenin emank. Meninjau jg bhw
Dl my honey jg skul dsni beda angkatan
dkt ma qta….ehm!
From: In
To: In
2008/03/24
14:42
Lalalalalalala….
From: Ephe
To: Ephe
2008/03/24
14:43
Chowrie, bosen yhah?! My honey truz..
OK dhe.
Eh,wait…! He look like….ehm.
From: In
To: In
2008/03/24
14:44
Hah? He sapa…?
From: Ephe
To: In
2008/03/24
14:48
Whoy…? What u see..?
From: Ephe
To: In
2008/03/24
14:55
Common… jgn bilang loe hunting lg.
From: Ephe
To: Ephe
2008/03/24
14:58
Upz… Bye 4 now.
Smbung lg nti. OK?!
From: In
To: In
2008/03/24
14:59
My bestfriend iz freak-people.
From: Ephe
To: Ephe
2008/03/24
14:60
Whatever u say….
From: In
“ Kemarin online, liat ini…” Malam itu di ruang tamu usai menjemputku, pacarku berkata sembari menyerahkan padaku lembaran-lembaran kertas yang sangat tampak barusan ia print.
OK. Kali ini aku sedang nggak sentimental. Kali ini aku nggak akan ngomongin all about love seperti biasanya. Kali ini aku belajar dari seseorang yang memang dekat denganku dulu, sekarang, dan menerus. Hah? Maksudnya…? Ready…? Kita mulai ceritanya.
Gedung sekolah SD yang sudah hamper lima tahun kutinggalkan itu tetap kokoh. Tegar dengan bangunannya yang kian rapi karena direnovasi, serta kuat dengan prestasi dan semangatnya di jagad pendidikan. Sudah agak lama memang, telapak kakiku menginjak aula SD ini. Dulu, disini tempat pertamaku bergaul di masyarakat, tempatku mengenyam pendidikan dasar.
Aku tersenyum melihat aula yang lengang dan kosong. Aku teringat kenangan disana. Meskipun aku sudah lupa bagaimana wajah culunku waktu SD, aku masih menyimpan setiap lekukan wajah teman-teman yang bermain denganku berlari-larian mengelilingi aula ini, bertanding kasti disaat 17an, melempar-lempar permen saat istirahat, meniup melodeon saat extrakurikuler berlangsung saat sore.
Rasa kangen menyelimutiku bersama indahnya kenangan yang kembali menyapaku dan melangkahkan kakiku untuk kembali merasakan hawa tawa di gedung SDku ini. Maka, aku berjalan perlahan, melongok di setiap kelas yang sudah kosong sepi. Aku masih ingat, meja kayu berlaci tempatku duduk di kelas empat SD. Sederhana, dan indah. Bukan karena kayunya, tapi pengalaman dan suguhan pelajaran kehidupan yang datang darinya.
Hingga aku sampai di sebuah kelas, kelas paling pojok di lantai dua. Kelas terakhir yang kutempati di SD ini. Kelas tempat aku menempuh dua jam ujian akhir yang menentukan semuanya. Aku rindu guru kelas enamku. Aku rindu ujian praktek dan segala stress yang ditimbulkannya karena merupakan ujian serius pertama setiap orang dalam jenjang pendidikannya.
Lepas dari itu, setelah puas aku menyegarkan hatiku dengan kenangan masa SD yang indah, aku melangkah perlahan menuju keluar gerbang. Pak Satpam tampak memperhatikanku. Aku hanya bisa tersenyum kecil. Aku tak mengenalnya. Karena sudah bukan satpam waktuku bersekolah disini dulu.
Di dekat gerobak soto tempatku makan tadi, kini tampak seorang lelaki tua (sekitar 60an) sedang duduk di trotoar sambil memegang es teh yang ditempatkan pada sebuah plastik. Tampangnya sangat familiar. Namun aku belum sadar siapa gerangan. Merasa beliau bukan orang yang berbahaya, kudekati dia karena penasaran dengan wajahnya yang familiar.
Mataku nanar ketika tahu siapa dia. Pak Alex. Namun tua. Guratan diwajahnya seakan menunjukkan usianya. Otot-otot yang menyembul dari balik kulit tangannya seakan merindu untuk menganhantar anak-anak kembali ke sekolah. Wajahnya sedikit kempot. Ia mengenakan kaus yang tampak sangat kebesaran untuknya, serta celana panjang kumal seperti yang ia kenakan dulu. Aku sungguh merindunya. Dan kini, saat aku menulisnya pun, mataku sedang berkaca-kaca.
Aku ingat Pak Alex. Delapan tahun yang lalu, senyumnya selalu mewarnai hari-hariku. Setiap pagi, aku disambutnya dengan senyuman yang dibarengi dengan klakson mobilnya di depan rumahku. Tangannya yang kuat itu dulu menggendong anak-anak untuk masuk ke dalam mobil, dan membantu keluar dari dalam mobil untuk siap bersekolah. Terkadang, kata-katanya yang khas sangat berarti untuk ‘menjinakkan’ anak bandel yang malas masuk sekolah. Dan hatinya yang tulus dengan sabar menanti anak-anak pulang sekolah untuk mengantarkan mereka kembali ke rumah.
Yha, Pak Alex adalah sopir antarjemput.
Aku sudah berada cukup dekat dengannya, dan mencoba tersenyum dan menyapanya.
“ Pak Alex..”
Pak Alex mendongak dan tampak sedikit bingung. Aku melihat matanya. Matanya tak berubah, tetap penuh semangat dan penuh cinta kasih pada anak-anak. Mata yang sungguh sangat kurindukan..
Pak Alex dengan segera bangkit dari duduknya di trotoar. Tersenyum padaku sebelum akhirnya dia berjalan pergi meninggalkanku. Ouw, mungkin Pak Alex lupa padaku.
“ Dia udah pikun tuh…” Kata Mas-Mas pemilik tenda soto tempat tadi aku makan.
“ Iyha, yha… Dia masih antar-jemput anak-anak, Mas? Dulu waktu masih di sini, aku ikut antar-jemputnya lho..”
“ Wah, udah nggak antarjemput lagi. Mobilnya udah digadaiin, dia kan sakit darah tinggi gitu, mbak. Nggak kuat biaya pengobatan…”
Aku terbelalak.
“ Oooo… Lha, kalo udah nggak antar-jemput lagi kerjanya apa, Mas? Kok masih nongkrong di sini?”
“ Iya. Tiap pagi waktu jam sekolah dia naik angkot sampe sini, mbak.. Dia ngeliatin anak-anak masuk sekolah gitu. Terus nungguin sampai pulang.”
“ Hah? Ngeliatin doang, Mas..?”
“ Iyha, Mbak.. Saya juga sampai kasihan. Kalo siang, saya yang kasih makan dia disini...”
Begitulah. Sebuah semangat yang telah mendarah daging. Terberkatilah engkau, Pak Alex. Karena kamu telah menambah sebuah halaman pada buku pelajaran kehidupan milikku. Entah mengapa. Semangatmu, kasih sayang yang tulus, baktimu, atau sebuah nilai sosial masyarakat yang ingin kupetik darimu. Yang jelas, aku akan terus mengingatmu.
“ I’m so proud of you, my little girl….”
“ Thank-you. So... Can you tell me that you love me?”
Pacarku tersenyum. Senyumnya simpul. Dari senyumnya itu, aku jamin, kamu pasti bisa menafsirkan sejuta hal dibaliknya.
To: Nonick Chayank
2008/03/27
22:18
With all of my heart,
And all of my soul.
I Love You…
From: Ooh-ku
Ia mencium keningku dengan sayang. Dan untuk kesekian kalinya, aku membalas dengan mencium pipinya yang harum. Untuk kesekian kalinya pula, aku merasa bahagia di sisinya. Dan aku mencintainya.
To: In
2008/03/27
22:20
Wah…touch bgt!!
Gila lo! Ou, jadi paz thu ketemu
Pak Alex yha?!
Btw, kapan loe posted-nya?
Aq koq baru liat ni hari…?
From: Ephe
Cerita ini terinspirasi dari Pak Alex, dan dipersembahkan buat Adi
Saturday, June 06, 2009
Berjuanglah demi Cinta
Tertawaku berbaur dalam biru
Setitik asa terpanjat di setiap helaan nafasku
Rindu pun membeluenggu
Dan jika menangis pun, aku menolak disebut pilu
Ini bukanlah nestapa
Tapi ini cinta
Yang sedang dalam fasenya untuk membuka mata
Yang sengaja mengambil adegan fana
Untuk menguji semua ceria dan bahagia
Katika ku menyusup matanya dalam layar
Gambar baik itu menguatkan
Memberiku harapan, dan berteriak;
“Langkahmu untuk mempertahanku sudah benar”
Ketika ku berdoa pada Tuhan yang kupercaya
Kusebut nama-Nya
Dan seolah Tuhan menghantar kepedulianku padamu
Membelaimu, dan menguatkanmu
Ketika ku menyusup dalam mimpiku,
Kamu menghampiriku dan memelukku
Memberi hawa bahwa ini akan dapat dilalui secepatnya
Tak lupa, kamu mengecupkan sayang
Dan mengibaskan risau hati dengan senyum
Ketika ku hirup udara setiap pagi,
Angin membawa pesanmu untuk jangan pernah menyerah
Bias cahaya membawaku dalam jernih pikiranmu
Dan menyampaikan salam “Berjuanglah demi cinta”
Langit biru pun menitikkan hujan,
Menandakan bahwa di setiap tetes airnya,
Mewakili bagian rasa rindu di hatimu yang menyanyangiku
Ketika aku berjuang atas nama cinta,
Di gedung aku menginjakkan kaki, di situlah kamu
Aku bisa merasakan kehadiranmu
Merasakan tanganmu yang entah dimana berusaha menggapai diriku
Hatimu yang menjerit
Memanggil namaku untuk duduk dalam naungan cintamu
Tubuhmu seolah berontak ingin bersanding dengan diriku
Aku mendengarmu,
Dan merasakan betapa rindunya kamu akanku
Hatiku,
Begitu kamu biasa memanggilku
Aku akan menggenggam jemarimu,
Biar garis-garis kehidupan tangan ini menyatu
Aku akan disampingmu sampai akhir.
Karena kamulah hatiku
Untuk Adi, Oohku
18 Desember 08
Setitik asa terpanjat di setiap helaan nafasku
Rindu pun membeluenggu
Dan jika menangis pun, aku menolak disebut pilu
Ini bukanlah nestapa
Tapi ini cinta
Yang sedang dalam fasenya untuk membuka mata
Yang sengaja mengambil adegan fana
Untuk menguji semua ceria dan bahagia
Katika ku menyusup matanya dalam layar
Gambar baik itu menguatkan
Memberiku harapan, dan berteriak;
“Langkahmu untuk mempertahanku sudah benar”
Ketika ku berdoa pada Tuhan yang kupercaya
Kusebut nama-Nya
Dan seolah Tuhan menghantar kepedulianku padamu
Membelaimu, dan menguatkanmu
Ketika ku menyusup dalam mimpiku,
Kamu menghampiriku dan memelukku
Memberi hawa bahwa ini akan dapat dilalui secepatnya
Tak lupa, kamu mengecupkan sayang
Dan mengibaskan risau hati dengan senyum
Ketika ku hirup udara setiap pagi,
Angin membawa pesanmu untuk jangan pernah menyerah
Bias cahaya membawaku dalam jernih pikiranmu
Dan menyampaikan salam “Berjuanglah demi cinta”
Langit biru pun menitikkan hujan,
Menandakan bahwa di setiap tetes airnya,
Mewakili bagian rasa rindu di hatimu yang menyanyangiku
Ketika aku berjuang atas nama cinta,
Di gedung aku menginjakkan kaki, di situlah kamu
Aku bisa merasakan kehadiranmu
Merasakan tanganmu yang entah dimana berusaha menggapai diriku
Hatimu yang menjerit
Memanggil namaku untuk duduk dalam naungan cintamu
Tubuhmu seolah berontak ingin bersanding dengan diriku
Aku mendengarmu,
Dan merasakan betapa rindunya kamu akanku
Hatiku,
Begitu kamu biasa memanggilku
Aku akan menggenggam jemarimu,
Biar garis-garis kehidupan tangan ini menyatu
Aku akan disampingmu sampai akhir.
Karena kamulah hatiku
Untuk Adi, Oohku
18 Desember 08
Di daun pilu aku bersanding bersamamu
Kemilaunya memantul di sisi hatiku yang tersipu, tersanjung pemaklumanmu
Aku hanya bisa percaya seperti mengetahui getah buah ara
Begitulah aku mengenalmu
Menajamkan mata nurani dan kibasan emosi yang sarat berisi
Rindukan batas si atas awan agar kugapai percayamu meyakinkan
Seluasnya sanubari, tingginya asa ini
Melompat, menjangkau semua inginku
Lolongan, kerinduan beribu-ribu kau sampaikan
Lengkapilah
Segala mimpi yang diuntai doa dirangkai percaya
Kita ada
Kan menjadi nyata
Riuhkan senyum kita berdua
24 Maret 09
Th. Indriyani Santoso
Ditulis untuk yang tersayang ; Adi Pradana
Kemilaunya memantul di sisi hatiku yang tersipu, tersanjung pemaklumanmu
Aku hanya bisa percaya seperti mengetahui getah buah ara
Begitulah aku mengenalmu
Menajamkan mata nurani dan kibasan emosi yang sarat berisi
Rindukan batas si atas awan agar kugapai percayamu meyakinkan
Seluasnya sanubari, tingginya asa ini
Melompat, menjangkau semua inginku
Lolongan, kerinduan beribu-ribu kau sampaikan
Lengkapilah
Segala mimpi yang diuntai doa dirangkai percaya
Kita ada
Kan menjadi nyata
Riuhkan senyum kita berdua
24 Maret 09
Th. Indriyani Santoso
Ditulis untuk yang tersayang ; Adi Pradana
Tentang Manohara
Tragis memang jika menilik nasib Manohara yang baru beranjak dewasa dan dinikahi oleh Pangeran Negeri Seberang. Wajah ayunya kini mengisi semua acara talk-show di TV. Semuanya membicarakan Manohara, sang Puteri yang disiksa oleh suaminya sendiri.
Orangtua siapa yang tidak bangga, tidak berbesar hati, dan sangat senang sekali menerima lamaran Pangeran dari Negeri Seberang. Seolah memanfaatkan kecantikan dan keelokan wajah anak daranya yang belum genap 17 tahun, sang Mama rela memberikan anaknya pada Pangeran Kelantan untuk diperisteri. Tentunya dengan membumbungkan harapan, anaknya akan dikasihi dan hidup serba berkecukupan bersanding dalam keluarga istana. Namun apa yang mau dikata, entah karena terburu-buru menerima pinangan sang Pangeran, ataukah memang belum siap mental Mano untuk dinikahkan, beginilah jadinya.
Rumor penyiksaan secara seksual dan kekerasan dalam rumah tangga kepada Mano membuat geger publik beberapa waktu yang lalu. Nyonya Daisy, ibu Manohara sibuk riwa-riwi di stasiun-stasiun TV menangis mengkhawatirkan keadaan Manohara yang saat itu masih simpang-siur beritanya. Berminggu-minggu kabar itu beredar, muncullah sebuah cibiran sebagai konsekuensi publik karena Nyonya Daisy telah membeberkan perkara penyiksaan dalam pernikahan Manohara. Publik seolah memberikan feedback pada apa yang dikeluhkannya. Siapa suruh ia menikahkan anaknya yang masih belia. Kenapa Mano dilepaskan begitu saja seolah dijual. Terbungkam mulut Nyonya Daisy dan iapun hanya bisa diam dan menunggu pihak-pihak yang tengah mengusahakan pembebasan Manohara.
Sekarang, setelah Mano berhasil kabur dari suaminya dan kembali ke Indonesia, seolah lupa akan gugatan terkait masalah keselamatan anaknya, Nyonya Daisy menikmati roadshow bergilir dari satu talkshow ke talkshow lain, bermisi mau mengungkap ketidakadilan dan penyiksaan pada diri Mano. Lho, ini bagaimana. Bukannya malah melakukan visum, malah pameran kesana-sini. Diundang talkshow di semua stasiun TV hadir, namun diundang Mabes POLRI berkaitan dengan penyidikan kasus yang dilaporkannya malah mangkir... Kalau mau mengungkap kasus kekerasan yha cepat visum dan diurus ke kantor polisi, bukannya malah ribut cari perhatian di TV. Hingga publik merasa bosan karena pemberitaannya sudah over expose.
Saya rasa, tidak semudah itu mengungkap kasus penyiksaan dan KDRT dalam rumah tangga Mano. Berurusan dengan keluarga kerajaan, apalagi dengan kekuasaan yang lebih superior daripada kuasa Mano dan ibunya sebagai seorang warga negara Indonesia biasa. Mereka hanya bisa pasrah dengan sistem peradilan Negara dalam menuntut hak dan keadilan. Pastilah dari dalam hati kecil Nyonya Daisy ataupun Mano terselip rasa inferior dalam menghadapi kasus ini. Yang dipertaruhkan adalah harga diri, dan nama baik. Tapi, diatas itu, ada yang namanya uang, dan power.
Jika Mano dan ibunya berhasil memenangkan kasus ini, maka Mano akan dikembalikan pada ibunya di Indonesia. Mano akan kembali memperoleh kemerdekaan dan kebebasannya. Namun, jika mereka kalah, Mano akan kembali lagi dikurung di ‘istana kebesaran’ keluarga suaminya dan yang lebih parah lagi, Mano akan terus dan kembali disiksa bahkan akan lebih parah daripada sebelumnya.
Saya hanya bisa mendukung dan membantu lewat doa. Yang perlu saya tegaskan disini, kasus Mano ini adalah satu dari sebagian besar kasus kekerasan pada wanita. Saya tahu, di dunia Timur ini, bagaimanapun kebebasan dan penghormatan bagi wanita belum terlaksana dengan baik. Wanita belum mendapat tempat yang cukup berharga dalam realita hidup sehari-hari. Dan saya sadar, wanita berusaha untuk membuktikan dirinya dan merealisasikan apa yang ada dipikirannya, namun masyarakat kita sudah terpatri oleh tradisi yang memang menomor-duakan wanita. Sekeras apapun kaum hawa berusaha menunjukkan intensitasnya dan partisipasinya dalam kehidupan ini, sangat disayangkan, hal itu tak diimbangi dengan keterbukaan mata masyarakat tentang kuatnya kita sebagai wanita.
