“ Umurnya mungkin hanya mencapai lima bulan lagi. Bisa diupayakan dengan operasi. Tapi dengan operasi presentase sembuhnya juga kurang menjanjikan. Cuma sepuluh persen. Dan resikonya, kalau operasi gagal, mungkin kita tak bakal bisa melihat Sani lagi.”
Dari kamar tempat aku berbaring aku mendengar Om dokter menjelaskan pada papaku di ruang tamu. Sekali lagi aku mendengar seruan menyeramkan yang mendengung menyatakan umurku hanya lima bulan lagi. Aku Sani. Usiaku di tahun 2000 ini menginjak tiga belas tahun. Perih rasanya dalam hatiku ini. Tapi, jauh lebih sakit yang kurasakan dalam raga. Aku mengidap semacam kanker otot yang membuatku sering sakit-sakitan. Nyeri di punggung, dan linu di pinggang, juga kaku-kaku di tangan dan kaki anggota gerakku. Aku sama sekali tak bisa menikmati masa-masa sekolahku seperti yang lain. Tak ada paduan suara, basket, ataupun drama. Tak ada pergi ke mal shopping bersama teman-temanku. Dan tak ada tawa canda sohib-sohib yang malam minggu menginap di rumahku. Tak ada semua itu. Hanya aku sendiri. Dan, aku sangat ingin sekali merasakan kebahagiaan masa remaja bersama teman-teman terdekat, dengan gembira. Tapi, aku tak bisa berontak ketika penyakitku ini menguasaiku untuk berbaring lemas dengan seluruh tubuh sakit di tempat tidurku.
Di rumah, aku tinggal bersama papa dan adik perempuanku satu-satunya yang manis. Tania namanya. Dia baru kelas dua SD dan sedang lucu-lucunya. Ehm...? Kau tanya ke mana mamaku? Mamaku meninggal tiga bulan setelah melahirkan Tania karena penyakit kanker otot semacam dengan penyakit yang kuderita ini. Malah kata dokter, penyakitku ini merupakan warisan turunan dari mamaku. Untung saja Tania yang manis dan cerdas itu tak juga mewarisi penyakit yang sama seperti diriku dan mama. Mama bisa mencapai usia empat puluh melawan penyakit mengerikan itu. Tapi, aku hanya punya umur lima bulan lagi. Agh, rasanya aku benar-benar sendiri menghadapinya. Aku tak punya siapa-siapa. Dan aku rasa, sebaiknya tak usah ada operasi itu, karena aku tak mungkin sembuh. Aku ingin cepat-cepat mati aja, nyusulin mama…
Malam sudah menjelang. Ada satu bintang terang menyinari kamarku dari jendela bergorden biru. Sudah lama, aku menyebutnya sebagai ‘bintang mama’. Dengan mengerahkan seluruh tenagaku menahan sakit, aku menggapai gorden biru untuk menutup jendela besar yang menjadi media utama angin malam yang dingin menyeruak masuk ke kamarku.
Zaaaarrrkkkhhh…..! Seseorang meompat masuk dari luar melalui jendela besar kamarku menimbulkan suara berisik.
“ AAAAAAAARRRRRHHHHHH…!!!!!” Aku berteriak sejadinya.
Sekarang orang itu sudah masuk di kamarku. Dia memakai baju kuning muda dengan grafiti warna putih keren banget. Dan celana gombrong. Tatanan rambutnya amat sangat aneh banget, lebih aneh dari makhluk UFO. Rambutnya agak gondrong dengan kriwis-kriwis di kanan-kirinya, juga belahan pinggir rambutnya dicat warna pirang kecoklatan. Ih…norak banget! Sumpah deh, bener-bener style aneh nggak ada duanya. Dan ternyata, orang itu COWOK… Yha, cowok sembilan belas tahunan kurasa.
“ Nyantai, gua bukan maling kok…!” Ucapnya ketika aku mulai akan berteriak lagi.
Aku terdiam entah kagum atau apa melihat sosok di hadapanku kini. Tampangnya sangat baik dan sama sekali nggak nunjukin kalo dia anggota gangster atau pencuri yang beraksi malam hari. Nah, sekarang dia mengulurkan tangannya padaku.
“ Hai... I’m Kenny. Remember me?”
