To: In
2008/03/24
14:22
Lg d mana sich?
From: Ephe
To: Ephe
2008/03/24
14:24
Taw ga.. Aq + bingung bout my honey.
Sbk mulu. Tengsin dunkz ajakin dy pegi
truz. Dy ga penah ajak
From: In
To:In
2008/03/24
14:27
Lg d mana whoy….?
Ma sapa?
Koq ditlp-nin di rmh lom plg?
From: Ephe
To: Ephe
2008/03/24
14:28
BT-in bgt sih lo!
From: In
To:In
2008/03/24
14:29
Ga usah hiperbola gt deh. Masi untung
pny pcr lo..
Lg di mana??
From: Ephe
To: Ephe
2008/03/24
14:31
Makan soto dpn SD qta dl.
Np tny2…? Ga bkl maw nyusulin khan?!
From:In
To:In
2008/03/24
14:32
Pedes bgt sih,hari ini?? Lo kan baru dapet
2minggu lg.
From: Ephe
To: Ephe
2008/03/24
14:33
Pacarku nge-BT in.
From: In
To:In
2008/03/24
14:33
Putusin aja…
From: Ephe
To: Ephe
2008/03/24
14:34
Gampang bgt loe omong..cinta nih
From: In
To: In
2008/03/24
14:35
Lo lagi makan soto ato makan ati
gara2 cinta sih…?
From: Ephe
To: Ephe
2008/03/24
14:37
Resek…
Udh ah..brenti buang-buang pulsa.
From: In
To: In
2008/03/24
14:39
Gmn skolah qta doeloe.. Ad kemajuan ga?
Kangen jugak!
From: Ephe
To: Ephe
2008/03/24
14:41
Ehm..ngengenin emank. Meninjau jg bhw
Dl my honey jg skul dsni beda angkatan
dkt ma qta….ehm!
From: In
To: In
2008/03/24
14:42
Lalalalalalala….
From: Ephe
To: Ephe
2008/03/24
14:43
Chowrie, bosen yhah?! My honey truz..
OK dhe.
Eh,wait…! He look like….ehm.
From: In
To: In
2008/03/24
14:44
Hah? He sapa…?
From: Ephe
To: In
2008/03/24
14:48
Whoy…? What u see..?
From: Ephe
To: In
2008/03/24
14:55
Common… jgn bilang loe hunting lg.
From: Ephe
To: Ephe
2008/03/24
14:58
Upz… Bye 4 now.
Smbung lg nti. OK?!
From: In
To: In
2008/03/24
14:59
My bestfriend iz freak-people.
From: Ephe
To: Ephe
2008/03/24
14:60
Whatever u say….
From: In
“ Kemarin online, liat ini…” Malam itu di ruang tamu usai menjemputku, pacarku berkata sembari menyerahkan padaku lembaran-lembaran kertas yang sangat tampak barusan ia print.
OK. Kali ini aku sedang nggak sentimental. Kali ini aku nggak akan ngomongin all about love seperti biasanya. Kali ini aku belajar dari seseorang yang memang dekat denganku dulu, sekarang, dan menerus. Hah? Maksudnya…? Ready…? Kita mulai ceritanya.
Gedung sekolah SD yang sudah hamper lima tahun kutinggalkan itu tetap kokoh. Tegar dengan bangunannya yang kian rapi karena direnovasi, serta kuat dengan prestasi dan semangatnya di jagad pendidikan. Sudah agak lama memang, telapak kakiku menginjak aula SD ini. Dulu, disini tempat pertamaku bergaul di masyarakat, tempatku mengenyam pendidikan dasar.
Aku tersenyum melihat aula yang lengang dan kosong. Aku teringat kenangan disana. Meskipun aku sudah lupa bagaimana wajah culunku waktu SD, aku masih menyimpan setiap lekukan wajah teman-teman yang bermain denganku berlari-larian mengelilingi aula ini, bertanding kasti disaat 17an, melempar-lempar permen saat istirahat, meniup melodeon saat extrakurikuler berlangsung saat sore.
Rasa kangen menyelimutiku bersama indahnya kenangan yang kembali menyapaku dan melangkahkan kakiku untuk kembali merasakan hawa tawa di gedung SDku ini. Maka, aku berjalan perlahan, melongok di setiap kelas yang sudah kosong sepi. Aku masih ingat, meja kayu berlaci tempatku duduk di kelas empat SD. Sederhana, dan indah. Bukan karena kayunya, tapi pengalaman dan suguhan pelajaran kehidupan yang datang darinya.
Hingga aku sampai di sebuah kelas, kelas paling pojok di lantai dua. Kelas terakhir yang kutempati di SD ini. Kelas tempat aku menempuh dua jam ujian akhir yang menentukan semuanya. Aku rindu guru kelas enamku. Aku rindu ujian praktek dan segala stress yang ditimbulkannya karena merupakan ujian serius pertama setiap orang dalam jenjang pendidikannya.