Wanita, buktikan dirimu untuk dunia ini. Karena tanpamu, tak akan ada dunia seperti ini.
Orangtua siapa yang tidak bangga, tidak berbesar hati, dan sangat senang sekali menerima lamaran Pangeran dari Negeri Seberang. Seolah memanfaatkan kecantikan dan keelokan wajah anak daranya yang belum genap 17 tahun, sang Mama rela memberikan anaknya pada Pangeran Kelantan untuk diperisteri. Tentunya dengan membumbungkan harapan, anaknya akan dikasihi dan hidup serba berkecukupan bersanding dalam keluarga istana. Namun apa yang mau dikata, entah karena terburu-buru menerima pinangan sang Pangeran, ataukah memang belum siap mental Mano untuk dinikahkan, beginilah jadinya.
Rumor penyiksaan secara seksual dan kekerasan dalam rumah tangga kepada Mano membuat geger publik beberapa waktu yang lalu. Nyonya Daisy, ibu Manohara sibuk riwa-riwi di stasiun-stasiun TV menangis mengkhawatirkan keadaan Manohara yang saat itu masih simpang-siur beritanya. Berminggu-minggu kabar itu beredar, muncullah sebuah cibiran sebagai konsekuensi publik karena Nyonya Daisy telah membeberkan perkara penyiksaan dalam pernikahan Manohara. Publik seolah memberikan feedback pada apa yang dikeluhkannya. Siapa suruh ia menikahkan anaknya yang masih belia. Kenapa Mano dilepaskan begitu saja seolah dijual. Terbungkam mulut Nyonya Daisy dan iapun hanya bisa diam dan menunggu pihak-pihak yang tengah mengusahakan pembebasan Manohara.
Sekarang, setelah Mano berhasil kabur dari suaminya dan kembali ke Indonesia, seolah lupa akan gugatan terkait masalah keselamatan anaknya, Nyonya Daisy menikmati roadshow bergilir dari satu talkshow ke talkshow lain, bermisi mau mengungkap ketidakadilan dan penyiksaan pada diri Mano. Lho, ini bagaimana. Bukannya malah melakukan visum, malah pameran kesana-sini. Diundang talkshow di semua stasiun TV hadir, namun diundang Mabes POLRI berkaitan dengan penyidikan kasus yang dilaporkannya malah mangkir... Kalau mau mengungkap kasus kekerasan yha cepat visum dan diurus ke kantor polisi, bukannya malah ribut cari perhatian di TV. Hingga publik merasa bosan karena pemberitaannya sudah over expose.
Saya rasa, tidak semudah itu mengungkap kasus penyiksaan dan KDRT dalam rumah tangga Mano. Berurusan dengan keluarga kerajaan, apalagi dengan kekuasaan yang lebih superior daripada kuasa Mano dan ibunya sebagai seorang warga negara Indonesia biasa. Mereka hanya bisa pasrah dengan sistem peradilan Negara dalam menuntut hak dan keadilan. Pastilah dari dalam hati kecil Nyonya Daisy ataupun Mano terselip rasa inferior dalam menghadapi kasus ini. Yang dipertaruhkan adalah harga diri, dan nama baik. Tapi, diatas itu, ada yang namanya uang, dan power.
Jika Mano dan ibunya berhasil memenangkan kasus ini, maka Mano akan dikembalikan pada ibunya di Indonesia. Mano akan kembali memperoleh kemerdekaan dan kebebasannya. Namun, jika mereka kalah, Mano akan kembali lagi dikurung di ‘istana kebesaran’ keluarga suaminya dan yang lebih parah lagi, Mano akan terus dan kembali disiksa bahkan akan lebih parah daripada sebelumnya.
Saya hanya bisa mendukung dan membantu lewat doa. Yang perlu saya tegaskan disini, kasus Mano ini adalah satu dari sebagian besar kasus kekerasan pada wanita. Saya tahu, di dunia Timur ini, bagaimanapun kebebasan dan penghormatan bagi wanita belum terlaksana dengan baik. Wanita belum mendapat tempat yang cukup berharga dalam realita hidup sehari-hari. Dan saya sadar, wanita berusaha untuk membuktikan dirinya dan merealisasikan apa yang ada dipikirannya, namun masyarakat kita sudah terpatri oleh tradisi yang memang menomor-duakan wanita. Sekeras apapun kaum hawa berusaha menunjukkan intensitasnya dan partisipasinya dalam kehidupan ini, sangat disayangkan, hal itu tak diimbangi dengan keterbukaan mata masyarakat tentang kuatnya kita sebagai wanita.
Wanita, buktikan dirimu untuk dunia ini. Karena tanpamu, tak akan ada dunia seperti ini.
Wanita Seseorang, atau Sesuatu?
Meskipun banyak membicarakan tentang cinta, saya tetap menjujung tinggi feminisme dan masih terus menghendaki emansipasi yang ditegakkan. Mengapa? Karena sebagai seorang wanita selain mematuhi kodratnya untuk menjadi pendamping hidup bagi laki-laki, saya merasa wanita perlu menunjukkan prestasinya dan eksistensinya di dunia ini.
Entah mengapa, hingga sekarang ini saya terus menerus merasakan kurang, kurang, dan kurang dalam menjalani hidup delapan belas tahun di dunia yang sudah beriklim emansipasi ini. Meskipun wanita sekarang sudah diijinkan sekolah, mengenyam pendidikan, memperoleh pekerjaan, bahkan memimpin sebuah organisasi atau perusahan, senantiasa hati saya menjerit tentang pendapat banyak orang tentang kelemahan wanita. Kelayakan dan penghormatan bagi wanita dikesampingkan. Entah itu didasarkan pada peraturan perusahaan, gelora hidup di era globalisasi ini, ataupun adat yang masih dipegang teguh.
Terima kasih untuk Bapak Soekarno, presiden pertama kita yang juga seorang idealis yang menuangkan kepeduliannya yang amat sangat untuk persamaan hak bagi wanita dalam buku karyanya bertajuk “Sarinah”. Buku itu saya temukan di rak paling atas tempat buku-buku papa saya dan sudah lama tak tersentuh. Bukunya sudah kuning, berdebu, dan tentunya agak bau. Namun, saya tertarik membacanya karena aura emansipasi di dalamnya sudah terpancar begitu saya membaca kata-per kata pada bab pertama.
Menanggapi apa yang ditulis Bung Karno kurang lebih lima puluh tahun yang lalu, ternyata perkembangan jaman seiring puluhan tahun terlewati, keadaan Sarinah-Sarinah di Indonesia boleh dikatakan berkembang dari luar, namun sangat mengiris hati jika ditelisik lebih jauh dan dalam.
Jaman boleh berkembang. Tekhnologi boleh kian hari kian muthakir. Pandangan manusia juga lebih maju. Tapi, seiring perkembangan itu wanita semakin tenggelam dalam kekelaman masa. Harapan, angan-angan untuk maju telah terwujudkan. Tetap saja, wanita semakin direndahkan.
Pemberlakuan kontrak kerja mempersempit ruang bagi wanita yang ingin menikah dan punya anak. Mereka terikat kontrak sehingga melulu menunda pernikahan sampai kontrak itu selesai. Perusahaan juga sedikit kejam pada wanita dimasa hamil dan melahirkan. Tenggat waktu pulih setelah melahirkan tak terbayar dengan waktu cuti yang pendek. Wanita senantiasa menanggung beban, beban, dan tanggung jawab di setiap geraknya.
Tenaga kerja wanita yang dikirim ke luar negeri dan dijuluki Pahlawan Devisa bagi negara tak luput menjadi sasaran penganiayaan bahkan pelecehan seksual oleh majikannya sendiri. Apakah ini yang dinamakan emansipasi? Para TKW korban penganiayaan itupun sangat lemah dimata hukum dan jarang berani mnyeruakkan kasusnya dihadapan publik. Mereka hanya bisa pasrah. Terima perlakuan majikan, atau tidak digaji. Uang, masalah ekonomi yang mereka hadapi menjadi sebab kerelaan diri mereka untuk diinjak-injak dan takut menuntut hak yang selayaknya bagi hidup mereka yang semesstinya mereka dapatkan.
Eksploitasi terjadi bukan hanya milik tenaga wanita saja, tapi juga tubuhnya. Eksploitasi terhadap wanita terjadi seiring berkembangnya jaman. Hal ini kalau boleh dibilang, bukan masalah baru. Wanita dianggap sebagai ‘sesuatu’ yang dapat menarik hati jika dipakai untuk promosi. Maka, dipasanglah iklan yang menampilkan lekuk-lekuk tubuh wanita yang indah untuk menarik hati pembeli. Entah itu iklan sabun mandi, sabun cuci, pasta gigi, operator seluler, barang-barang elektronik, permen, minuman penyegar, alat-alat kesehatan,s emua memajang wanita cantik dengan senyumannya yang menawan dan dijamin, produk yang ditawarkan akan laku.
Lebih ekstrim lagi jika kita membicarakan pelacuran anak gadis di bawah umur. Wajah lugu dan pikiran yang masih polos diracuni oleh paham-paham hidup enak secara praktis.Sungguh miris, karena paham itu ditanamkan orangtua mereka sendiri. Maka tak jarang kita temui orangtua yang tega menjual anaknya kepada mucikari-mucikari ibukota. Ya, anak gadis itu dijual. Dengan anggapan untuk mendapatkan hidup yang lebih layak dan untuk menghidupi orangtuanya di rumah. Tega yha... Namun itu adalah realita yang ada. Mereka digelimangi oleh kemewahan duniawi, menjadi konsumeris dan hedonis yang mewarnai kota-kota metropolitan. Sayang, kesenangan instan yang mereka dapatkan sama dengan perendahan harga dini wanita secara global.
Perkembangan jaman mendorong difusi kebudayaan. Sayangnya asimilasi yang terjadi semakin membuat kaum wanita semakin terinjak-injak. Budaya yang masuk mengajarkan life style baru, pergaulan bebas. Umum memang kalau kita membicarakan ini di dunia Barat. Namun, mengapa pola hidup seperti itu juga tumbuh subur di negara kita yang sangat menjunjung tinggi adat dan tradisi, peraturan yang begitu ketat tentang kesucian wanita sebelum menikah. Dimana budaya yang dijunjung tinggi itu? Seolah kebudayaan juga mengijinkan perendahan yang makin menjadi-jadi untuk kaum wanita. Disini seolah wanita adalah hanya ‘sesuatu’ barang saja. Tidak dihormati, dan dapat digunakan sesuka hati.
Anehnya, sadar atau tidak sadar, wanita bangga akan eksploitasi itu. Wanita berlapang dada dengan pandangan yang diberikan padanya. Seolah itu adalah hal yang biasa dan tidak apa-apa. Saya heran, betapa keras hati para wanita yang rela memberikan dirinya untuk dieksploitasi. Bayaran yang diterimanya tidak sebanding untuk membunuh semua pancaran ketegaran dan penghargaan yang ada pada dirinya. Mereka menunjukkan diri mereka rapuh dan lemah. Mereka seolah membiarkan mereka menjadi ‘sesuatu’, membiarkan dirinya menjadi sarana. Itu sama saja mereka membangun image menyedihkan atas nama perempuan.
Di saat jasa EO (Event Organizer) menjamur dimana-mana dan banyak anak muda (ABG wanita) menerima pekerjaan sampingan sebagai pagar ayu untuk menjamu tamu-tamu undangan perkawinan ataupun pesta ultah, saya diwanti-wanti dengan keras oleh papa dan family saya untuk jangan ikut-ikutan. Saya selalu bertanya-tanya dalam hati. Kenapa? Kenapa? Kenapa? Padahal selain bisa didandani cantik dan pinjam baju pesta bagus gratis, dengan itu saya bisa mendapatkan uang tambahan. Saya tentunya tidak perlu merepotkan orangtua dengan meminta uang jajan lagi. Saya bisa belajar untuk mandiri dan belajar kerja.
Ini adalah masalah didikan. Belajar bekerja bukan begitu caranya. Perlahan namun pasti, keluarga saya memberi pelajaran bagaimana sulitnya mencari uang. Keuletan, keterampilan, prestasi, sangat ditonjolkan. Bukan sekedar berdandan dan memasang senyum manis. Segala apa saja yang mudah, menjerumuskan kita pada segalanya yang instan. Dan tentunya mematikan daya akal budi kita sebagai manusia.
Sekarang saya tahu, papa saya, Oom saya, kakak perempuan saya, semua sayang saya. Mereka tidak mau saya direndahkan sebagai wanita. Mereka tidak mau saya membangun penilaian buruk terhadap diri saya sendiri. Mereka mendidik saya untuk menghormati diri saya sendiri. Mereka menjaga saya dari semua hal pencemaran diri sendiri dan kesenangan untuk direndahkan.
Maaf jika saya terlalu skeptis pada hal-hal yan saya sebutkan diatas. Ini adalah masalah pandangan. Dan setiap orang boleh berpendapat. Dan saya rasa, pandangan yang ditanamkan pada diri saya dan saya junjung tinggi sekarang, membawa motivasi dan semangat saya dalam menjalani apapun.
Mereka kolot. Terserah apa kata orang. Yang jelas, didikan mereka sangat berarti buat saya. Saya memang wanita. Saya adalah seseorang yang punya penghargaan dan penghormatan pada diri saya sendiri. Saya adalah ‘seseorang’, bukan ‘sesuatu’ sarana pemeriah dan penggembira, atau sarana untuk menjual barang. Saya adalah ‘seseorang’, bukan untuk dipamerkan, bukan untuk dijadikan sarana, namun saya hidup untuk berkarya dan menunjukkan eksistensi saya.
Terima Kasih untuk Papa, seorang yang sangat menyanyangi saya dan membuat saya berharga.
Papa, aku akan jadi ‘seorang’ wanita yang membanggakan buatmu.
Entah mengapa, hingga sekarang ini saya terus menerus merasakan kurang, kurang, dan kurang dalam menjalani hidup delapan belas tahun di dunia yang sudah beriklim emansipasi ini. Meskipun wanita sekarang sudah diijinkan sekolah, mengenyam pendidikan, memperoleh pekerjaan, bahkan memimpin sebuah organisasi atau perusahan, senantiasa hati saya menjerit tentang pendapat banyak orang tentang kelemahan wanita. Kelayakan dan penghormatan bagi wanita dikesampingkan. Entah itu didasarkan pada peraturan perusahaan, gelora hidup di era globalisasi ini, ataupun adat yang masih dipegang teguh.
Terima kasih untuk Bapak Soekarno, presiden pertama kita yang juga seorang idealis yang menuangkan kepeduliannya yang amat sangat untuk persamaan hak bagi wanita dalam buku karyanya bertajuk “Sarinah”. Buku itu saya temukan di rak paling atas tempat buku-buku papa saya dan sudah lama tak tersentuh. Bukunya sudah kuning, berdebu, dan tentunya agak bau. Namun, saya tertarik membacanya karena aura emansipasi di dalamnya sudah terpancar begitu saya membaca kata-per kata pada bab pertama.
Menanggapi apa yang ditulis Bung Karno kurang lebih lima puluh tahun yang lalu, ternyata perkembangan jaman seiring puluhan tahun terlewati, keadaan Sarinah-Sarinah di Indonesia boleh dikatakan berkembang dari luar, namun sangat mengiris hati jika ditelisik lebih jauh dan dalam.
Jaman boleh berkembang. Tekhnologi boleh kian hari kian muthakir. Pandangan manusia juga lebih maju. Tapi, seiring perkembangan itu wanita semakin tenggelam dalam kekelaman masa. Harapan, angan-angan untuk maju telah terwujudkan. Tetap saja, wanita semakin direndahkan.
Pemberlakuan kontrak kerja mempersempit ruang bagi wanita yang ingin menikah dan punya anak. Mereka terikat kontrak sehingga melulu menunda pernikahan sampai kontrak itu selesai. Perusahaan juga sedikit kejam pada wanita dimasa hamil dan melahirkan. Tenggat waktu pulih setelah melahirkan tak terbayar dengan waktu cuti yang pendek. Wanita senantiasa menanggung beban, beban, dan tanggung jawab di setiap geraknya.
Tenaga kerja wanita yang dikirim ke luar negeri dan dijuluki Pahlawan Devisa bagi negara tak luput menjadi sasaran penganiayaan bahkan pelecehan seksual oleh majikannya sendiri. Apakah ini yang dinamakan emansipasi? Para TKW korban penganiayaan itupun sangat lemah dimata hukum dan jarang berani mnyeruakkan kasusnya dihadapan publik. Mereka hanya bisa pasrah. Terima perlakuan majikan, atau tidak digaji. Uang, masalah ekonomi yang mereka hadapi menjadi sebab kerelaan diri mereka untuk diinjak-injak dan takut menuntut hak yang selayaknya bagi hidup mereka yang semesstinya mereka dapatkan.
Eksploitasi terjadi bukan hanya milik tenaga wanita saja, tapi juga tubuhnya. Eksploitasi terhadap wanita terjadi seiring berkembangnya jaman. Hal ini kalau boleh dibilang, bukan masalah baru. Wanita dianggap sebagai ‘sesuatu’ yang dapat menarik hati jika dipakai untuk promosi. Maka, dipasanglah iklan yang menampilkan lekuk-lekuk tubuh wanita yang indah untuk menarik hati pembeli. Entah itu iklan sabun mandi, sabun cuci, pasta gigi, operator seluler, barang-barang elektronik, permen, minuman penyegar, alat-alat kesehatan,s emua memajang wanita cantik dengan senyumannya yang menawan dan dijamin, produk yang ditawarkan akan laku.
Lebih ekstrim lagi jika kita membicarakan pelacuran anak gadis di bawah umur. Wajah lugu dan pikiran yang masih polos diracuni oleh paham-paham hidup enak secara praktis.Sungguh miris, karena paham itu ditanamkan orangtua mereka sendiri. Maka tak jarang kita temui orangtua yang tega menjual anaknya kepada mucikari-mucikari ibukota. Ya, anak gadis itu dijual. Dengan anggapan untuk mendapatkan hidup yang lebih layak dan untuk menghidupi orangtuanya di rumah. Tega yha... Namun itu adalah realita yang ada. Mereka digelimangi oleh kemewahan duniawi, menjadi konsumeris dan hedonis yang mewarnai kota-kota metropolitan. Sayang, kesenangan instan yang mereka dapatkan sama dengan perendahan harga dini wanita secara global.