Aku mengerutkan alis. Aku menyambut tangannya dan kami bersalaman. Agh, orang ini aneh. Ketemu aja nggak pernah, dia udah bilang ‘remember me’…?!
“ Hehehe... Tau nggak, bintang tu, mungkin bintang mama lo, buat lo….” Katanya lagi.
“ Iiihh…dari mana lo tau?! Sok tau banget ih…!”
Sekarang Kenny nyengir dan tertawa kecil. Ah..cowok ini kelihatan udah dewasa banget. Nggak tau deh, dari mana datangnya. Dia begitu enak dilihat! Hehehe.… Dan kayaknya dia bukan orang jahat kok.
“ Tau nggak sih, ntar lo bakal nolong banyak orang. Dan lo juga banyak bangkitin semangat orang yang sakit kayak lo….” Kenny menatap bintang itu dari jendela sementara aku menahan sakitku duduk di tepi tempat tidur.
“ Dari mana lo tau? Umur gue cuman tinggal lima bulan lagi tauk…. Lima bulan. Rasanya lebih baik gue mati sekarang aja, daripada papa ngabisin duit buat operasi, tapi akhirnya gue mati.… Eh, jangan-jangan lo malaikat yang mau jemput gue yha? Gue udah siap kok…. Bawa gue ke langit bareng mama!”
“ Ssssstttttt…” Kenny mendekatkan jari telunjuknya di mulutku, memberiku isyarat untuk diam.
“ Lo nggak bakalan mati, selama lo mau hidup. Selama lo percaya lo masih bisa hidup. Lihat tuh, bintang mama lo bersinar terang buat lo. Banyak orang yang butuh semangat dari lo nantinya agar mereka bisa terus hidup….” lanjutnya.
Aku amat bingung dengan apa yang dikatakan Kenny. Suaranya yang sabar dan tenang, membuatku merasa sepuluh ribu kali lebih nyaman meskipun sulit mencerna semua kata-katanya. Auranya menggerakkan simbol semangat yang ada dalam dadaku.
“ Kenny… dari mana lo tau itu bintang mamaku? Dari mana lo tau gue nggak bakalan mati…? Sekarang gue nggak tau dan pasrah aja mengenai hidup gue. Gue sama sekali nggak punya semangat. Gimana gue bisa dibutuhin banyak orang nantinya?? Gue cuman nggak mau nyusahin papa lagi, makanya gue kepingin cepet-cepet mati….”
“ Nggak. Lo nggak boleh punya pikiran kayak gitu. Papa lo berusaha biar lo hidup, karena mungkin dia tau lo bakal jadi orang yang mulia nantinya. Sekarang gue mau lo jangan kecewain papa ama adik lo. Berusahalah sembuh, dan berpikirlah kalo lo bakal sembuh.… Oke...? Gue pergi dulu.”
Dan entah bagaimana, si Kenny yang aneh itu meloncat keluar dari jendelaku. Lama baru aku bisa bangkit berdiri melawan sakit di otot pahaku, kutatap langit malam, Kenny menghilang. Selama beberapa malam, aku merenungkan semua perkataannya. Tentang aku yang nantinya akan menyemangati banyak orang, dan tentang keinginan untuk hidup. Ya, sekarang ada seruan dalam benakku, bahwa ‘aku ingin hidup’ dan ‘aku berusaha sembuh’. Dengan semangat itulah aku mulai menjalani seratus hariku sebelum aku menjalani operasi. Di malam-malam yang gelap dan dingin dalam kamarku, ada sebagian dari dalam diriku yang mengharapkan sosok Kenny aneh yang tak jelas itu datang kembali. Sampai sekarang aku hanya bisa meyakini kalau Kenny itu adalah malaikat pembangkit semangat yang dikirimkan Tuhan untukku. Ehm...jika suatu saat dia datang lagi, pasti akan kutanya siapa sebenarnya dia, dan dari mana asalnya….
ddd
Ini malam terakhirku sebelum menjalani operasi. Ruangan kamar rumah sakit yang bernuansa putih tampaknya tak begitu bersahabat denganku. Karena setiap kali aku dirawat di rumah sakit karena penyakitku ini, tembok-tembok rumah sakit yang putih pucat, serta bau obat khas rumah sakit memberi kesan seolah ingin menelanku bulat-bulat. Adikku, Tania dan papa baru saja pulang setelah menjenguk dan memberi semangat padaku. Tania barusan menunjukkan hasil ulangan matematika yang mendapatkan nilai seratus dengan wajah bangga imutnya padaku. Dan Tania berjanji dia akan mendapatkan nilai seratus di setiap ulangannya jika aku berhasil sembuh dan bisa menemaninya bermain puzzle. Walaupun sekarang aku lebih ingin hidup daripada mati, ehm...tapi dalam hatiku masih rapuh.