Lepas dari itu, setelah puas aku menyegarkan hatiku dengan kenangan masa SD yang indah, aku melangkah perlahan menuju keluar gerbang. Pak Satpam tampak memperhatikanku. Aku hanya bisa tersenyum kecil. Aku tak mengenalnya. Karena sudah bukan satpam waktuku bersekolah disini dulu.
Di dekat gerobak soto tempatku makan tadi, kini tampak seorang lelaki tua (sekitar 60an) sedang duduk di trotoar sambil memegang es teh yang ditempatkan pada sebuah plastik. Tampangnya sangat familiar. Namun aku belum sadar siapa gerangan. Merasa beliau bukan orang yang berbahaya, kudekati dia karena penasaran dengan wajahnya yang familiar.
Mataku nanar ketika tahu siapa dia. Pak Alex. Namun tua. Guratan diwajahnya seakan menunjukkan usianya. Otot-otot yang menyembul dari balik kulit tangannya seakan merindu untuk menganhantar anak-anak kembali ke sekolah. Wajahnya sedikit kempot. Ia mengenakan kaus yang tampak sangat kebesaran untuknya, serta celana panjang kumal seperti yang ia kenakan dulu. Aku sungguh merindunya. Dan kini, saat aku menulisnya pun, mataku sedang berkaca-kaca.
Aku ingat Pak Alex. Delapan tahun yang lalu, senyumnya selalu mewarnai hari-hariku. Setiap pagi, aku disambutnya dengan senyuman yang dibarengi dengan klakson mobilnya di depan rumahku. Tangannya yang kuat itu dulu menggendong anak-anak untuk masuk ke dalam mobil, dan membantu keluar dari dalam mobil untuk siap bersekolah. Terkadang, kata-katanya yang khas sangat berarti untuk ‘menjinakkan’ anak bandel yang malas masuk sekolah. Dan hatinya yang tulus dengan sabar menanti anak-anak pulang sekolah untuk mengantarkan mereka kembali ke rumah.
Yha, Pak Alex adalah sopir antarjemput.
Aku sudah berada cukup dekat dengannya, dan mencoba tersenyum dan menyapanya.
“ Pak Alex..”
Pak Alex mendongak dan tampak sedikit bingung. Aku melihat matanya. Matanya tak berubah, tetap penuh semangat dan penuh cinta kasih pada anak-anak. Mata yang sungguh sangat kurindukan..
Pak Alex dengan segera bangkit dari duduknya di trotoar. Tersenyum padaku sebelum akhirnya dia berjalan pergi meninggalkanku. Ouw, mungkin Pak Alex lupa padaku.
“ Dia udah pikun tuh…” Kata Mas-Mas pemilik tenda soto tempat tadi aku makan.
“ Iyha, yha… Dia masih antar-jemput anak-anak, Mas? Dulu waktu masih di sini, aku ikut antar-jemputnya lho..”
“ Wah, udah nggak antarjemput lagi. Mobilnya udah digadaiin, dia kan sakit darah tinggi gitu, mbak. Nggak kuat biaya pengobatan…”
Aku terbelalak.
“ Oooo… Lha, kalo udah nggak antar-jemput lagi kerjanya apa, Mas? Kok masih nongkrong di sini?”
“ Iya. Tiap pagi waktu jam sekolah dia naik angkot sampe sini, mbak.. Dia ngeliatin anak-anak masuk sekolah gitu. Terus nungguin sampai pulang.”
“ Hah? Ngeliatin doang, Mas..?”
“ Iyha, Mbak.. Saya juga sampai kasihan. Kalo siang, saya yang kasih makan dia disini...”
Begitulah. Sebuah semangat yang telah mendarah daging. Terberkatilah engkau, Pak Alex. Karena kamu telah menambah sebuah halaman pada buku pelajaran kehidupan milikku. Entah mengapa. Semangatmu, kasih sayang yang tulus, baktimu, atau sebuah nilai sosial masyarakat yang ingin kupetik darimu. Yang jelas, aku akan terus mengingatmu.
“ I’m so proud of you, my little girl….”
“ Thank-you. So... Can you tell me that you love me?”
Pacarku tersenyum. Senyumnya simpul. Dari senyumnya itu, aku jamin, kamu pasti bisa menafsirkan sejuta hal dibaliknya.
To: Nonick Chayank
2008/03/27
22:18
With all of my heart,
And all of my soul.
I Love You…
From: Ooh-ku
Ia mencium keningku dengan sayang. Dan untuk kesekian kalinya, aku membalas dengan mencium pipinya yang harum. Untuk kesekian kalinya pula, aku merasa bahagia di sisinya. Dan aku mencintainya.
To: In
2008/03/27
22:20
Wah…touch bgt!!
Gila lo! Ou, jadi paz thu ketemu
Pak Alex yha?!
Btw, kapan loe posted-nya?
Aq koq baru liat ni hari…?
From: Ephe
Cerita ini terinspirasi dari Pak Alex, dan dipersembahkan buat Adi

No comments:
Post a Comment