Perkembangan jaman mendorong difusi kebudayaan. Sayangnya asimilasi yang terjadi semakin membuat kaum wanita semakin terinjak-injak. Budaya yang masuk mengajarkan life style baru, pergaulan bebas. Umum memang kalau kita membicarakan ini di dunia Barat. Namun, mengapa pola hidup seperti itu juga tumbuh subur di negara kita yang sangat menjunjung tinggi adat dan tradisi, peraturan yang begitu ketat tentang kesucian wanita sebelum menikah. Dimana budaya yang dijunjung tinggi itu? Seolah kebudayaan juga mengijinkan perendahan yang makin menjadi-jadi untuk kaum wanita. Disini seolah wanita adalah hanya ‘sesuatu’ barang saja. Tidak dihormati, dan dapat digunakan sesuka hati.
Anehnya, sadar atau tidak sadar, wanita bangga akan eksploitasi itu. Wanita berlapang dada dengan pandangan yang diberikan padanya. Seolah itu adalah hal yang biasa dan tidak apa-apa. Saya heran, betapa keras hati para wanita yang rela memberikan dirinya untuk dieksploitasi. Bayaran yang diterimanya tidak sebanding untuk membunuh semua pancaran ketegaran dan penghargaan yang ada pada dirinya. Mereka menunjukkan diri mereka rapuh dan lemah. Mereka seolah membiarkan mereka menjadi ‘sesuatu’, membiarkan dirinya menjadi sarana. Itu sama saja mereka membangun image menyedihkan atas nama perempuan.
Di saat jasa EO (Event Organizer) menjamur dimana-mana dan banyak anak muda (ABG wanita) menerima pekerjaan sampingan sebagai pagar ayu untuk menjamu tamu-tamu undangan perkawinan ataupun pesta ultah, saya diwanti-wanti dengan keras oleh papa dan family saya untuk jangan ikut-ikutan. Saya selalu bertanya-tanya dalam hati. Kenapa? Kenapa? Kenapa? Padahal selain bisa didandani cantik dan pinjam baju pesta bagus gratis, dengan itu saya bisa mendapatkan uang tambahan. Saya tentunya tidak perlu merepotkan orangtua dengan meminta uang jajan lagi. Saya bisa belajar untuk mandiri dan belajar kerja.
Ini adalah masalah didikan. Belajar bekerja bukan begitu caranya. Perlahan namun pasti, keluarga saya memberi pelajaran bagaimana sulitnya mencari uang. Keuletan, keterampilan, prestasi, sangat ditonjolkan. Bukan sekedar berdandan dan memasang senyum manis. Segala apa saja yang mudah, menjerumuskan kita pada segalanya yang instan. Dan tentunya mematikan daya akal budi kita sebagai manusia.
Sekarang saya tahu, papa saya, Oom saya, kakak perempuan saya, semua sayang saya. Mereka tidak mau saya direndahkan sebagai wanita. Mereka tidak mau saya membangun penilaian buruk terhadap diri saya sendiri. Mereka mendidik saya untuk menghormati diri saya sendiri. Mereka menjaga saya dari semua hal pencemaran diri sendiri dan kesenangan untuk direndahkan.
Maaf jika saya terlalu skeptis pada hal-hal yan saya sebutkan diatas. Ini adalah masalah pandangan. Dan setiap orang boleh berpendapat. Dan saya rasa, pandangan yang ditanamkan pada diri saya dan saya junjung tinggi sekarang, membawa motivasi dan semangat saya dalam menjalani apapun.
Mereka kolot. Terserah apa kata orang. Yang jelas, didikan mereka sangat berarti buat saya. Saya memang wanita. Saya adalah seseorang yang punya penghargaan dan penghormatan pada diri saya sendiri. Saya adalah ‘seseorang’, bukan ‘sesuatu’ sarana pemeriah dan penggembira, atau sarana untuk menjual barang. Saya adalah ‘seseorang’, bukan untuk dipamerkan, bukan untuk dijadikan sarana, namun saya hidup untuk berkarya dan menunjukkan eksistensi saya.
Terima Kasih untuk Papa, seorang yang sangat menyanyangi saya dan membuat saya berharga.
Papa, aku akan jadi ‘seorang’ wanita yang membanggakan buatmu.
2000 dan 2006
“ Umurnya mungkin hanya mencapai lima bulan lagi. Bisa diupayakan dengan operasi. Tapi dengan operasi presentase sembuhnya juga kurang menjanjikan. Cuma sepuluh persen. Dan resikonya, kalau operasi gagal, mungkin kita tak bakal bisa melihat Sani lagi.”
Dari kamar tempat aku berbaring aku mendengar Om dokter menjelaskan pada papaku di ruang tamu. Sekali lagi aku mendengar seruan menyeramkan yang mendengung menyatakan umurku hanya lima bulan lagi. Aku Sani. Usiaku di tahun 2000 ini menginjak tiga belas tahun. Perih rasanya dalam hatiku ini. Tapi, jauh lebih sakit yang kurasakan dalam raga. Aku mengidap semacam kanker otot yang membuatku sering sakit-sakitan. Nyeri di punggung, dan linu di pinggang, juga kaku-kaku di tangan dan kaki anggota gerakku. Aku sama sekali tak bisa menikmati masa-masa sekolahku seperti yang lain. Tak ada paduan suara, basket, ataupun drama. Tak ada pergi ke mal shopping bersama teman-temanku. Dan tak ada tawa canda sohib-sohib yang malam minggu menginap di rumahku. Tak ada semua itu. Hanya aku sendiri. Dan, aku sangat ingin sekali merasakan kebahagiaan masa remaja bersama teman-teman terdekat, dengan gembira. Tapi, aku tak bisa berontak ketika penyakitku ini menguasaiku untuk berbaring lemas dengan seluruh tubuh sakit di tempat tidurku.
Di rumah, aku tinggal bersama papa dan adik perempuanku satu-satunya yang manis. Tania namanya. Dia baru kelas dua SD dan sedang lucu-lucunya. Ehm...? Kau tanya ke mana mamaku? Mamaku meninggal tiga bulan setelah melahirkan Tania karena penyakit kanker otot semacam dengan penyakit yang kuderita ini. Malah kata dokter, penyakitku ini merupakan warisan turunan dari mamaku. Untung saja Tania yang manis dan cerdas itu tak juga mewarisi penyakit yang sama seperti diriku dan mama. Mama bisa mencapai usia empat puluh melawan penyakit mengerikan itu. Tapi, aku hanya punya umur lima bulan lagi. Agh, rasanya aku benar-benar sendiri menghadapinya. Aku tak punya siapa-siapa. Dan aku rasa, sebaiknya tak usah ada operasi itu, karena aku tak mungkin sembuh. Aku ingin cepat-cepat mati aja, nyusulin mama…
Malam sudah menjelang. Ada satu bintang terang menyinari kamarku dari jendela bergorden biru. Sudah lama, aku menyebutnya sebagai ‘bintang mama’. Dengan mengerahkan seluruh tenagaku menahan sakit, aku menggapai gorden biru untuk menutup jendela besar yang menjadi media utama angin malam yang dingin menyeruak masuk ke kamarku.
Zaaaarrrkkkhhh…..! Seseorang meompat masuk dari luar melalui jendela besar kamarku menimbulkan suara berisik.
“ AAAAAAAARRRRRHHHHHH…!!!!!” Aku berteriak sejadinya.
Sekarang orang itu sudah masuk di kamarku. Dia memakai baju kuning muda dengan grafiti warna putih keren banget. Dan celana gombrong. Tatanan rambutnya amat sangat aneh banget, lebih aneh dari makhluk UFO. Rambutnya agak gondrong dengan kriwis-kriwis di kanan-kirinya, juga belahan pinggir rambutnya dicat warna pirang kecoklatan. Ih…norak banget! Sumpah deh, bener-bener style aneh nggak ada duanya. Dan ternyata, orang itu COWOK… Yha, cowok sembilan belas tahunan kurasa.
“ Nyantai, gua bukan maling kok…!” Ucapnya ketika aku mulai akan berteriak lagi.
Aku terdiam entah kagum atau apa melihat sosok di hadapanku kini. Tampangnya sangat baik dan sama sekali nggak nunjukin kalo dia anggota gangster atau pencuri yang beraksi malam hari. Nah, sekarang dia mengulurkan tangannya padaku.
“ Hai... I’m Kenny. Remember me?”
Aku mengerutkan alis. Aku menyambut tangannya dan kami bersalaman. Agh, orang ini aneh. Ketemu aja nggak pernah, dia udah bilang ‘remember me’…?!
“ Hehehe... Tau nggak, bintang tu, mungkin bintang mama lo, buat lo….” Katanya lagi.
“ Iiihh…dari mana lo tau?! Sok tau banget ih…!”
Sekarang Kenny nyengir dan tertawa kecil. Ah..cowok ini kelihatan udah dewasa banget. Nggak tau deh, dari mana datangnya. Dia begitu enak dilihat! Hehehe.… Dan kayaknya dia bukan orang jahat kok.
“ Tau nggak sih, ntar lo bakal nolong banyak orang. Dan lo juga banyak bangkitin semangat orang yang sakit kayak lo….” Kenny menatap bintang itu dari jendela sementara aku menahan sakitku duduk di tepi tempat tidur.
“ Dari mana lo tau? Umur gue cuman tinggal lima bulan lagi tauk…. Lima bulan. Rasanya lebih baik gue mati sekarang aja, daripada papa ngabisin duit buat operasi, tapi akhirnya gue mati.… Eh, jangan-jangan lo malaikat yang mau jemput gue yha? Gue udah siap kok…. Bawa gue ke langit bareng mama!”
“ Ssssstttttt…” Kenny mendekatkan jari telunjuknya di mulutku, memberiku isyarat untuk diam.
“ Lo nggak bakalan mati, selama lo mau hidup. Selama lo percaya lo masih bisa hidup. Lihat tuh, bintang mama lo bersinar terang buat lo. Banyak orang yang butuh semangat dari lo nantinya agar mereka bisa terus hidup….” lanjutnya.
Aku amat bingung dengan apa yang dikatakan Kenny. Suaranya yang sabar dan tenang, membuatku merasa sepuluh ribu kali lebih nyaman meskipun sulit mencerna semua kata-katanya. Auranya menggerakkan simbol semangat yang ada dalam dadaku.
“ Kenny… dari mana lo tau itu bintang mamaku? Dari mana lo tau gue nggak bakalan mati…? Sekarang gue nggak tau dan pasrah aja mengenai hidup gue. Gue sama sekali nggak punya semangat. Gimana gue bisa dibutuhin banyak orang nantinya?? Gue cuman nggak mau nyusahin papa lagi, makanya gue kepingin cepet-cepet mati….”
“ Nggak. Lo nggak boleh punya pikiran kayak gitu. Papa lo berusaha biar lo hidup, karena mungkin dia tau lo bakal jadi orang yang mulia nantinya. Sekarang gue mau lo jangan kecewain papa ama adik lo. Berusahalah sembuh, dan berpikirlah kalo lo bakal sembuh.… Oke...? Gue pergi dulu.”
Dan entah bagaimana, si Kenny yang aneh itu meloncat keluar dari jendelaku. Lama baru aku bisa bangkit berdiri melawan sakit di otot pahaku, kutatap langit malam, Kenny menghilang. Selama beberapa malam, aku merenungkan semua perkataannya. Tentang aku yang nantinya akan menyemangati banyak orang, dan tentang keinginan untuk hidup. Ya, sekarang ada seruan dalam benakku, bahwa ‘aku ingin hidup’ dan ‘aku berusaha sembuh’. Dengan semangat itulah aku mulai menjalani seratus hariku sebelum aku menjalani operasi. Di malam-malam yang gelap dan dingin dalam kamarku, ada sebagian dari dalam diriku yang mengharapkan sosok Kenny aneh yang tak jelas itu datang kembali. Sampai sekarang aku hanya bisa meyakini kalau Kenny itu adalah malaikat pembangkit semangat yang dikirimkan Tuhan untukku. Ehm...jika suatu saat dia datang lagi, pasti akan kutanya siapa sebenarnya dia, dan dari mana asalnya….
ddd
Ini malam terakhirku sebelum menjalani operasi. Ruangan kamar rumah sakit yang bernuansa putih tampaknya tak begitu bersahabat denganku. Karena setiap kali aku dirawat di rumah sakit karena penyakitku ini, tembok-tembok rumah sakit yang putih pucat, serta bau obat khas rumah sakit memberi kesan seolah ingin menelanku bulat-bulat. Adikku, Tania dan papa baru saja pulang setelah menjenguk dan memberi semangat padaku. Tania barusan menunjukkan hasil ulangan matematika yang mendapatkan nilai seratus dengan wajah bangga imutnya padaku. Dan Tania berjanji dia akan mendapatkan nilai seratus di setiap ulangannya jika aku berhasil sembuh dan bisa menemaninya bermain puzzle. Walaupun sekarang aku lebih ingin hidup daripada mati, ehm...tapi dalam hatiku masih rapuh.
Pintu kamar rumah sakit yang aku tempati bergoyang ke dalam, ada seseorang yang masuk ke kamar perawatanku yang berisikan dua orang ini. Jam besuk telah usai, paling itu hanya perawat yang memberikan obat sebelum tidur.
Tapi dugaanku salah. Di sini, Kenny, sang cowok dewasa pembangkit semangatku itu berdiri di hadapanku. Kali ini mengenakan T-shirt hijau muda cerah. Rambutnya sama seperti saat pertama kali ia menemuiku, berantakan dan di tengah belahan pinggirnya juga disemir pirang kecoklatan. Sebuah benda elektronik seperti ponsel kecil dan mewah tampak dikalungkan di lehernya, menggantung sampai ke dadanya. Kenny tersenyum padaku.
“ Hai… I’m Kenny. Remember me?” tanyanya, sambil mengambil kursi untuk duduk di samping tempat tidurku.
“ Hallo, Kak Kenny.” Sapaku sambil juga tersenyum.
“ Gimana hari ini...?” tanyanya.
“ Makasih, kasih gue semangat kemaren. Gue jadi lebih optimis kalo gue bakal sembuh. Besok gue operasi lhoh…!”
“ Iya, gue tauk…. Eh, liat cewek sebelah nggak?!” Kenny menunjuk seseorang cewek yang sekamar denganku beberapa hari ini. Rambutnya sudah tak banyak lagi, kuduga karena chemotherapy yang dijalaninya. Dan hobby-nya hanya bermain tamagochi setiap hari.
“ Kenapa emang? Papa bilang dia juga kanker...,” jawabku, sedikit melirik ranjang di sebelahku, melihat cewek itu tidur pulas ditemani boneka kodok kesayangannya.
“ Ntar dia bakal jadi sohib lo…. Sohib yang nggak kepisahin malah. Dia sama lo ntar bakal nolong banyak orang….” Bukan sekali ini Kenny menjelaskan hal-hal masa depanku yang sama sekali aku nggak ngerti.
“ Kak.. Thanks udah nyemangatin gue. Walaupun sebenernya gue nggak tau apa lo bilang tu bener atau nggak. Gue tetep ngerasa nyaman, dan punya temen…. Sebenernya malem ni gue takut banget coz besok gue operasi. Operasi yang bakal jadi tolak ukur kehidupan gue nantinya.... Gue seneng banget malem ini lo ada di sini, Kak.”
Pandangan kami bertemu. Ada kekaguman menyelusup di hatiku untuk sosok Kenny satu ini. Penampilannya yang dewasa, tapi tetap bisa membuatku nyaman dan punya teman. Tak ada sikap merendahkan. Kenny menyemangatiku tanpa ada rasa kasihan. Itulah, yang membuatku bangkit.
“ Eh, di rumah sakit ternyata juga ada bintang mama lo yha... Tuh, liat. Mama lo juga nyemangatin lo sebelum operasi. Gue yakin dia mau bilang kalau operasi lo bakal berhasil.…” Kenny berkata padaku saat menatap langit luar dengan satu bintang di antara ratusan bintang yang bersinar lebih terang. Aku tersenyum.
“ Lo nggak mau jadi awan...? Awan yang kayaknya rapuh, tapi dia bisa mempengaruhi banyak orang dengan hujan, atau dengan kecerahan.… Lo harus tahu, lo nggak selamanya lemah. Lo boleh rapuh, tapi lo bisa berguna buat banyak orang. Oke...?! Dan satu lagi. Lo nggak bakalan mati, selama lo mau hidup….” Diam sejenak menyelimuti antara aku dan Kenny. Dan akhirnya….
“ Gue mesti pergi dulu sekarang. Gue percaya 100% lo bisa sembuh... Bye...” Katanya, menghampiri pintu kamar rawat inapku.
“ Tunggu…!!! Kenny, sebenernya lo siapa??” Aku sedikit berteriak.
Kenny membalikan badannya, dan tersenyum dengan senyum yang memamerkan kedua lesung pipitnya, dan berucap;
“ Gue soul mate lo….”
Lalu Kenny berjalan menyusuri jalan keluar dari kamarku, meninggalkan semangat membaraku untuk sembuh, sekaligus meninggalkan keheranan yang sangat di sudut hatiku ini.
ddd
Ini tahun 2006. Aku sudah berumur sembilan belas tahun. Aku bisa melewati tahap tersulit dalam hidupku. Akhirnya aku sembuh. Aku bisa melanjutkan sekolah, dan menemani adikku bermain puzzle sekaligus tempatnya memamerkan nilai seratusnya. Sekarang aku punya sahabat. Sahabat sangat karib, namanya Rosi. Ia suka banget boneka kodok. Dulunya dia seperti aku, terkungkung dalam keputusasaan menghadapi kanker hati yang menggerogotinya. Tapi akhirnya, sepertiku, karena ia percaya dia akan sembuh dan keinginannya yang kuat untuk hidup, dia sembuh. Mulai saat itu, aku bekerja membantu di organisasi sosial remaja. Untuk membantu menyemangati semua remaja menghadapi masalahnya. Sekarang aku jadi berguna untuk orang lain. Yah, karena aku ingin benar-benar hidup!
Awan putih berarak menghiasi birunya langit siang hari ini. Benar-benar cerah. Aku suka awan yang seperti diriku. Aku berjalan penuh semangat menuju ruangan rapat di organisasi sosial remaja. Rencananya, kami akan mengunjungi panti rehabilitasi narkoba dan mencoba memberi penyuluhan. Ada kabar menggembirakan hari ini, tadi Rosi mengirimkan SMS untukku yang isinya, hari ini akan ada seseorang baru yang akan menjadi anggota organisasi kami.