Pintu kamar rumah sakit yang aku tempati bergoyang ke dalam, ada seseorang yang masuk ke kamar perawatanku yang berisikan dua orang ini. Jam besuk telah usai, paling itu hanya perawat yang memberikan obat sebelum tidur.
Tapi dugaanku salah. Di sini, Kenny, sang cowok dewasa pembangkit semangatku itu berdiri di hadapanku. Kali ini mengenakan T-shirt hijau muda cerah. Rambutnya sama seperti saat pertama kali ia menemuiku, berantakan dan di tengah belahan pinggirnya juga disemir pirang kecoklatan. Sebuah benda elektronik seperti ponsel kecil dan mewah tampak dikalungkan di lehernya, menggantung sampai ke dadanya. Kenny tersenyum padaku.
“ Hai… I’m Kenny. Remember me?” tanyanya, sambil mengambil kursi untuk duduk di samping tempat tidurku.
“ Hallo, Kak Kenny.” Sapaku sambil juga tersenyum.
“ Gimana hari ini...?” tanyanya.
“ Makasih, kasih gue semangat kemaren. Gue jadi lebih optimis kalo gue bakal sembuh. Besok gue operasi lhoh…!”
“ Iya, gue tauk…. Eh, liat cewek sebelah nggak?!” Kenny menunjuk seseorang cewek yang sekamar denganku beberapa hari ini. Rambutnya sudah tak banyak lagi, kuduga karena chemotherapy yang dijalaninya. Dan hobby-nya hanya bermain tamagochi setiap hari.
“ Kenapa emang? Papa bilang dia juga kanker...,” jawabku, sedikit melirik ranjang di sebelahku, melihat cewek itu tidur pulas ditemani boneka kodok kesayangannya.
“ Ntar dia bakal jadi sohib lo…. Sohib yang nggak kepisahin malah. Dia sama lo ntar bakal nolong banyak orang….” Bukan sekali ini Kenny menjelaskan hal-hal masa depanku yang sama sekali aku nggak ngerti.
“ Kak.. Thanks udah nyemangatin gue. Walaupun sebenernya gue nggak tau apa lo bilang tu bener atau nggak. Gue tetep ngerasa nyaman, dan punya temen…. Sebenernya malem ni gue takut banget coz besok gue operasi. Operasi yang bakal jadi tolak ukur kehidupan gue nantinya.... Gue seneng banget malem ini lo ada di sini, Kak.”
Pandangan kami bertemu. Ada kekaguman menyelusup di hatiku untuk sosok Kenny satu ini. Penampilannya yang dewasa, tapi tetap bisa membuatku nyaman dan punya teman. Tak ada sikap merendahkan. Kenny menyemangatiku tanpa ada rasa kasihan. Itulah, yang membuatku bangkit.
“ Eh, di rumah sakit ternyata juga ada bintang mama lo yha... Tuh, liat. Mama lo juga nyemangatin lo sebelum operasi. Gue yakin dia mau bilang kalau operasi lo bakal berhasil.…” Kenny berkata padaku saat menatap langit luar dengan satu bintang di antara ratusan bintang yang bersinar lebih terang. Aku tersenyum.
“ Lo nggak mau jadi awan...? Awan yang kayaknya rapuh, tapi dia bisa mempengaruhi banyak orang dengan hujan, atau dengan kecerahan.… Lo harus tahu, lo nggak selamanya lemah. Lo boleh rapuh, tapi lo bisa berguna buat banyak orang. Oke...?! Dan satu lagi. Lo nggak bakalan mati, selama lo mau hidup….” Diam sejenak menyelimuti antara aku dan Kenny. Dan akhirnya….