Ruangan rapat sudah separuh penuh berisi orang-orang, dan aku sibuk mencari Rosi di antara banyak orang peduli remaja itu. Ups..ada seseorang menghampiriku. Ia mengenakan T-shirt hijau muda. Ponsel berkameranya digantungkan di lehernya. Rambutnya seperti gaya cowok-cowok masa kini yang berantakan tapi keren. Di tengah belahan pinggirnya juga disemir pirang kecoklatan. Orang itu tersenyum padaku, menampilkan kedua lesung pipitnya.
“ Hai. I’m Kenny. Remember me?” Katanya padaku.
Aku sedikit mengeryitkan alisku.
“ Hei... Aku Sani. Anggota baru yha...?!” Tanyaku dijawab dengan anggukan kepalanya dengan cepat. Sekejap, Rosi sudah berada di dekatku dan mengajakku mengobrol. Aku tahu, Kenny yang keren itu sedang memperhatikanku….
Aku tersenyum pada Kenny dari kejauhan. Dia membalas senyumku dengan tulus. Tampangnya sangat keren, dan, tak kupungkiri, ada gelombang cinta menjalariku kini. Ehm..tunggu! ‘I’m Kenny. Remember me?’ sepertinya aku ingat ucapan itu…?!
ddd
Dari kamar tempat aku berbaring aku mendengar Om dokter menjelaskan pada papaku di ruang tamu. Sekali lagi aku mendengar seruan menyeramkan yang mendengung menyatakan umurku hanya lima bulan lagi. Aku Sani. Usiaku di tahun 2000 ini menginjak tiga belas tahun. Perih rasanya dalam hatiku ini. Tapi, jauh lebih sakit yang kurasakan dalam raga. Aku mengidap semacam kanker otot yang membuatku sering sakit-sakitan. Nyeri di punggung, dan linu di pinggang, juga kaku-kaku di tangan dan kaki anggota gerakku. Aku sama sekali tak bisa menikmati masa-masa sekolahku seperti yang lain. Tak ada paduan suara, basket, ataupun drama. Tak ada pergi ke mal shopping bersama teman-temanku. Dan tak ada tawa canda sohib-sohib yang malam minggu menginap di rumahku. Tak ada semua itu. Hanya aku sendiri. Dan, aku sangat ingin sekali merasakan kebahagiaan masa remaja bersama teman-teman terdekat, dengan gembira. Tapi, aku tak bisa berontak ketika penyakitku ini menguasaiku untuk berbaring lemas dengan seluruh tubuh sakit di tempat tidurku.
Di rumah, aku tinggal bersama papa dan adik perempuanku satu-satunya yang manis. Tania namanya. Dia baru kelas dua SD dan sedang lucu-lucunya. Ehm...? Kau tanya ke mana mamaku? Mamaku meninggal tiga bulan setelah melahirkan Tania karena penyakit kanker otot semacam dengan penyakit yang kuderita ini. Malah kata dokter, penyakitku ini merupakan warisan turunan dari mamaku. Untung saja Tania yang manis dan cerdas itu tak juga mewarisi penyakit yang sama seperti diriku dan mama. Mama bisa mencapai usia empat puluh melawan penyakit mengerikan itu. Tapi, aku hanya punya umur lima bulan lagi. Agh, rasanya aku benar-benar sendiri menghadapinya. Aku tak punya siapa-siapa. Dan aku rasa, sebaiknya tak usah ada operasi itu, karena aku tak mungkin sembuh. Aku ingin cepat-cepat mati aja, nyusulin mama…
Malam sudah menjelang. Ada satu bintang terang menyinari kamarku dari jendela bergorden biru. Sudah lama, aku menyebutnya sebagai ‘bintang mama’. Dengan mengerahkan seluruh tenagaku menahan sakit, aku menggapai gorden biru untuk menutup jendela besar yang menjadi media utama angin malam yang dingin menyeruak masuk ke kamarku.
Zaaaarrrkkkhhh…..! Seseorang meompat masuk dari luar melalui jendela besar kamarku menimbulkan suara berisik.
“ AAAAAAAARRRRRHHHHHH…!!!!!” Aku berteriak sejadinya.
Sekarang orang itu sudah masuk di kamarku. Dia memakai baju kuning muda dengan grafiti warna putih keren banget. Dan celana gombrong. Tatanan rambutnya amat sangat aneh banget, lebih aneh dari makhluk UFO. Rambutnya agak gondrong dengan kriwis-kriwis di kanan-kirinya, juga belahan pinggir rambutnya dicat warna pirang kecoklatan. Ih…norak banget! Sumpah deh, bener-bener style aneh nggak ada duanya. Dan ternyata, orang itu COWOK… Yha, cowok sembilan belas tahunan kurasa.
“ Nyantai, gua bukan maling kok…!” Ucapnya ketika aku mulai akan berteriak lagi.
Aku terdiam entah kagum atau apa melihat sosok di hadapanku kini. Tampangnya sangat baik dan sama sekali nggak nunjukin kalo dia anggota gangster atau pencuri yang beraksi malam hari. Nah, sekarang dia mengulurkan tangannya padaku.
“ Hai... I’m Kenny. Remember me?”
Aku mengerutkan alis. Aku menyambut tangannya dan kami bersalaman. Agh, orang ini aneh. Ketemu aja nggak pernah, dia udah bilang ‘remember me’…?!
“ Hehehe... Tau nggak, bintang tu, mungkin bintang mama lo, buat lo….” Katanya lagi.
“ Iiihh…dari mana lo tau?! Sok tau banget ih…!”
Sekarang Kenny nyengir dan tertawa kecil. Ah..cowok ini kelihatan udah dewasa banget. Nggak tau deh, dari mana datangnya. Dia begitu enak dilihat! Hehehe.… Dan kayaknya dia bukan orang jahat kok.
“ Tau nggak sih, ntar lo bakal nolong banyak orang. Dan lo juga banyak bangkitin semangat orang yang sakit kayak lo….” Kenny menatap bintang itu dari jendela sementara aku menahan sakitku duduk di tepi tempat tidur.
“ Dari mana lo tau? Umur gue cuman tinggal lima bulan lagi tauk…. Lima bulan. Rasanya lebih baik gue mati sekarang aja, daripada papa ngabisin duit buat operasi, tapi akhirnya gue mati.… Eh, jangan-jangan lo malaikat yang mau jemput gue yha? Gue udah siap kok…. Bawa gue ke langit bareng mama!”
“ Ssssstttttt…” Kenny mendekatkan jari telunjuknya di mulutku, memberiku isyarat untuk diam.
“ Lo nggak bakalan mati, selama lo mau hidup. Selama lo percaya lo masih bisa hidup. Lihat tuh, bintang mama lo bersinar terang buat lo. Banyak orang yang butuh semangat dari lo nantinya agar mereka bisa terus hidup….” lanjutnya.
Aku amat bingung dengan apa yang dikatakan Kenny. Suaranya yang sabar dan tenang, membuatku merasa sepuluh ribu kali lebih nyaman meskipun sulit mencerna semua kata-katanya. Auranya menggerakkan simbol semangat yang ada dalam dadaku.
“ Kenny… dari mana lo tau itu bintang mamaku? Dari mana lo tau gue nggak bakalan mati…? Sekarang gue nggak tau dan pasrah aja mengenai hidup gue. Gue sama sekali nggak punya semangat. Gimana gue bisa dibutuhin banyak orang nantinya?? Gue cuman nggak mau nyusahin papa lagi, makanya gue kepingin cepet-cepet mati….”
“ Nggak. Lo nggak boleh punya pikiran kayak gitu. Papa lo berusaha biar lo hidup, karena mungkin dia tau lo bakal jadi orang yang mulia nantinya. Sekarang gue mau lo jangan kecewain papa ama adik lo. Berusahalah sembuh, dan berpikirlah kalo lo bakal sembuh.… Oke...? Gue pergi dulu.”
Dan entah bagaimana, si Kenny yang aneh itu meloncat keluar dari jendelaku. Lama baru aku bisa bangkit berdiri melawan sakit di otot pahaku, kutatap langit malam, Kenny menghilang. Selama beberapa malam, aku merenungkan semua perkataannya. Tentang aku yang nantinya akan menyemangati banyak orang, dan tentang keinginan untuk hidup. Ya, sekarang ada seruan dalam benakku, bahwa ‘aku ingin hidup’ dan ‘aku berusaha sembuh’. Dengan semangat itulah aku mulai menjalani seratus hariku sebelum aku menjalani operasi. Di malam-malam yang gelap dan dingin dalam kamarku, ada sebagian dari dalam diriku yang mengharapkan sosok Kenny aneh yang tak jelas itu datang kembali. Sampai sekarang aku hanya bisa meyakini kalau Kenny itu adalah malaikat pembangkit semangat yang dikirimkan Tuhan untukku. Ehm...jika suatu saat dia datang lagi, pasti akan kutanya siapa sebenarnya dia, dan dari mana asalnya….
ddd
Ini malam terakhirku sebelum menjalani operasi. Ruangan kamar rumah sakit yang bernuansa putih tampaknya tak begitu bersahabat denganku. Karena setiap kali aku dirawat di rumah sakit karena penyakitku ini, tembok-tembok rumah sakit yang putih pucat, serta bau obat khas rumah sakit memberi kesan seolah ingin menelanku bulat-bulat. Adikku, Tania dan papa baru saja pulang setelah menjenguk dan memberi semangat padaku. Tania barusan menunjukkan hasil ulangan matematika yang mendapatkan nilai seratus dengan wajah bangga imutnya padaku. Dan Tania berjanji dia akan mendapatkan nilai seratus di setiap ulangannya jika aku berhasil sembuh dan bisa menemaninya bermain puzzle. Walaupun sekarang aku lebih ingin hidup daripada mati, ehm...tapi dalam hatiku masih rapuh.
Pintu kamar rumah sakit yang aku tempati bergoyang ke dalam, ada seseorang yang masuk ke kamar perawatanku yang berisikan dua orang ini. Jam besuk telah usai, paling itu hanya perawat yang memberikan obat sebelum tidur.
Tapi dugaanku salah. Di sini, Kenny, sang cowok dewasa pembangkit semangatku itu berdiri di hadapanku. Kali ini mengenakan T-shirt hijau muda cerah. Rambutnya sama seperti saat pertama kali ia menemuiku, berantakan dan di tengah belahan pinggirnya juga disemir pirang kecoklatan. Sebuah benda elektronik seperti ponsel kecil dan mewah tampak dikalungkan di lehernya, menggantung sampai ke dadanya. Kenny tersenyum padaku.
“ Hai… I’m Kenny. Remember me?” tanyanya, sambil mengambil kursi untuk duduk di samping tempat tidurku.
“ Hallo, Kak Kenny.” Sapaku sambil juga tersenyum.
“ Gimana hari ini...?” tanyanya.
“ Makasih, kasih gue semangat kemaren. Gue jadi lebih optimis kalo gue bakal sembuh. Besok gue operasi lhoh…!”
“ Iya, gue tauk…. Eh, liat cewek sebelah nggak?!” Kenny menunjuk seseorang cewek yang sekamar denganku beberapa hari ini. Rambutnya sudah tak banyak lagi, kuduga karena chemotherapy yang dijalaninya. Dan hobby-nya hanya bermain tamagochi setiap hari.
“ Kenapa emang? Papa bilang dia juga kanker...,” jawabku, sedikit melirik ranjang di sebelahku, melihat cewek itu tidur pulas ditemani boneka kodok kesayangannya.
“ Ntar dia bakal jadi sohib lo…. Sohib yang nggak kepisahin malah. Dia sama lo ntar bakal nolong banyak orang….” Bukan sekali ini Kenny menjelaskan hal-hal masa depanku yang sama sekali aku nggak ngerti.
“ Kak.. Thanks udah nyemangatin gue. Walaupun sebenernya gue nggak tau apa lo bilang tu bener atau nggak. Gue tetep ngerasa nyaman, dan punya temen…. Sebenernya malem ni gue takut banget coz besok gue operasi. Operasi yang bakal jadi tolak ukur kehidupan gue nantinya.... Gue seneng banget malem ini lo ada di sini, Kak.”
Pandangan kami bertemu. Ada kekaguman menyelusup di hatiku untuk sosok Kenny satu ini. Penampilannya yang dewasa, tapi tetap bisa membuatku nyaman dan punya teman. Tak ada sikap merendahkan. Kenny menyemangatiku tanpa ada rasa kasihan. Itulah, yang membuatku bangkit.
“ Eh, di rumah sakit ternyata juga ada bintang mama lo yha... Tuh, liat. Mama lo juga nyemangatin lo sebelum operasi. Gue yakin dia mau bilang kalau operasi lo bakal berhasil.…” Kenny berkata padaku saat menatap langit luar dengan satu bintang di antara ratusan bintang yang bersinar lebih terang. Aku tersenyum.
“ Lo nggak mau jadi awan...? Awan yang kayaknya rapuh, tapi dia bisa mempengaruhi banyak orang dengan hujan, atau dengan kecerahan.… Lo harus tahu, lo nggak selamanya lemah. Lo boleh rapuh, tapi lo bisa berguna buat banyak orang. Oke...?! Dan satu lagi. Lo nggak bakalan mati, selama lo mau hidup….” Diam sejenak menyelimuti antara aku dan Kenny. Dan akhirnya….
“ Gue mesti pergi dulu sekarang. Gue percaya 100% lo bisa sembuh... Bye...” Katanya, menghampiri pintu kamar rawat inapku.
“ Tunggu…!!! Kenny, sebenernya lo siapa??” Aku sedikit berteriak.
Kenny membalikan badannya, dan tersenyum dengan senyum yang memamerkan kedua lesung pipitnya, dan berucap;
“ Gue soul mate lo….”
Lalu Kenny berjalan menyusuri jalan keluar dari kamarku, meninggalkan semangat membaraku untuk sembuh, sekaligus meninggalkan keheranan yang sangat di sudut hatiku ini.
ddd
Ini tahun 2006. Aku sudah berumur sembilan belas tahun. Aku bisa melewati tahap tersulit dalam hidupku. Akhirnya aku sembuh. Aku bisa melanjutkan sekolah, dan menemani adikku bermain puzzle sekaligus tempatnya memamerkan nilai seratusnya. Sekarang aku punya sahabat. Sahabat sangat karib, namanya Rosi. Ia suka banget boneka kodok. Dulunya dia seperti aku, terkungkung dalam keputusasaan menghadapi kanker hati yang menggerogotinya. Tapi akhirnya, sepertiku, karena ia percaya dia akan sembuh dan keinginannya yang kuat untuk hidup, dia sembuh. Mulai saat itu, aku bekerja membantu di organisasi sosial remaja. Untuk membantu menyemangati semua remaja menghadapi masalahnya. Sekarang aku jadi berguna untuk orang lain. Yah, karena aku ingin benar-benar hidup!
Awan putih berarak menghiasi birunya langit siang hari ini. Benar-benar cerah. Aku suka awan yang seperti diriku. Aku berjalan penuh semangat menuju ruangan rapat di organisasi sosial remaja. Rencananya, kami akan mengunjungi panti rehabilitasi narkoba dan mencoba memberi penyuluhan. Ada kabar menggembirakan hari ini, tadi Rosi mengirimkan SMS untukku yang isinya, hari ini akan ada seseorang baru yang akan menjadi anggota organisasi kami.
Ruangan rapat sudah separuh penuh berisi orang-orang, dan aku sibuk mencari Rosi di antara banyak orang peduli remaja itu. Ups..ada seseorang menghampiriku. Ia mengenakan T-shirt hijau muda. Ponsel berkameranya digantungkan di lehernya. Rambutnya seperti gaya cowok-cowok masa kini yang berantakan tapi keren. Di tengah belahan pinggirnya juga disemir pirang kecoklatan. Orang itu tersenyum padaku, menampilkan kedua lesung pipitnya.
“ Hai. I’m Kenny. Remember me?” Katanya padaku.
Aku sedikit mengeryitkan alisku.
“ Hei... Aku Sani. Anggota baru yha...?!” Tanyaku dijawab dengan anggukan kepalanya dengan cepat. Sekejap, Rosi sudah berada di dekatku dan mengajakku mengobrol. Aku tahu, Kenny yang keren itu sedang memperhatikanku….
Aku tersenyum pada Kenny dari kejauhan. Dia membalas senyumku dengan tulus. Tampangnya sangat keren, dan, tak kupungkiri, ada gelombang cinta menjalariku kini. Ehm..tunggu! ‘I’m Kenny. Remember me?’ sepertinya aku ingat ucapan itu…?!
ddd
Fandy
Hawa pantai menyergapku pagi ini kala aku menyempatkan diri bangun pagi-pagi dan membuka jendela rumah baruku diantara tumpukan-tumpukan kardus yang masih belum rapi. Aku tersenyum. Langit yang masih biru, bau laut yang sampai ke hidungku, awan daerah pesisir yang putih tipis, serta matahari yang baru menampakkan semburat jingganya di horizon, batas antara langit dan laut. Indahnya..
Seumur hidup aku baru sekali ini pindah rumah. Dan dengan bangganya aku pamerkan rumah milikku dengan hasil kerja kerasku selama empat tahun dari mulai masuk kuliah. Yah, memang cicilan rumah ini baru lunas delapan tahun lagi, tapi aku tetap senang mempunyai rumah di perumahan pinggir pantai yang tenang ini. Meninggalkan rumah papa-mama memang nggak gampang. Karena bagaimanapun juga sudah duapuluh dua tahun aku bernaung di dalam rumah itu, tinggal bersama papa-mama, serta mengukir banyak kenangan dalam rumah itu. Dari aku bayi, mulai berjalan, masuk SD, mulai kencan pertama saat SMP kelas tiga, sampai lulus SMA, hingga lulus dari universitas dan mendapat pekerjaan tetap sebagai penerjemah sekarang ini. Yah..tapi bagaimanapun juga, mungkin sekarang adalah saatnya aku mandiri dan memulai kehidupanku sendiri.
Aku hendak berlari pagi hari ini. Setelah melewati sehari melelahkan menata rumah kemarin. Aku menyusuri jalan setapak perumahanku untuk mencapai daerah pantai yang tampaknya sudah ramai. Hawa pantai memang berbeda. Entah mengapa aku sangat suka sekali menatap gelombang ombak yang berbuih sampai ke daratan, aku juga suka melihat anak-anak kecil yang bermain pasir di pinggir pantai. Aku menikmati bau amis laut. Ketika aku memandang laut, seakan aku memandang sebuah kode yang sangat luas, tak terjabar dan tak terpecahkan. Aku tak pernah khawatir dengan gelombangnya, karena gelombangnya selalu seolah memberi jawaban akan pertanyaan-pertanyaan hatiku.
“ Awas, kak…”
Aku menengok. Segera saja aku singkirkan kakiku yang tidak sengaja menginjak senar laying-layang seorang bocah laki-laki kecil.
“ Maaf yha…” kataku merasa bersalah pada bocah itu.
Bocah itu mengangguk. Namun, dia tidak segera pergi berlalu meninggalkanku. Ia malah duduk di kayu-kayu dekat dermaga dan memandang kearah laut. Pandangan anak itu polos dengan mata yang berbinar-binar, seolah laut ini memang sesuatu yang dirindukannya.
“ Kamu kelas berapa…?” Tanyaku sambil ikut jongkok di sebelah bocah laki-laki itu.
“ Kelas 2 SD..” jawabnya sambil memandangku. Matanya hitam legam, sehitam rambutnya yang tebal.
“ Owh…nama kamu sapa?” Aku semakin ingin mengenal anak kecil itu.
“ Fandy.”
“ Ow. Rumahmu deket-deket sini yha?! Pasti tiap minggu main di sini yha…?”
“ He-eh.” Fandy mengangguk. “ Rumahku di Perumahan Olympus sebelah sana..” Fandy menunjuk arah yang berlawanan dengan arah rumahku.
Aku sempat memperhatikan arah tangan si Fendy menunjuk. Tidak ada satu perumahanpun di sana. Setahuku, tanah itu baru akan dibebaskan untuk mendirikan sebuah apartemen mewah yang proyeknya masih lima tahun lagi.
“ Bener, Fandy rumahnya situ?? Nggak salah…?” Mungkin bertanya seperti itu pada anak kecil agaknya terlalu memaksa, tapi aku penasaran aja.
“ Bener, kok…” Sekarang Fandy menatapku kembali. Sorot matanya dalaaammm…sekali. Di kesempatan ini aku memperhatikan Fandy. Kulitnya putih, matanya besar, rahangnya keras, dan bahunya kokoh. Fandy mengingatkanku akan Kay. Seseorang yang pernah mengisi hari-hariku jauh sebelum ini. Kay sangat mirip dengan Fandy. Bahu kokohnya mengingatkanku akan bahu Kay yang dulu pernah menjadi sandaranku. Dan sorot mata hitam yang dalam itu benar-benar sorot mata Kay yang sedang memandangku saat menyatakan cinta.
Ah..tapi mengapa tiba-tiba aku jadi teringat akan Kay,yha..?! Itu kan sudah jauh berlalu dan menjadi sebuah masa lalu.. Oke. Mia, tenanglah. Kamu hanya sedikit teringat aja.. Kamu nggak boleh nginget-nginget lagi..itu udah lama banget berlalu… Semua itu kenangan. Sekarang yang kuherankan, mengapa Fandy menunjuk arah yang kosong? Ahh…sudahlah. Hari ini aku harus memanfaatkan hari Minggu untuk menyelesaikan pengaturan rumah.
“ Fandy, kakak pulang dulu yha..” Kataku sambil tersenyum. Fandy membalas senyumku. Ia berdiri dan mencoba menerbangkan layang-layang naga-nya lagi.
lll
“ Allow….iyha, mah. Oke deh. Nanti Mia masak dheh. Jam setengah sebelas yha. OK. OK. C-ya ma….”
Aku mematikan ponselku dan menaruhnya di kantong celana pendekku. Sudah seminggu aku menempati rumah baruku. Minggu ini papa-mama akan berkunjung dan aku berjanji akan masak buat mereka.
Aku senang. Minggu pagi ini bisa jogging di pantai lagi. Langit biru yang sama, mentari dengan semburat jingganya, serta buih ombak cantik sampai ke darat. Dan…itu Fandy lagi. Dia sedang menulis di atas pasir dengan sebatang ranting kering. Aku tersenyum sampai mataku memincing melihatnya. Lucu sekali gayanya. Maka, aku menghampirinya.
“ Hai, Fandy…ngapain??”
Fandy menoleh. Dia juga tersenyum padaku. Agaknya hari ini memang dia sedang bahagia.
“ Lagi nulis huruf cina….” Jawabnya.
Kubaca beberapa huruf yang sudah diukirnya di pasir. Papa, mama, dan goresan ‘wo’ yang berarti aku. Semua goresan itu dinaungi dalam gambar hati menjadi satu.
“ Wah, pinter banget kamu. Siapa yang ngajarin?”
“ Papa.”
“ Wah, papamu keren yha. Di rumah juga kamu ngomong pakai bahasa mandarin?”
Fandy mengangguk. “ Iya. Mama sama Papa jago bahasa mandarinnya.. Tapi yang lebih jago thu Papa. Katanya, dari kecil Papa selalu ngomong pakai bahasa Mandarin..” Fandy menjelaskannya dengan antusias dengan gayanya yang lucu.
“ Wah…emang Papa kamu orang mana?”
“ Orang Medan.”
Aku terdiam sejenak, kemudian tersenyum lagi. Dalam angan-anganku terbersit lagi sosok Kay sebagai orang Medan yang sangat fasih berbahasa Mandarin dari kecil. Agh..tapi mengapa aku teringat kembali akan Kay?! Mengapa si Fandy kecil ini begitu mirip sama Kay…? Caranya berjalan dengan bahunya yang kokoh, juga cara Fandy memandangku dan berbicara menjelaskan sesuatu…
“ Eh, kakak namanya siapa sih..?” Fandy bertanya padaku, membuyarkan lamunanku.
“ Ah. Mia. Nama kakak Mia..”
“ Waduh.. nama kakak kayak nama mama… Kakak juga mirip banget sama mama….” Fandy berkata polos.
“ Ah, masak sih..?! Papa sama mama kamu nggak suka ke pantai yha? Kok kamu nggak bareng mereka…?” Tanyaku semakin penasaran setelah Fandy mengatakan aku mirip mamanya.
“ Ah, papa mama seneng banget kok, ama pantai. Makannya milih rumah di sini. Tapi papa sama mama sibuk terus sih..”
“ Aduh. Udah jam delapan. Kayaknya kakak udah harus pulang deh.. Fandy ati-ati yha, di sini…” Aku bangkit berdiri serta membersihkan pasir yang menempel di celana training-ku.
Sedetik sebelum aku meninggalkan Fandy dengan tulisan mandarinnya, Fandy memanggilku;
“ Kak…! Minggu depan aku ajak papa sama mama. Kakak ke sini yha…!” Katanya.
“ OK…” Kataku sambil berlari dan melambaikan tangan padanya.
lll
Minggu ini aku bersiap jogging lagi. Aku mengikat rambutku tinggi-tinggi, menyiapkan Ipod dengan lagu-lagu asyik buat jogging pagi ini. Aku sengaja bangun lebih awal pagi ini, aku terlanjur penasaran dengan si kecil Fandy. Yang entah mengapa mengingatkanku pada Kay.
Sampai di pingggir pantai, pandanganku menyapu ke seluruh arah mencari Fandy. Namun bocah lucu itu sepertinya belum datang. Aku duduk di bawah pohon kelapa, tempat kemarin Fandy menulis huruf-huruf mandarin yang sederhana. Di atas pasir, aku menggambar wajah seekor kucing. Yha, karena memang aku suka kucing.
“ Persis kayak gambar mama…”
Hampir saja aku terlonjak kaget. Fandy sudah berdiri di sebelahku. Kali ini dengan kaos biru dan celana pendek hitam. Fandy habis potong rambut.. Lucu. Aku tersenyum melihatnya.
“ Kakak suka banget ama kucing Fan… Jadi gambarnya yha gambar kucing. Hehehe..” Aku melanjutkan; “ Mana papa sama mama kamu? Katanya mau kamu ajak…?!”
“ Kak. Sorry. Hari ini papa mau ke rumahnya om Elbert, mau main basket. Tuh, mama sama papa nunggu di sana..” Kata Fendy.
Yah..semangatku jadi turun. Padahal aku sudah membayangkan bagaimana serunya mengobrol bersama mamanya Fandy yang katanya mirip sama aku. Namun, aku memperhatikan Fandy menunjuk. Di dekat dermaga sana ada dua orang sedang bergandengan. Yha, itu pasti papa dan mama Fandy. Dari belakang, mama Fandy berambut panjang belahan pinggir mengenakan rok motif bunga-bunga. Papa Fandy dari belakang kelihatan gagah dengan punggung lebar dan rambut hitam legam seperti rambut Fandy.
“ Oh, yha udah. Kamu mau pergi yha?! Kakak mau di sini bentar lagi.. Titip salam buat mama sama papa kamu yha…” Kataku masih sambil mendengarkan lagu-lagu dari ipod.
“ Bye kak Mia….”
Fandy lalu berlari menuju papa dan mamanya. Aku masih mengamati bocah kecil itu digandeng dengan mamanya yang katanya mirip aku. Lama baru keluarga kecil itu berbalik arah menghadapku. Aku menyipitkan mata untuk memperhatikannya. Mulutku terbuka perlahan. Mama Fandy sungguh mirip aku. Matanya lebar, postur tubuhnya juga nggak tinggi-tinggi amat. Aku menangkupkan tangan ke mulutku. Karena papanya Fandy sungguh benar-benar adalah Kay. Kay yang sudah tumbuh dan banyak berubah sejak SMA. Walaupun rambutnya masih hitam legam, bahunya masih kokoh seperti dulu, dan kostumnya adalah kaos basket seperti enam tahun yang lalu, tapi auranya adalah aura papa. Yha, papanya Fandy. Aku sungguh nggak bisa percaya dengan apa yang kulihat ini.. Apakah aku melihat masa depanku? Kalau benar itu masa depanku, ma wajah Fandy adalah perpaduanku dengan Kay.. Rambut hitam legam, sorot mata hitam dalam, dan bahu kokoh itu milik Kay. Sedangkan senyum polos, kulit putih, dan mata yang lebar adalah milikku… Yha Tuhan.
lll
Minggu depan walaupun dengan perasaan tak karuan, dan agak cemas, aku memberanikan diri berlari ke pantai. Udara yang hangat. Langit yang biru dengan awannya yang putih, serta semburat jingga mentari. Bukan itu yang kunantikan. Namun kehadiran Fandy. Ini sudah dua jam. Tepatnya jam delapan. Tapi aku belum melihat Fandy. Sejenak aku memejamkan mata menikmati angin yang begitu menggoyangkan daun pohon kelapa sehingga bergemersik indah.
Aku menyapukan pandanganku ke laut. Hei….siapa itu berdiri di pinggir pantai. Celana panjangnya ditekuk sampai batas lutut. Ia memakai kaos santai sekali. Dari belakang, punggungnya lebar dan indah sekali. Untuk kesekian kalinya, aku merindukan memeluk bahu kokoh Kay. Dan untuk pertama kalinya setelah lulus SMA, kenangan-kenangan indah akan Kay kembali mengusikku. Entah mengapa, memory indah itu datang kembali. Seperti sebuah film yang diputar kembali. Tentang pertama kalinya dia menyatakan cinta, kebersamaan kami di SMP, semua kenakalannya yang membuatku jatuh hati, gayanya saat main basket yang keren, juga sikap keras hatinya yang membuat semua harapan hancur, namun juga kemauannya yang sempat menyusun kembail puing-puing hati yang telah berserakan. Namun, semuanya dikalahkan oleh ego masing-masing.
Aku menerawang begitu lama memandangi birunya laut sampai aku tak sadar, ada seseorang yang duduk di sebelahku. Aku menghela nafas dan menoleh perlahan. Dan, air mata itu seketika menetes jatuh ke pipiku. Aku melihat Kay tersenyum. Wajahnya masih tidak berubah. Aku masih bisa merasakan sensasi sorot matanya yang dalam walaupun tertutup oleh kacamatanya. Rasanya seperti mengulang kejadian lima tahun lalu ketika aku masih duduk di kelas tiga SMA.
“ Terlambatkan buat minta maaf sekarang…”
Suara Kay yang sedikit serak. Seperti dulu… Suara ini sudah lama sekali tak kudengar. Sejak aku dan dia putus semuanya hancur dan meninggalkan banyak sakit hati. Bahkan dalam sapaanpun aku tak pernah mendengarnya. Bahkan, setelah putus, sorot mata Kay bukan sorot mata dalam. Melainkan sorot mata benci dan dingin.
Aku tersenyum pada Kay. Dan air mata ini sudah tak terbendung lagi. Bahkan jenjang SMApun kami tinggalkan dengan menyisakan sakit hati yang begitu mendalam dan dalam dendam. Kay merengkuhku ke pelukannya, seperti dulu. Aku menghela nafas. Panjang…. Kay masih bau segar sabun ivory seperti dulu.
“ Kay…maaf.” Kataku lirih dalam pelukannya.
Dan sepanjang pagi itu, aku menghabiskan waktu untuk berbincang dengan Kay. Dan bersandar pada bahu kokohnya seperti dulu lagi. Yha, aku suka pantai. Baru sekarang aku menemukan alasan kenapa aku suka pantai. Karena ini semua terjadi di pantai…
lll
Minggu ini tepat tanggal 31 Juli. Ulangtahunku. Aku tetap melakukan rutinitasku setiap Minggu, jogging ke pantai. Sudah sebulan aku jadian lagi dengan Kay. Kali ini agaknya kami serius. Senangnya bila cinta pertamamu bisa meenjadi cinta terakhir dalam hidupmu.. Tentang Fandy, sejak terakhir kali aku bertemu dengannya bersama papa dan mamanya, aku nggak pernah ketemu dia lagi.
Hhmmff…awan putih tipis yang indah. Buih laut yang indah juga. Aku memandang ke horizon, batas antara langit dan laut yang sama-sama berwarna biru.
Hap…
“ Kay….yang bener yha..?! Lepas ah. Jangan kayak anak kecil….!” Kay menutup mataku dari belakang. Maka, otematis aja aku langsung mengomel.
“ Happy birthday…” Kay mencium keningku. Sejenak kemudian, memasangkan sebuah kalung di leherku. Kutimang liontin kalung itu di jemariku sambil aku melihatnya. Bandul kalung cantik. Bentuknya hanya paduan dari lengkungan-lengkungan indah dan tengahnya ada sebuah mutiara warna ungu tua. Cantik sekali.
“ Makasih, Kay….” Aku memandangnya.
Kemudian, Kay ikut bergabung duduk denganku dan mendengarkan lagu lewat sebelah headset ipod-ku. Kami memandang laut di pagi hari bersama. Kusapukan kembali pandanganku ke laut dan pantainya. Tunggu. Di sana ada seorang anak yang sedang menerbangkan layang-layang naga.. Fandy kecil. Sedang bermain-main. Sebentar kemudian, ia menghampiri papa dan mamanya di dekat dermaga. Lalu, mereka bertiga makan kue tart bersama setelah menyanyikan lagi ‘Happy Birthday’ versi Mandarin yang sayup-sayup kudengar. Aku tersenyum. Dari jauh sana, Fandy dengan mulut belepotan tart, melambai kearahku. Aku balas melambai pada Fandy sambil tersenyum.
“ Kay….Kay…”
Kay membuka matanya dan memandangku. “ Apa?”
“ Kamu lihat anak yang lagi makan tart sama keluarganya di sana nggak? Lucu yha?! Mirip kamu lho, mukanya….” Kataku menunjuk kearah keluarga kecil Fandy makan.
Kay tampak menyipitkan mata mengamati arah jariku menunjuk. Namun, Kay kembali bersandar ke pohon dan memejamkan mata.
“ Apa, sih. Nggak ada apa-apa juga…nggak ada anak kecil.” Katanya.
Aku hanya tersenyum memandang keluarga Fandy. Karena mungkin, itu adalah aku sepuluh tahun dari sekarang.
lll
Kenangan itu telah lama berlalu. Aku juga tak percaya tentang kejadian-kejadian yang kualami dengan Fandy akhir-akhir ini. Yha, harusnya aku sadar itu adalah sebuah pertanda. Yang harus kuyakini adalah bahwa memory itu akan tetap ada. Meskipun bukan di angan-angan, memory itu tersimpan dalam lubuk hati terdalam.
Seumur hidup aku baru sekali ini pindah rumah. Dan dengan bangganya aku pamerkan rumah milikku dengan hasil kerja kerasku selama empat tahun dari mulai masuk kuliah. Yah, memang cicilan rumah ini baru lunas delapan tahun lagi, tapi aku tetap senang mempunyai rumah di perumahan pinggir pantai yang tenang ini. Meninggalkan rumah papa-mama memang nggak gampang. Karena bagaimanapun juga sudah duapuluh dua tahun aku bernaung di dalam rumah itu, tinggal bersama papa-mama, serta mengukir banyak kenangan dalam rumah itu. Dari aku bayi, mulai berjalan, masuk SD, mulai kencan pertama saat SMP kelas tiga, sampai lulus SMA, hingga lulus dari universitas dan mendapat pekerjaan tetap sebagai penerjemah sekarang ini. Yah..tapi bagaimanapun juga, mungkin sekarang adalah saatnya aku mandiri dan memulai kehidupanku sendiri.
Aku hendak berlari pagi hari ini. Setelah melewati sehari melelahkan menata rumah kemarin. Aku menyusuri jalan setapak perumahanku untuk mencapai daerah pantai yang tampaknya sudah ramai. Hawa pantai memang berbeda. Entah mengapa aku sangat suka sekali menatap gelombang ombak yang berbuih sampai ke daratan, aku juga suka melihat anak-anak kecil yang bermain pasir di pinggir pantai. Aku menikmati bau amis laut. Ketika aku memandang laut, seakan aku memandang sebuah kode yang sangat luas, tak terjabar dan tak terpecahkan. Aku tak pernah khawatir dengan gelombangnya, karena gelombangnya selalu seolah memberi jawaban akan pertanyaan-pertanyaan hatiku.
“ Awas, kak…”
Aku menengok. Segera saja aku singkirkan kakiku yang tidak sengaja menginjak senar laying-layang seorang bocah laki-laki kecil.
“ Maaf yha…” kataku merasa bersalah pada bocah itu.
Bocah itu mengangguk. Namun, dia tidak segera pergi berlalu meninggalkanku. Ia malah duduk di kayu-kayu dekat dermaga dan memandang kearah laut. Pandangan anak itu polos dengan mata yang berbinar-binar, seolah laut ini memang sesuatu yang dirindukannya.