“ Gue mesti pergi dulu sekarang. Gue percaya 100% lo bisa sembuh... Bye...” Katanya, menghampiri pintu kamar rawat inapku.
“ Tunggu…!!! Kenny, sebenernya lo siapa??” Aku sedikit berteriak.
Kenny membalikan badannya, dan tersenyum dengan senyum yang memamerkan kedua lesung pipitnya, dan berucap;
“ Gue soul mate lo….”
Lalu Kenny berjalan menyusuri jalan keluar dari kamarku, meninggalkan semangat membaraku untuk sembuh, sekaligus meninggalkan keheranan yang sangat di sudut hatiku ini.
ddd
Ini tahun 2006. Aku sudah berumur sembilan belas tahun. Aku bisa melewati tahap tersulit dalam hidupku. Akhirnya aku sembuh. Aku bisa melanjutkan sekolah, dan menemani adikku bermain puzzle sekaligus tempatnya memamerkan nilai seratusnya. Sekarang aku punya sahabat. Sahabat sangat karib, namanya Rosi. Ia suka banget boneka kodok. Dulunya dia seperti aku, terkungkung dalam keputusasaan menghadapi kanker hati yang menggerogotinya. Tapi akhirnya, sepertiku, karena ia percaya dia akan sembuh dan keinginannya yang kuat untuk hidup, dia sembuh. Mulai saat itu, aku bekerja membantu di organisasi sosial remaja. Untuk membantu menyemangati semua remaja menghadapi masalahnya. Sekarang aku jadi berguna untuk orang lain. Yah, karena aku ingin benar-benar hidup!
Awan putih berarak menghiasi birunya langit siang hari ini. Benar-benar cerah. Aku suka awan yang seperti diriku. Aku berjalan penuh semangat menuju ruangan rapat di organisasi sosial remaja. Rencananya, kami akan mengunjungi panti rehabilitasi narkoba dan mencoba memberi penyuluhan. Ada kabar menggembirakan hari ini, tadi Rosi mengirimkan SMS untukku yang isinya, hari ini akan ada seseorang baru yang akan menjadi anggota organisasi kami.
Ruangan rapat sudah separuh penuh berisi orang-orang, dan aku sibuk mencari Rosi di antara banyak orang peduli remaja itu. Ups..ada seseorang menghampiriku. Ia mengenakan T-shirt hijau muda. Ponsel berkameranya digantungkan di lehernya. Rambutnya seperti gaya cowok-cowok masa kini yang berantakan tapi keren. Di tengah belahan pinggirnya juga disemir pirang kecoklatan. Orang itu tersenyum padaku, menampilkan kedua lesung pipitnya.
“ Hai. I’m Kenny. Remember me?” Katanya padaku.
Aku sedikit mengeryitkan alisku.
“ Hei... Aku Sani. Anggota baru yha...?!” Tanyaku dijawab dengan anggukan kepalanya dengan cepat. Sekejap, Rosi sudah berada di dekatku dan mengajakku mengobrol. Aku tahu, Kenny yang keren itu sedang memperhatikanku….
Aku tersenyum pada Kenny dari kejauhan. Dia membalas senyumku dengan tulus. Tampangnya sangat keren, dan, tak kupungkiri, ada gelombang cinta menjalariku kini. Ehm..tunggu! ‘I’m Kenny. Remember me?’ sepertinya aku ingat ucapan itu…?!
ddd
Dari kamar tempat aku berbaring aku mendengar Om dokter menjelaskan pada papaku di ruang tamu. Sekali lagi aku mendengar seruan menyeramkan yang mendengung menyatakan umurku hanya lima bulan lagi. Aku Sani. Usiaku di tahun 2000 ini menginjak tiga belas tahun. Perih rasanya dalam hatiku ini. Tapi, jauh lebih sakit yang kurasakan dalam raga. Aku mengidap semacam kanker otot yang membuatku sering sakit-sakitan. Nyeri di punggung, dan linu di pinggang, juga kaku-kaku di tangan dan kaki anggota gerakku. Aku sama sekali tak bisa menikmati masa-masa sekolahku seperti yang lain. Tak ada paduan suara, basket, ataupun drama. Tak ada pergi ke mal shopping bersama teman-temanku. Dan tak ada tawa canda sohib-sohib yang malam minggu menginap di rumahku. Tak ada semua itu. Hanya aku sendiri. Dan, aku sangat ingin sekali merasakan kebahagiaan masa remaja bersama teman-teman terdekat, dengan gembira. Tapi, aku tak bisa berontak ketika penyakitku ini menguasaiku untuk berbaring lemas dengan seluruh tubuh sakit di tempat tidurku.