“ Kamu kelas berapa…?” Tanyaku sambil ikut jongkok di sebelah bocah laki-laki itu.
“ Kelas 2 SD..” jawabnya sambil memandangku. Matanya hitam legam, sehitam rambutnya yang tebal.
“ Owh…nama kamu sapa?” Aku semakin ingin mengenal anak kecil itu.
“ Fandy.”
“ Ow. Rumahmu deket-deket sini yha?! Pasti tiap minggu main di sini yha…?”
“ He-eh.” Fandy mengangguk. “ Rumahku di Perumahan Olympus sebelah sana..” Fandy menunjuk arah yang berlawanan dengan arah rumahku.
Aku sempat memperhatikan arah tangan si Fendy menunjuk. Tidak ada satu perumahanpun di sana. Setahuku, tanah itu baru akan dibebaskan untuk mendirikan sebuah apartemen mewah yang proyeknya masih lima tahun lagi.
“ Bener, Fandy rumahnya situ?? Nggak salah…?” Mungkin bertanya seperti itu pada anak kecil agaknya terlalu memaksa, tapi aku penasaran aja.
“ Bener, kok…” Sekarang Fandy menatapku kembali. Sorot matanya dalaaammm…sekali. Di kesempatan ini aku memperhatikan Fandy. Kulitnya putih, matanya besar, rahangnya keras, dan bahunya kokoh. Fandy mengingatkanku akan Kay. Seseorang yang pernah mengisi hari-hariku jauh sebelum ini. Kay sangat mirip dengan Fandy. Bahu kokohnya mengingatkanku akan bahu Kay yang dulu pernah menjadi sandaranku. Dan sorot mata hitam yang dalam itu benar-benar sorot mata Kay yang sedang memandangku saat menyatakan cinta.
Ah..tapi mengapa tiba-tiba aku jadi teringat akan Kay,yha..?! Itu kan sudah jauh berlalu dan menjadi sebuah masa lalu.. Oke. Mia, tenanglah. Kamu hanya sedikit teringat aja.. Kamu nggak boleh nginget-nginget lagi..itu udah lama banget berlalu… Semua itu kenangan. Sekarang yang kuherankan, mengapa Fandy menunjuk arah yang kosong? Ahh…sudahlah. Hari ini aku harus memanfaatkan hari Minggu untuk menyelesaikan pengaturan rumah.
“ Fandy, kakak pulang dulu yha..” Kataku sambil tersenyum. Fandy membalas senyumku. Ia berdiri dan mencoba menerbangkan layang-layang naga-nya lagi.
lll
“ Allow….iyha, mah. Oke deh. Nanti Mia masak dheh. Jam setengah sebelas yha. OK. OK. C-ya ma….”
Aku mematikan ponselku dan menaruhnya di kantong celana pendekku. Sudah seminggu aku menempati rumah baruku. Minggu ini papa-mama akan berkunjung dan aku berjanji akan masak buat mereka.
Aku senang. Minggu pagi ini bisa jogging di pantai lagi. Langit biru yang sama, mentari dengan semburat jingganya, serta buih ombak cantik sampai ke darat. Dan…itu Fandy lagi. Dia sedang menulis di atas pasir dengan sebatang ranting kering. Aku tersenyum sampai mataku memincing melihatnya. Lucu sekali gayanya. Maka, aku menghampirinya.
“ Hai, Fandy…ngapain??”
Fandy menoleh. Dia juga tersenyum padaku. Agaknya hari ini memang dia sedang bahagia.
“ Lagi nulis huruf cina….” Jawabnya.
Kubaca beberapa huruf yang sudah diukirnya di pasir. Papa, mama, dan goresan ‘wo’ yang berarti aku. Semua goresan itu dinaungi dalam gambar hati menjadi satu.
“ Wah, pinter banget kamu. Siapa yang ngajarin?”
“ Papa.”
“ Wah, papamu keren yha. Di rumah juga kamu ngomong pakai bahasa mandarin?”
Fandy mengangguk. “ Iya. Mama sama Papa jago bahasa mandarinnya.. Tapi yang lebih jago thu Papa. Katanya, dari kecil Papa selalu ngomong pakai bahasa Mandarin..” Fandy menjelaskannya dengan antusias dengan gayanya yang lucu.
“ Wah…emang Papa kamu orang mana?”
“ Orang Medan.”
Aku terdiam sejenak, kemudian tersenyum lagi. Dalam angan-anganku terbersit lagi sosok Kay sebagai orang Medan yang sangat fasih berbahasa Mandarin dari kecil. Agh..tapi mengapa aku teringat kembali akan Kay?! Mengapa si Fandy kecil ini begitu mirip sama Kay…? Caranya berjalan dengan bahunya yang kokoh, juga cara Fandy memandangku dan berbicara menjelaskan sesuatu…
“ Eh, kakak namanya siapa sih..?” Fandy bertanya padaku, membuyarkan lamunanku.
“ Ah. Mia. Nama kakak Mia..”
“ Waduh.. nama kakak kayak nama mama… Kakak juga mirip banget sama mama….” Fandy berkata polos.
“ Ah, masak sih..?! Papa sama mama kamu nggak suka ke pantai yha? Kok kamu nggak bareng mereka…?” Tanyaku semakin penasaran setelah Fandy mengatakan aku mirip mamanya.
“ Ah, papa mama seneng banget kok, ama pantai. Makannya milih rumah di sini. Tapi papa sama mama sibuk terus sih..”
“ Aduh. Udah jam delapan. Kayaknya kakak udah harus pulang deh.. Fandy ati-ati yha, di sini…” Aku bangkit berdiri serta membersihkan pasir yang menempel di celana training-ku.
Sedetik sebelum aku meninggalkan Fandy dengan tulisan mandarinnya, Fandy memanggilku;
“ Kak…! Minggu depan aku ajak papa sama mama. Kakak ke sini yha…!” Katanya.
“ OK…” Kataku sambil berlari dan melambaikan tangan padanya.
lll
Minggu ini aku bersiap jogging lagi. Aku mengikat rambutku tinggi-tinggi, menyiapkan Ipod dengan lagu-lagu asyik buat jogging pagi ini. Aku sengaja bangun lebih awal pagi ini, aku terlanjur penasaran dengan si kecil Fandy. Yang entah mengapa mengingatkanku pada Kay.
Sampai di pingggir pantai, pandanganku menyapu ke seluruh arah mencari Fandy. Namun bocah lucu itu sepertinya belum datang. Aku duduk di bawah pohon kelapa, tempat kemarin Fandy menulis huruf-huruf mandarin yang sederhana. Di atas pasir, aku menggambar wajah seekor kucing. Yha, karena memang aku suka kucing.
“ Persis kayak gambar mama…”
Hampir saja aku terlonjak kaget. Fandy sudah berdiri di sebelahku. Kali ini dengan kaos biru dan celana pendek hitam. Fandy habis potong rambut.. Lucu. Aku tersenyum melihatnya.
“ Kakak suka banget ama kucing Fan… Jadi gambarnya yha gambar kucing. Hehehe..” Aku melanjutkan; “ Mana papa sama mama kamu? Katanya mau kamu ajak…?!”
“ Kak. Sorry. Hari ini papa mau ke rumahnya om Elbert, mau main basket. Tuh, mama sama papa nunggu di sana..” Kata Fendy.
Yah..semangatku jadi turun. Padahal aku sudah membayangkan bagaimana serunya mengobrol bersama mamanya Fandy yang katanya mirip sama aku. Namun, aku memperhatikan Fandy menunjuk. Di dekat dermaga sana ada dua orang sedang bergandengan. Yha, itu pasti papa dan mama Fandy. Dari belakang, mama Fandy berambut panjang belahan pinggir mengenakan rok motif bunga-bunga. Papa Fandy dari belakang kelihatan gagah dengan punggung lebar dan rambut hitam legam seperti rambut Fandy.
“ Oh, yha udah. Kamu mau pergi yha?! Kakak mau di sini bentar lagi.. Titip salam buat mama sama papa kamu yha…” Kataku masih sambil mendengarkan lagu-lagu dari ipod.
“ Bye kak Mia….”
Fandy lalu berlari menuju papa dan mamanya. Aku masih mengamati bocah kecil itu digandeng dengan mamanya yang katanya mirip aku. Lama baru keluarga kecil itu berbalik arah menghadapku. Aku menyipitkan mata untuk memperhatikannya. Mulutku terbuka perlahan. Mama Fandy sungguh mirip aku. Matanya lebar, postur tubuhnya juga nggak tinggi-tinggi amat. Aku menangkupkan tangan ke mulutku. Karena papanya Fandy sungguh benar-benar adalah Kay. Kay yang sudah tumbuh dan banyak berubah sejak SMA. Walaupun rambutnya masih hitam legam, bahunya masih kokoh seperti dulu, dan kostumnya adalah kaos basket seperti enam tahun yang lalu, tapi auranya adalah aura papa. Yha, papanya Fandy. Aku sungguh nggak bisa percaya dengan apa yang kulihat ini.. Apakah aku melihat masa depanku? Kalau benar itu masa depanku, ma wajah Fandy adalah perpaduanku dengan Kay.. Rambut hitam legam, sorot mata hitam dalam, dan bahu kokoh itu milik Kay. Sedangkan senyum polos, kulit putih, dan mata yang lebar adalah milikku… Yha Tuhan.
lll
Minggu depan walaupun dengan perasaan tak karuan, dan agak cemas, aku memberanikan diri berlari ke pantai. Udara yang hangat. Langit yang biru dengan awannya yang putih, serta semburat jingga mentari. Bukan itu yang kunantikan. Namun kehadiran Fandy. Ini sudah dua jam. Tepatnya jam delapan. Tapi aku belum melihat Fandy. Sejenak aku memejamkan mata menikmati angin yang begitu menggoyangkan daun pohon kelapa sehingga bergemersik indah.
Aku menyapukan pandanganku ke laut. Hei….siapa itu berdiri di pinggir pantai. Celana panjangnya ditekuk sampai batas lutut. Ia memakai kaos santai sekali. Dari belakang, punggungnya lebar dan indah sekali. Untuk kesekian kalinya, aku merindukan memeluk bahu kokoh Kay. Dan untuk pertama kalinya setelah lulus SMA, kenangan-kenangan indah akan Kay kembali mengusikku. Entah mengapa, memory indah itu datang kembali. Seperti sebuah film yang diputar kembali. Tentang pertama kalinya dia menyatakan cinta, kebersamaan kami di SMP, semua kenakalannya yang membuatku jatuh hati, gayanya saat main basket yang keren, juga sikap keras hatinya yang membuat semua harapan hancur, namun juga kemauannya yang sempat menyusun kembail puing-puing hati yang telah berserakan. Namun, semuanya dikalahkan oleh ego masing-masing.
Aku menerawang begitu lama memandangi birunya laut sampai aku tak sadar, ada seseorang yang duduk di sebelahku. Aku menghela nafas dan menoleh perlahan. Dan, air mata itu seketika menetes jatuh ke pipiku. Aku melihat Kay tersenyum. Wajahnya masih tidak berubah. Aku masih bisa merasakan sensasi sorot matanya yang dalam walaupun tertutup oleh kacamatanya. Rasanya seperti mengulang kejadian lima tahun lalu ketika aku masih duduk di kelas tiga SMA.
“ Terlambatkan buat minta maaf sekarang…”
Suara Kay yang sedikit serak. Seperti dulu… Suara ini sudah lama sekali tak kudengar. Sejak aku dan dia putus semuanya hancur dan meninggalkan banyak sakit hati. Bahkan dalam sapaanpun aku tak pernah mendengarnya. Bahkan, setelah putus, sorot mata Kay bukan sorot mata dalam. Melainkan sorot mata benci dan dingin.
Aku tersenyum pada Kay. Dan air mata ini sudah tak terbendung lagi. Bahkan jenjang SMApun kami tinggalkan dengan menyisakan sakit hati yang begitu mendalam dan dalam dendam. Kay merengkuhku ke pelukannya, seperti dulu. Aku menghela nafas. Panjang…. Kay masih bau segar sabun ivory seperti dulu.
“ Kay…maaf.” Kataku lirih dalam pelukannya.
Dan sepanjang pagi itu, aku menghabiskan waktu untuk berbincang dengan Kay. Dan bersandar pada bahu kokohnya seperti dulu lagi. Yha, aku suka pantai. Baru sekarang aku menemukan alasan kenapa aku suka pantai. Karena ini semua terjadi di pantai…
lll
Minggu ini tepat tanggal 31 Juli. Ulangtahunku. Aku tetap melakukan rutinitasku setiap Minggu, jogging ke pantai. Sudah sebulan aku jadian lagi dengan Kay. Kali ini agaknya kami serius. Senangnya bila cinta pertamamu bisa meenjadi cinta terakhir dalam hidupmu.. Tentang Fandy, sejak terakhir kali aku bertemu dengannya bersama papa dan mamanya, aku nggak pernah ketemu dia lagi.
Hhmmff…awan putih tipis yang indah. Buih laut yang indah juga. Aku memandang ke horizon, batas antara langit dan laut yang sama-sama berwarna biru.
Hap…
“ Kay….yang bener yha..?! Lepas ah. Jangan kayak anak kecil….!” Kay menutup mataku dari belakang. Maka, otematis aja aku langsung mengomel.
“ Happy birthday…” Kay mencium keningku. Sejenak kemudian, memasangkan sebuah kalung di leherku. Kutimang liontin kalung itu di jemariku sambil aku melihatnya. Bandul kalung cantik. Bentuknya hanya paduan dari lengkungan-lengkungan indah dan tengahnya ada sebuah mutiara warna ungu tua. Cantik sekali.
“ Makasih, Kay….” Aku memandangnya.
Kemudian, Kay ikut bergabung duduk denganku dan mendengarkan lagu lewat sebelah headset ipod-ku. Kami memandang laut di pagi hari bersama. Kusapukan kembali pandanganku ke laut dan pantainya. Tunggu. Di sana ada seorang anak yang sedang menerbangkan layang-layang naga.. Fandy kecil. Sedang bermain-main. Sebentar kemudian, ia menghampiri papa dan mamanya di dekat dermaga. Lalu, mereka bertiga makan kue tart bersama setelah menyanyikan lagi ‘Happy Birthday’ versi Mandarin yang sayup-sayup kudengar. Aku tersenyum. Dari jauh sana, Fandy dengan mulut belepotan tart, melambai kearahku. Aku balas melambai pada Fandy sambil tersenyum.
“ Kay….Kay…”
Kay membuka matanya dan memandangku. “ Apa?”
“ Kamu lihat anak yang lagi makan tart sama keluarganya di sana nggak? Lucu yha?! Mirip kamu lho, mukanya….” Kataku menunjuk kearah keluarga kecil Fandy makan.
Kay tampak menyipitkan mata mengamati arah jariku menunjuk. Namun, Kay kembali bersandar ke pohon dan memejamkan mata.
“ Apa, sih. Nggak ada apa-apa juga…nggak ada anak kecil.” Katanya.
Aku hanya tersenyum memandang keluarga Fandy. Karena mungkin, itu adalah aku sepuluh tahun dari sekarang.
lll
Kenangan itu telah lama berlalu. Aku juga tak percaya tentang kejadian-kejadian yang kualami dengan Fandy akhir-akhir ini. Yha, harusnya aku sadar itu adalah sebuah pertanda. Yang harus kuyakini adalah bahwa memory itu akan tetap ada. Meskipun bukan di angan-angan, memory itu tersimpan dalam lubuk hati terdalam.
Maaf
Pertama aku mengenalnya, aku kira dia anak Dewa. Bagamana tidak. Wajahnya senantiasa berseri sebagaimana matahari yang menyinari. Semua keceriaannya, seperti apa yang dipantulkan laut kepada langit. Dan satu lagi. Langit seolah patuh kepadanya. Karena tatkala ia sedih, merasa gelisah ataupun galau, langit tiba-tiba menjadi mendung dan hujan rintik-rintik semakin deras membasahi bumi.
Kini sang ana Dewa berada di hadapanku. Oh, bukan. Yha, tepatnya dihadapanku karena aku sedang mencuri pandang padanya sedangkan aku semestinya memeriksa laporan keuangan bulan ini. Si anak Dewa kali ini sedang membuka-buka sebuah majalah ekonomi bersampul merah. Yha, ia sedang mengagumi karyanya. Apa yang ditulisnya secara cerdas dan penuh semangat hidupnya tertuang dalam artikel-artikel dalam majalah itu. Yup. Si anak Dewa adalah jurnalis sekarang.
“ Nona Meiti, hari ini cookies butter dan minumnya es cappuccino… Atau mau yang lain?”
Sayup-sayup kudengar Arin, waitress kesayangan si Anak Dewa menghampirinya sembari menawarkan pesananan yang sudah biaa dipesannya.
Si Anak Dewa tersenyum menyibakkan poninya sedikit, lalu mengangguk. Ia kembali menekuni hasil karya yang telah dituliskannya pada majalah temapatnya bernaung sebagai jurnalis. Seperti biasanya jug, sejak dua bulan yang lalu ia menenumkan café ini sebagai tempat nongkrong, ia selalu memilih untuk duduk di tengah-tengah café, dimana ada kursi empuk seperti sofa dan vas bunga berisikan bunga lili putih kesukaannya. Sejak dua bulan yang lalu, si Anak Dewa menjadi customer langganan di café ini. Bahkan secara tidak langsung, ia menjadi public relation bagi café ini kerena telah menyebarkan dri mulut ke mulut betapa enaknya cookies butter di café ini. Dia menjadikan café ini tempat bertemunya dengan para narasumber, bertemu dengan teman-teman wartawannya yang esentrik, bertemu dengan adik kesayangannya, bahkan juga bertemu dengan pacarnya terkadang. Di hari siang yang panas, biasanya dia memesan es krim vanilla kesukaannya, lebih sering disaat santai, ia memesan es cappuccino, meskipun pacarnya udah seribu kali menasehatinya supaya nggak terlalu banyak minum kopi. Tapi, jawabannya selalu begini;
“ Yang ajarin aku minum kopi itu, pacarku waktu SMP yang sampe sekarang aku belom bisa lupa. Dan kayaknya aku nggak pernah bakal bisa lupa. So, sampe kapan pun aku pasti minum kopi..”
Maaf. Tapi aku jadi ingin menangis mendengar perkataan itu. Itu sudah lewat hampir sembilan tahun yang lalu.
Tok….tok…
“Maaf, Pak. Ini minumnya.” Airin menyuguhkan padaku es cappuccino sama seperti yang dipesan oleh Anak Dewa. Aku tetap lekat memandangi gelagat si Anak Dewa.
“ Makasih, Rin. Tunggu saat yang tepat sampai dia tahu kalau aku pemilik café ini.”
“ Maaf, Pak. Saya rasa cepat atau lambat, Bapak harus kasih tahu nona Meiti kalau Bapak yang senantiasa memajang lili putih di tengah-tengah café, ataupun kelakuan konyol Bapak yang selalu memberikan fortune cookies yang isinya bagus semuanya buat nona Meiti. Permisi, Pak.”
Arin keluar dari ruanganku. Maaf saja, waitress cuma pekerjaan sambilan Arin. Ia mahasiswa hukum di universitas negeri setempat. Jadi, wajar jika ia pandai dan si Anak Dewa begitu senang padanya.
\\\
Sore ini aku tahu, si Anak Dewa sedang janjian dengan pacarnya. Pakaiannya lumayan rapi. Rok terusan, jaket jins yang langsung dilepasnya begitu duduk di singgasananya, serta sebuah syal kuning muda yang tampaknya hangat sekali. Rambutnya diikat satu di sebelah kanan, seperti anak kecil. Aku kali ini tidak berada di ruanganku, tapi berada bersama semua pegawaiku di belakang bartender.
Tak lama kemdian, pacar si Anak Dewa datang. Ia membawa sebuket lili putih ditangannya persembahan untuk Anak Dewa. Si Anak Dewa tersenyum dan langsung saja mengoceh ria seperti kebiasaannya menjadi orang ceria. Lalu tiba-tiba, topik itu muncul.
“ Mei, gimana aku bisa mencintaimu begitu tulus dari SMA, sementara kamu tetep nggak bisa lupa mantan pacarmu waktu SMP..”
Meiti terdiam sejenak. Aku yakin sudah pernah ia menceritakan masa lalunya secara komplit dan terperinci pada pacarnya sekarang ini. Kembali, dia ungkapkan dengan cerdas;
“ Bagaimanapun juga, masa lalu tetep akan menjadi bagian masa sekarang dan masa depan ka, Don…?!”
“ Tapi gimana bisa menggapai masa depan yang bagus kalau kamu berjalan lurus ke depan dengan pandangan ke belakang. Kamu bakal nabrak kan, Mei…. Common!”
“ Yah. Bagaimanapun dia thu pernah ada di hatiku, mengisi hari-hariku masa itu, buat perubahan-perubahan dala diriku, dan diriku nggak akan pernah sama lagi..”
Keduanya terdiam. Aku hanya bisa menelan ludah. Sakit rasanya. Hatiku seperti ditikam rotan. Aku sungguh tak bermaksud begini.
“ Meiti. Aku bener-bener tulus sayang sama kamu.”
“ Aku tahu itu. Tunggu, Don. Tanggal 2 Sepetember empat hari lagi yah..?”
“Iya. Aku tahu, itu hari ulang tahunnya Ray.”
“ Menurutmu, apa pintu maaf itu akan terbuka setelah sekian lamanya, Don…?”
“ Aku nggak tahu. Aku nggak yakin, Mei.. Setelah kita lulus, kita nggak tahu kan, Dia dimana? Dia jadi setahun angkatan di bawah kita gara-gara dia nggak naik kelas khan..?! Yang kamu sebut karma-nya padamu.”
“ Don. Aku mau cari dia. Semoga belum terlambat buat minta maaf..”
“ Apa mau dan keyakinanmu, Mei…”
“ Makasih, Don. Aku bener-bener beruntung punya pacar yang kayak kamu.”
Aku terus mendengar percakapan antara si Anak Dewa bersama Dony, pacarnya sembari aku membuat es cappuccino pesanannya, setelah kularang bartenderku meraciknya.
“ Pak. Ada telepon di line 3 dari tunangan Bapak.” Arin menghampiriku.
Aku segera menuju kantorku, dan mengangkat telepon.
“ Iyha, Maya. Ada apa?”
Jengkelnya, Maya selalu saja ingin mengecek keberadaanku dengan menelepon ke café, bukan ke ponselku.
\\\
Hari berikutnya, aku melihatnya duduk sedikit termnung, membawa sebuah buku katalog zaman SMA dulu. Semakin lama ia memandanginya, matahari semakin menyingkir, dan langit menjadi mendung. Lalu, tiga jam berselang, hujan mulai turun. Pertama hanya rintik saja. Namun semakin lama, semakin besar disertai petir juga. Si Anak Dewa menangis, menghabiskan gelas keempat es cappuccino-nya. Aku tahu. Dia sedang mengingat masa-masa indahnya di SMP bersama mantan pacar yang sampai sekarang masih diingatnya. Si Anak Dewa terpaksa tetap di café karena hari hujan. Sebenarnya bisa saja ia menelepon Dony, pacarnya supaya menjemputnya dengan mobil. Tapi, agaknya si Anak Dewa masih ingin bernostalgia mengenang mantan pacarnya di sini. Tunggu, ia memanggil Arin. Sejenak kemudian, dia sudah mulai menggunting kertas dari Arin dari gunting persediaan di tasnya. Arin lewat di depan kantorku;
“ Arin!” Panggilku.
Arin tersenyum simpul; “ Tadi dia minta kertas yang nggak pakai, Pak. Katanya dia mau buat bintang.”
Kedua mata Arin seolah mengikuti pandanganku yang menuju ke sebuah toples yang sengaja kupajang di kantorku. Toples bening itu berhiaskan pita warna biru langit di luarnya, dan berisikan warna-warni seribu bintang. Hapir saja awang-awangku menggapai kenangan masa lalu... Namun Arin kembali menyadarkanku.
“ Satu lagi, Pak. Seorang teman lama Bapak tdi menelepon dan berpesan supaya Bapak datang ke tempat ibadah Tri Dharma bisanya karena ia sedang menunggu di sana.”
“ Makasih, Rin.” Aku segera bergegas mengambil kunci mobilku dan bersiap untuk pergi di hari hujan ini.
“ Rin. Nanti kalo Maya ke sini, suruh langsung ke rumah aja. Mamah aku ada di rumah.” Pesanku pada Arin.
Lampu mobil dan pembersih kaca mobil tetap menyala sementara aku mecari parkir kosong di depan klenteng yang berwarna merah. Dan dengan melintasi jalan yang becek karena air hujan, aku memasuki ruangan yang pekat dengan bau dupa yang dibakar. Kulepas sepatuku dan aku bersembayang sebentar. Seorang teman lama tak sulit untuk ditemui, di ruangan serba bisa dekat aula. Aku menggosok-gosok telapak tangan menghampirinya. Ia mengenakan kemeja putih dengan lengan yang digulung. Potongannya rapi, sangat rapi.
“ Masih ingat, kita taekwondo di sini, Ray…” Katanya membenahi letak kacamatanya.
“ Udah lama banget… Dan aku nggak mau pertengkaran bertahun-tahun di klub taekwondo itu terulang lagi, Don…”
Dony menatap hujan yang seperti ditumpahkan dari langit. Bagitu juga aku. Dulu, aku sangat suka dengan hujan. Setiap hari hujan, aku selalu keluar untuk berbasah-basah bermain air hujan. Tapi di hari kemudian, aku jadi benci hujan. Setelah tahu, jika hari hujan, itu berarti si Anak Dewa sedang sedih.
“ Ray, dia mau cari kamu. Mau minta maaf..”
“ Aku tahu. Kemarin aku denger sedikit pembicaraanmu sama dia.”
“ Tapi masalahnya, apa pintu maafmu terbuka buat dia? Dan… sudah terlambatkah dia untuk minta maaf…?”
Aku menghela nafas. Ingin rasanya aku menangis, tapi aku seorang laki-laki yang dididik untuk pantang menangis sejak lahir.
“ Maaf. Kejadian thu udah lama banget. Ehm…aku nggak yakin. Tapi seperti kata pepatah bilang, jika kita mau liat pelangi, kita harus melewati hujan terlebih dahulu..”
“ Ray. Entah apa yang kamu lakukan sama dia. Sampai sembian tahun dia tetep nggak kuasa buat ngelupain kamu.. Dia sempat jatuh gara-gara kamu, di membatasi pergaulannya, dia sagat hati-hati sama hubungannya ma cowok, semua karena dia takut bakal ngelupain kamu.”
“ Don, apa kamu…. Apa kamu cinta dia?”
Tanpa ragu, teman lamaku ini mengangguk.
“ Apa masih ada cinta dalam hatinya untukku…?” Tanyaku lagi. Meskipun aku tahu, adalah salah besar menanyakan hal ini pada pacarnya sekarang.
“ Aku nggak tahu. Rasanya bukan cinta jika dibilang cinta. Itu hanya perasaan teringat. Seperti batu yang telah tergoreskan ukiran… Yha, aku raa hanya itu.”
“ Bagus. Terus tetap cintainya…”
Aku pergi meninggalkan Dony. Aku melepas kacamataku sambil melangkah pergi dari Dony. Aku takut. Semakin dilanjutkan pembicaraan ini, aku semakin kalah akan masa lalu.
“ Ray… Tentang dia mau cari kamu?!”
Aku menoleh, “ Tanggal 2 September kan? Akan ada untuk satu pintu maaf…”
\\\
“ Ma aku keluar sebentar.”
“Tunggu. Bentar lagi Maya sama keluarganya kan mau dateng… Ray, jangan main-main. Pa, tolong hentikan anakmu satu itu…”
Tapi papa yang semenjak kecil keras padaku, tak mengindahkan ucapan mama. Aku pergi meninggalkan suasana pesta perjamuan besar di restaurant dalam hotel mewah. Aku berlari dengan kemeja biu muda resmi untuk makan malam hari ulang tahunku. Di parkiran, aku segera mencari mobilku. Namun sayang, mobilku itu terletak terjepit diantara dua mobil lainnya dan tak mungkin untuk dikeluarkan sekarang. Aku terus berlari. Berlari dan berlari menyusuri tempat parkir mencari jalan keluarnya.
Teeetttt…..
Sebuah mobil dengan lampunya yang membutakan mata dan suara klaksonnya yang memekakkan telinga mengagetkanku. Aku menengok. Seseorang yang akan parkir itu membuka kaca jendelanya dan melongokkan kepalanya keluar. Sosok kakakku, Alvin beserta isterinya Vina dan seorang anaknya yang masih balita. Semuanya dalam pakaian semiformal untuk ulang tahunku yang ke dua puluh enam. Segera saja aku menghampirinya.
“ Meiti…. Kenangan yang kembali lagi…..” Dengan ngos-ngosan aku berusaha bicara.
Sebentar Alvin tampak mengeryitkan dahi dan bingung.
“ Tunggu. Meiti yang pernah double-date sama kita nonton itu bukan..? Jamannya kamu masih SMP…??” Vina berkata sambil menggendong ponakanku yang lucu.
“ Iyhah…..” Jawabku.
Segera saja Alvin sekeluarga turun dari mobil dan menyerahkan kunci serta STNK mobilnya padaku. Untung saja, Vina ingat. Yha, dulu aku-Anak Dewa dan Alvin-Vina pernah sekali kencan ganda untuk nonton bioskop. Dan saat itu, tampaknya Vina maupun Alvin langsung menyukai Anak Dewa yang memang selalu ceria.
“ Ray.. Kamu sendiri yang nentuin masa depanmu.” Kata Vina sambil melambai ketika aku mulai menginjak pedal gas.
Aku sampai di depan café. Aku mengatur nafasku sejnak sebelum aku keluar dari mobil. Namun, di saat itu, aku telah melihat si Anak Dewa. Rambutnya berkibar ditiup angin ketika ia berspeda. Ia menaruh sepedanya di seberang jalan, sembari ia merapikan bajunya, bersiap-siap untuk menyebrang jalan. Tapi, kurasa ia sudah melihatku. Kuputuskan, inilah saatnya aku untuk keluar dari mobil.
Benar. Pandangannya seolah merindu kala melihatku. Aku takut. Aku sangat takut berhadapan langsung dengannya. Dan tiba-tiba, waktu seolah berhenti sejenak. Memoriku kembali pada saat-saat terbaik dalam hidupku. Saat aku diterima seutuhnya dalam hati seseorang. Dimana aku tepuruk dan masih ada seseorang untukku. Di kala aku patah semangat, ada dia yang selalu mengiburku. Semua pemberian darinya, dari perhatiannya, hingga mimpinya tentang seribu bintang yang kini menjadi hiasan di meja kerja kantorku. Aku teringat sepasang bangku dimana aku dan dia selalu duduk berdua, bersenda gurau waktu pelajaran, aku yang mengajarinya mulai main game, aku yang mengajarinya untuk minum kopi dan aku yang membuat dia percaya dengan berbagai takhayul. Aku masih ingat rasa kue cokelat yang pertema dibuatnya untukku, aku juga masih ingat rasa legit milk-tea yang pernah dia berikan buatku.
Aku juga memikirkan semua jasanya padaku. Dia membuat aku merasa lebih berharga. Dari dia aku belajar untuk menghormati orang dan mengalah. Aku belajar untuk tidak patah semangat dan terus berjuang. Tapi yang terpenting, dari dia aku belajar tertawa dan mencinta. Dua hal yang membuat dunia ini indah. Dan dari dia, aku mengetahui bahwa tidak semua harta itu berharga, tidak semua emas berkilau, namun semua besi berkarat. Aku sungguh-sungguh merasa diterima seutuhnya sebagai manusia olehnya.
Begitu pula si Anak Dewa juga mengingat masa-masa berkilau dalam kehidupannya, tanpa sadar ia menitikkan air mata. Akupun belum beranjak dari tempatku, aku telah merasa perasaannya menjamah hatiku kembali. Di malam yang terang ini, hujan turun gerimis. Ya, gerimis yang mengiringi air matanya.
Aku tak kuasa berlama-lama tanpa kata. Ingin aku menghampirinya, dan memeluknya. Tap. Selangkah aku melangkahkan kaki. Terus. Mantap dan perlahan. Semetara dia belum beranjak.
Namun….. Teeeettttt………….
Suara klakson kembali mengagetkanku. Blash. Aku terjatuh. Segalanya gelap. Dan yang kuingat adalah gerimis, dan sayup-sayup kudengar kata ‘maaf’.
\\\
Badanku kaku dan kepalaku masih pening rasanya. Mata ini rasanya lekat dan tak ingin dibuka. Namun aku memaksakannya. Pandanganku buram sejenak. Aku membuka mataku, diikuti perasaan lemah dan lemas dari sekujur badanku. Aku ingin berbicara, namun suster menunjukkan isyarat untuk diam. Sementara ia memanggil dokter untuk kembali memeriksa keadaanku.
Kali kedua aku bangun, kamar rumah sakitku tak tampak seperti kamar sebelumnya yang penuh dengan alat-alat kedokteran. Kamarku kali ini lebih lebar. Dan…ada tiga tangkai bunga lili putih di vas bunga yang ditaruh di tas TV. Ada Maya yang cantik seperti biasanya. Kuduga, dia menemaniku selama di rumah sakit.
“ Ray. Dua minggu kamu nggak sadar. Kaki sama tulang rusukmu patah karena kecelakaan.” Maya berkata.
Aku terdiam. Sementara tangannya membawa sebuah karton tebal berwarna putih dan dibalut pita. Maya sadar aku memandangi apa yang dibawanya. Lalu ia menyerahkannya padaku.
Sebuah undangan. Tanganku masih kaku. Maka dibantunya aku membuka balutan pita putih di luarnya. Dan tampak sebuah undangan putih berhiaskan gliter dan dihiasi origami bintang.
“ Dony married ama Meiti akhirnya…” Kata Maya.
Meskipun hati ini masih tak rela, tapi apa mau dikata. Karena kata ‘maaf’ telah terucap. Semua masa depan yang baik ada di depan mata.
“ Ray… Sayangnya aku nggak pernah tahu tentang pacar SMPmu dari mulutmu sendiri….” Maya kembali membereskan undangan putih itu.
“ Maya, aku cinta kamu.”
Aku hanya bisa berkata begitu.
\\\
Pertama aku mengenalnya, aku kira dia anak Dewa. Bagamana tidak. Wajahnya senantiasa berseri sebagaimana matahari yang menyinari. Semua keceriaannya, seperti apa yang dipantulkan laut kepada langit. Dan satu lagi. Langit seolah patuh kepadanya. Karena tatkala ia sedih, merasa gelisah ataupun galau, langit tiba-tiba menjadi mendung dan hujan rintik-rintik semakin deras membasahi bumi.
Kini sang ana Dewa berada di hadapanku. Oh, bukan. Yha, tepatnya dihadapanku karena aku sedang mencuri pandang padanya sedangkan aku semestinya memeriksa laporan keuangan bulan ini. Si anak Dewa kali ini sedang membuka-buka sebuah majalah ekonomi bersampul merah. Yha, ia sedang mengagumi karyanya. Apa yang ditulisnya secara cerdas dan penuh semangat hidupnya tertuang dalam artikel-artikel dalam majalah itu. Yup. Si anak Dewa adalah jurnalis sekarang.
“ Nona Meiti, hari ini cookies butter dan minumnya es cappuccino… Atau mau yang lain?”
Sayup-sayup kudengar Arin, waitress kesayangan si Anak Dewa menghampirinya sembari menawarkan pesananan yang sudah biaa dipesannya.
Si Anak Dewa tersenyum menyibakkan poninya sedikit, lalu mengangguk. Ia kembali menekuni hasil karya yang telah dituliskannya pada majalah temapatnya bernaung sebagai jurnalis. Seperti biasanya jug, sejak dua bulan yang lalu ia menenumkan café ini sebagai tempat nongkrong, ia selalu memilih untuk duduk di tengah-tengah café, dimana ada kursi empuk seperti sofa dan vas bunga berisikan bunga lili putih kesukaannya. Sejak dua bulan yang lalu, si Anak Dewa menjadi customer langganan di café ini. Bahkan secara tidak langsung, ia menjadi public relation bagi café ini kerena telah menyebarkan dri mulut ke mulut betapa enaknya cookies butter di café ini. Dia menjadikan café ini tempat bertemunya dengan para narasumber, bertemu dengan teman-teman wartawannya yang esentrik, bertemu dengan adik kesayangannya, bahkan juga bertemu dengan pacarnya terkadang. Di hari siang yang panas, biasanya dia memesan es krim vanilla kesukaannya, lebih sering disaat santai, ia memesan es cappuccino, meskipun pacarnya udah seribu kali menasehatinya supaya nggak terlalu banyak minum kopi. Tapi, jawabannya selalu begini;
“ Yang ajarin aku minum kopi itu, pacarku waktu SMP yang sampe sekarang aku belom bisa lupa. Dan kayaknya aku nggak pernah bakal bisa lupa. So, sampe kapan pun aku pasti minum kopi..”
Maaf. Tapi aku jadi ingin menangis mendengar perkataan itu. Itu sudah lewat hampir sembilan tahun yang lalu.
Tok….tok…
“Maaf, Pak. Ini minumnya.” Airin menyuguhkan padaku es cappuccino sama seperti yang dipesan oleh Anak Dewa. Aku tetap lekat memandangi gelagat si Anak Dewa.
“ Makasih, Rin. Tunggu saat yang tepat sampai dia tahu kalau aku pemilik café ini.”
“ Maaf, Pak. Saya rasa cepat atau lambat, Bapak harus kasih tahu nona Meiti kalau Bapak yang senantiasa memajang lili putih di tengah-tengah café, ataupun kelakuan konyol Bapak yang selalu memberikan fortune cookies yang isinya bagus semuanya buat nona Meiti. Permisi, Pak.”
Arin keluar dari ruanganku. Maaf saja, waitress cuma pekerjaan sambilan Arin. Ia mahasiswa hukum di universitas negeri setempat. Jadi, wajar jika ia pandai dan si Anak Dewa begitu senang padanya.
\\\
Sore ini aku tahu, si Anak Dewa sedang janjian dengan pacarnya. Pakaiannya lumayan rapi. Rok terusan, jaket jins yang langsung dilepasnya begitu duduk di singgasananya, serta sebuah syal kuning muda yang tampaknya hangat sekali. Rambutnya diikat satu di sebelah kanan, seperti anak kecil. Aku kali ini tidak berada di ruanganku, tapi berada bersama semua pegawaiku di belakang bartender.
Tak lama kemdian, pacar si Anak Dewa datang. Ia membawa sebuket lili putih ditangannya persembahan untuk Anak Dewa. Si Anak Dewa tersenyum dan langsung saja mengoceh ria seperti kebiasaannya menjadi orang ceria. Lalu tiba-tiba, topik itu muncul.
“ Mei, gimana aku bisa mencintaimu begitu tulus dari SMA, sementara kamu tetep nggak bisa lupa mantan pacarmu waktu SMP..”
Meiti terdiam sejenak. Aku yakin sudah pernah ia menceritakan masa lalunya secara komplit dan terperinci pada pacarnya sekarang ini. Kembali, dia ungkapkan dengan cerdas;
“ Bagaimanapun juga, masa lalu tetep akan menjadi bagian masa sekarang dan masa depan ka, Don…?!”
“ Tapi gimana bisa menggapai masa depan yang bagus kalau kamu berjalan lurus ke depan dengan pandangan ke belakang. Kamu bakal nabrak kan, Mei…. Common!”
“ Yah. Bagaimanapun dia thu pernah ada di hatiku, mengisi hari-hariku masa itu, buat perubahan-perubahan dala diriku, dan diriku nggak akan pernah sama lagi..”
Keduanya terdiam. Aku hanya bisa menelan ludah. Sakit rasanya. Hatiku seperti ditikam rotan. Aku sungguh tak bermaksud begini.
“ Meiti. Aku bener-bener tulus sayang sama kamu.”
“ Aku tahu itu. Tunggu, Don. Tanggal 2 Sepetember empat hari lagi yah..?”
“Iya. Aku tahu, itu hari ulang tahunnya Ray.”
“ Menurutmu, apa pintu maaf itu akan terbuka setelah sekian lamanya, Don…?”
“ Aku nggak tahu. Aku nggak yakin, Mei.. Setelah kita lulus, kita nggak tahu kan, Dia dimana? Dia jadi setahun angkatan di bawah kita gara-gara dia nggak naik kelas khan..?! Yang kamu sebut karma-nya padamu.”
“ Don. Aku mau cari dia. Semoga belum terlambat buat minta maaf..”
“ Apa mau dan keyakinanmu, Mei…”
“ Makasih, Don. Aku bener-bener beruntung punya pacar yang kayak kamu.”
Aku terus mendengar percakapan antara si Anak Dewa bersama Dony, pacarnya sembari aku membuat es cappuccino pesanannya, setelah kularang bartenderku meraciknya.
“ Pak. Ada telepon di line 3 dari tunangan Bapak.” Arin menghampiriku.
Aku segera menuju kantorku, dan mengangkat telepon.
“ Iyha, Maya. Ada apa?”
Jengkelnya, Maya selalu saja ingin mengecek keberadaanku dengan menelepon ke café, bukan ke ponselku.
\\\
Hari berikutnya, aku melihatnya duduk sedikit termnung, membawa sebuah buku katalog zaman SMA dulu. Semakin lama ia memandanginya, matahari semakin menyingkir, dan langit menjadi mendung. Lalu, tiga jam berselang, hujan mulai turun. Pertama hanya rintik saja. Namun semakin lama, semakin besar disertai petir juga. Si Anak Dewa menangis, menghabiskan gelas keempat es cappuccino-nya. Aku tahu. Dia sedang mengingat masa-masa indahnya di SMP bersama mantan pacar yang sampai sekarang masih diingatnya. Si Anak Dewa terpaksa tetap di café karena hari hujan. Sebenarnya bisa saja ia menelepon Dony, pacarnya supaya menjemputnya dengan mobil. Tapi, agaknya si Anak Dewa masih ingin bernostalgia mengenang mantan pacarnya di sini. Tunggu, ia memanggil Arin. Sejenak kemudian, dia sudah mulai menggunting kertas dari Arin dari gunting persediaan di tasnya. Arin lewat di depan kantorku;
“ Arin!” Panggilku.
Arin tersenyum simpul; “ Tadi dia minta kertas yang nggak pakai, Pak. Katanya dia mau buat bintang.”
Kedua mata Arin seolah mengikuti pandanganku yang menuju ke sebuah toples yang sengaja kupajang di kantorku. Toples bening itu berhiaskan pita warna biru langit di luarnya, dan berisikan warna-warni seribu bintang. Hapir saja awang-awangku menggapai kenangan masa lalu... Namun Arin kembali menyadarkanku.
“ Satu lagi, Pak. Seorang teman lama Bapak tdi menelepon dan berpesan supaya Bapak datang ke tempat ibadah Tri Dharma bisanya karena ia sedang menunggu di sana.”
“ Makasih, Rin.” Aku segera bergegas mengambil kunci mobilku dan bersiap untuk pergi di hari hujan ini.
“ Rin. Nanti kalo Maya ke sini, suruh langsung ke rumah aja. Mamah aku ada di rumah.” Pesanku pada Arin.
Lampu mobil dan pembersih kaca mobil tetap menyala sementara aku mecari parkir kosong di depan klenteng yang berwarna merah. Dan dengan melintasi jalan yang becek karena air hujan, aku memasuki ruangan yang pekat dengan bau dupa yang dibakar. Kulepas sepatuku dan aku bersembayang sebentar. Seorang teman lama tak sulit untuk ditemui, di ruangan serba bisa dekat aula. Aku menggosok-gosok telapak tangan menghampirinya. Ia mengenakan kemeja putih dengan lengan yang digulung. Potongannya rapi, sangat rapi.
“ Masih ingat, kita taekwondo di sini, Ray…” Katanya membenahi letak kacamatanya.
“ Udah lama banget… Dan aku nggak mau pertengkaran bertahun-tahun di klub taekwondo itu terulang lagi, Don…”
Dony menatap hujan yang seperti ditumpahkan dari langit. Bagitu juga aku. Dulu, aku sangat suka dengan hujan. Setiap hari hujan, aku selalu keluar untuk berbasah-basah bermain air hujan. Tapi di hari kemudian, aku jadi benci hujan. Setelah tahu, jika hari hujan, itu berarti si Anak Dewa sedang sedih.
“ Ray, dia mau cari kamu. Mau minta maaf..”
“ Aku tahu. Kemarin aku denger sedikit pembicaraanmu sama dia.”
“ Tapi masalahnya, apa pintu maafmu terbuka buat dia? Dan… sudah terlambatkah dia untuk minta maaf…?”
Aku menghela nafas. Ingin rasanya aku menangis, tapi aku seorang laki-laki yang dididik untuk pantang menangis sejak lahir.
“ Maaf. Kejadian thu udah lama banget. Ehm…aku nggak yakin. Tapi seperti kata pepatah bilang, jika kita mau liat pelangi, kita harus melewati hujan terlebih dahulu..”
“ Ray. Entah apa yang kamu lakukan sama dia. Sampai sembian tahun dia tetep nggak kuasa buat ngelupain kamu.. Dia sempat jatuh gara-gara kamu, di membatasi pergaulannya, dia sagat hati-hati sama hubungannya ma cowok, semua karena dia takut bakal ngelupain kamu.”
“ Don, apa kamu…. Apa kamu cinta dia?”
Tanpa ragu, teman lamaku ini mengangguk.
“ Apa masih ada cinta dalam hatinya untukku…?” Tanyaku lagi. Meskipun aku tahu, adalah salah besar menanyakan hal ini pada pacarnya sekarang.
“ Aku nggak tahu. Rasanya bukan cinta jika dibilang cinta. Itu hanya perasaan teringat. Seperti batu yang telah tergoreskan ukiran… Yha, aku raa hanya itu.”
“ Bagus. Terus tetap cintainya…”
Aku pergi meninggalkan Dony. Aku melepas kacamataku sambil melangkah pergi dari Dony. Aku takut. Semakin dilanjutkan pembicaraan ini, aku semakin kalah akan masa lalu.
“ Ray… Tentang dia mau cari kamu?!”
Aku menoleh, “ Tanggal 2 September kan? Akan ada untuk satu pintu maaf…”
\\\
“ Ma aku keluar sebentar.”
“Tunggu. Bentar lagi Maya sama keluarganya kan mau dateng… Ray, jangan main-main. Pa, tolong hentikan anakmu satu itu…”
Tapi papa yang semenjak kecil keras padaku, tak mengindahkan ucapan mama. Aku pergi meninggalkan suasana pesta perjamuan besar di restaurant dalam hotel mewah. Aku berlari dengan kemeja biu muda resmi untuk makan malam hari ulang tahunku. Di parkiran, aku segera mencari mobilku. Namun sayang, mobilku itu terletak terjepit diantara dua mobil lainnya dan tak mungkin untuk dikeluarkan sekarang. Aku terus berlari. Berlari dan berlari menyusuri tempat parkir mencari jalan keluarnya.
Teeetttt…..
Sebuah mobil dengan lampunya yang membutakan mata dan suara klaksonnya yang memekakkan telinga mengagetkanku. Aku menengok. Seseorang yang akan parkir itu membuka kaca jendelanya dan melongokkan kepalanya keluar. Sosok kakakku, Alvin beserta isterinya Vina dan seorang anaknya yang masih balita. Semuanya dalam pakaian semiformal untuk ulang tahunku yang ke dua puluh enam. Segera saja aku menghampirinya.
“ Meiti…. Kenangan yang kembali lagi…..” Dengan ngos-ngosan aku berusaha bicara.
Sebentar Alvin tampak mengeryitkan dahi dan bingung.
“ Tunggu. Meiti yang pernah double-date sama kita nonton itu bukan..? Jamannya kamu masih SMP…??” Vina berkata sambil menggendong ponakanku yang lucu.
“ Iyhah…..” Jawabku.
Segera saja Alvin sekeluarga turun dari mobil dan menyerahkan kunci serta STNK mobilnya padaku. Untung saja, Vina ingat. Yha, dulu aku-Anak Dewa dan Alvin-Vina pernah sekali kencan ganda untuk nonton bioskop. Dan saat itu, tampaknya Vina maupun Alvin langsung menyukai Anak Dewa yang memang selalu ceria.
“ Ray.. Kamu sendiri yang nentuin masa depanmu.” Kata Vina sambil melambai ketika aku mulai menginjak pedal gas.
Aku sampai di depan café. Aku mengatur nafasku sejnak sebelum aku keluar dari mobil. Namun, di saat itu, aku telah melihat si Anak Dewa. Rambutnya berkibar ditiup angin ketika ia berspeda. Ia menaruh sepedanya di seberang jalan, sembari ia merapikan bajunya, bersiap-siap untuk menyebrang jalan. Tapi, kurasa ia sudah melihatku. Kuputuskan, inilah saatnya aku untuk keluar dari mobil.
Benar. Pandangannya seolah merindu kala melihatku. Aku takut. Aku sangat takut berhadapan langsung dengannya. Dan tiba-tiba, waktu seolah berhenti sejenak. Memoriku kembali pada saat-saat terbaik dalam hidupku. Saat aku diterima seutuhnya dalam hati seseorang. Dimana aku tepuruk dan masih ada seseorang untukku. Di kala aku patah semangat, ada dia yang selalu mengiburku. Semua pemberian darinya, dari perhatiannya, hingga mimpinya tentang seribu bintang yang kini menjadi hiasan di meja kerja kantorku. Aku teringat sepasang bangku dimana aku dan dia selalu duduk berdua, bersenda gurau waktu pelajaran, aku yang mengajarinya mulai main game, aku yang mengajarinya untuk minum kopi dan aku yang membuat dia percaya dengan berbagai takhayul. Aku masih ingat rasa kue cokelat yang pertema dibuatnya untukku, aku juga masih ingat rasa legit milk-tea yang pernah dia berikan buatku.
Aku juga memikirkan semua jasanya padaku. Dia membuat aku merasa lebih berharga. Dari dia aku belajar untuk menghormati orang dan mengalah. Aku belajar untuk tidak patah semangat dan terus berjuang. Tapi yang terpenting, dari dia aku belajar tertawa dan mencinta. Dua hal yang membuat dunia ini indah. Dan dari dia, aku mengetahui bahwa tidak semua harta itu berharga, tidak semua emas berkilau, namun semua besi berkarat. Aku sungguh-sungguh merasa diterima seutuhnya sebagai manusia olehnya.
Begitu pula si Anak Dewa juga mengingat masa-masa berkilau dalam kehidupannya, tanpa sadar ia menitikkan air mata. Akupun belum beranjak dari tempatku, aku telah merasa perasaannya menjamah hatiku kembali. Di malam yang terang ini, hujan turun gerimis. Ya, gerimis yang mengiringi air matanya.
Aku tak kuasa berlama-lama tanpa kata. Ingin aku menghampirinya, dan memeluknya. Tap. Selangkah aku melangkahkan kaki. Terus. Mantap dan perlahan. Semetara dia belum beranjak.
Namun….. Teeeettttt………….
Suara klakson kembali mengagetkanku. Blash. Aku terjatuh. Segalanya gelap. Dan yang kuingat adalah gerimis, dan sayup-sayup kudengar kata ‘maaf’.
\\\
Badanku kaku dan kepalaku masih pening rasanya. Mata ini rasanya lekat dan tak ingin dibuka. Namun aku memaksakannya. Pandanganku buram sejenak. Aku membuka mataku, diikuti perasaan lemah dan lemas dari sekujur badanku. Aku ingin berbicara, namun suster menunjukkan isyarat untuk diam. Sementara ia memanggil dokter untuk kembali memeriksa keadaanku.
Kali kedua aku bangun, kamar rumah sakitku tak tampak seperti kamar sebelumnya yang penuh dengan alat-alat kedokteran. Kamarku kali ini lebih lebar. Dan…ada tiga tangkai bunga lili putih di vas bunga yang ditaruh di tas TV. Ada Maya yang cantik seperti biasanya. Kuduga, dia menemaniku selama di rumah sakit.
“ Ray. Dua minggu kamu nggak sadar. Kaki sama tulang rusukmu patah karena kecelakaan.” Maya berkata.
Aku terdiam. Sementara tangannya membawa sebuah karton tebal berwarna putih dan dibalut pita. Maya sadar aku memandangi apa yang dibawanya. Lalu ia menyerahkannya padaku.
Sebuah undangan. Tanganku masih kaku. Maka dibantunya aku membuka balutan pita putih di luarnya. Dan tampak sebuah undangan putih berhiaskan gliter dan dihiasi origami bintang.
“ Dony married ama Meiti akhirnya…” Kata Maya.
Meskipun hati ini masih tak rela, tapi apa mau dikata. Karena kata ‘maaf’ telah terucap. Semua masa depan yang baik ada di depan mata.
“ Ray… Sayangnya aku nggak pernah tahu tentang pacar SMPmu dari mulutmu sendiri….” Maya kembali membereskan undangan putih itu.
“ Maya, aku cinta kamu.”
Aku hanya bisa berkata begitu.
\\\
Friday, June 05, 2009
Tau indahnya cinta gak....?
Cinta tak pernah begitu indah jika tanpa persahabatan.
Seorang pecinta terbaik adalah seorang sahabat yang terhebat
Jangan pernah takut cinta...
Mungkin akan begitu menyakitkan & mungkin akan membuat kamu menderita
Tapi itulah sebuah perjalanan dan pelajaran tentang cinta.
Yang aku tulis disini adalah sebuah cerminan dari sebuah cinta.
Yang dengan kuat aku lukiskan dan berharap bahwa ini adalah anugerah Yang Kuasa.
Hidup ini tak pernah begitu indah dan berwarna tanpa cinta.
Namun, bagaimana kita bertahan jika cinta itu mengirimkan banyak rintangan sebagai cobaan...
Apakah kita kuat?
Segalanya atas nama cinta.
Jangan berharap cinta yang tengah diperjuangkan akan bahagia..
Ya, karena cinta sejati tak kan pernah berakhir...
Cinta tak pernah begitu indah jika tanpa persahabatan.
Seorang pecinta terbaik adalah seorang sahabat yang terhebat
Jangan pernah takut cinta...
Mungkin akan begitu menyakitkan & mungkin akan membuat kamu menderita
Tapi itulah sebuah perjalanan dan pelajaran tentang cinta.
Yang aku tulis disini adalah sebuah cerminan dari sebuah cinta.
Yang dengan kuat aku lukiskan dan berharap bahwa ini adalah anugerah Yang Kuasa.
Hidup ini tak pernah begitu indah dan berwarna tanpa cinta.
Namun, bagaimana kita bertahan jika cinta itu mengirimkan banyak rintangan sebagai cobaan...
Apakah kita kuat?
Segalanya atas nama cinta.
Jangan berharap cinta yang tengah diperjuangkan akan bahagia..
Ya, karena cinta sejati tak kan pernah berakhir...
Subscribe to:
Posts (Atom)