Di rumah, aku tinggal bersama papa dan adik perempuanku satu-satunya yang manis. Tania namanya. Dia baru kelas dua SD dan sedang lucu-lucunya. Ehm...? Kau tanya ke mana mamaku? Mamaku meninggal tiga bulan setelah melahirkan Tania karena penyakit kanker otot semacam dengan penyakit yang kuderita ini. Malah kata dokter, penyakitku ini merupakan warisan turunan dari mamaku. Untung saja Tania yang manis dan cerdas itu tak juga mewarisi penyakit yang sama seperti diriku dan mama. Mama bisa mencapai usia empat puluh melawan penyakit mengerikan itu. Tapi, aku hanya punya umur lima bulan lagi. Agh, rasanya aku benar-benar sendiri menghadapinya. Aku tak punya siapa-siapa. Dan aku rasa, sebaiknya tak usah ada operasi itu, karena aku tak mungkin sembuh. Aku ingin cepat-cepat mati aja, nyusulin mama…
Malam sudah menjelang. Ada satu bintang terang menyinari kamarku dari jendela bergorden biru. Sudah lama, aku menyebutnya sebagai ‘bintang mama’. Dengan mengerahkan seluruh tenagaku menahan sakit, aku menggapai gorden biru untuk menutup jendela besar yang menjadi media utama angin malam yang dingin menyeruak masuk ke kamarku.
Zaaaarrrkkkhhh…..! Seseorang meompat masuk dari luar melalui jendela besar kamarku menimbulkan suara berisik.
“ AAAAAAAARRRRRHHHHHH…!!!!!” Aku berteriak sejadinya.
Sekarang orang itu sudah masuk di kamarku. Dia memakai baju kuning muda dengan grafiti warna putih keren banget. Dan celana gombrong. Tatanan rambutnya amat sangat aneh banget, lebih aneh dari makhluk UFO. Rambutnya agak gondrong dengan kriwis-kriwis di kanan-kirinya, juga belahan pinggir rambutnya dicat warna pirang kecoklatan. Ih…norak banget! Sumpah deh, bener-bener style aneh nggak ada duanya. Dan ternyata, orang itu COWOK… Yha, cowok sembilan belas tahunan kurasa.
“ Nyantai, gua bukan maling kok…!” Ucapnya ketika aku mulai akan berteriak lagi.
Aku terdiam entah kagum atau apa melihat sosok di hadapanku kini. Tampangnya sangat baik dan sama sekali nggak nunjukin kalo dia anggota gangster atau pencuri yang beraksi malam hari. Nah, sekarang dia mengulurkan tangannya padaku.
“ Hai... I’m Kenny. Remember me?”
Aku mengerutkan alis. Aku menyambut tangannya dan kami bersalaman. Agh, orang ini aneh. Ketemu aja nggak pernah, dia udah bilang ‘remember me’…?!
“ Hehehe... Tau nggak, bintang tu, mungkin bintang mama lo, buat lo….” Katanya lagi.
“ Iiihh…dari mana lo tau?! Sok tau banget ih…!”
Sekarang Kenny nyengir dan tertawa kecil. Ah..cowok ini kelihatan udah dewasa banget. Nggak tau deh, dari mana datangnya. Dia begitu enak dilihat! Hehehe.… Dan kayaknya dia bukan orang jahat kok.
“ Tau nggak sih, ntar lo bakal nolong banyak orang. Dan lo juga banyak bangkitin semangat orang yang sakit kayak lo….” Kenny menatap bintang itu dari jendela sementara aku menahan sakitku duduk di tepi tempat tidur.
“ Dari mana lo tau? Umur gue cuman tinggal lima bulan lagi tauk…. Lima bulan. Rasanya lebih baik gue mati sekarang aja, daripada papa ngabisin duit buat operasi, tapi akhirnya gue mati.… Eh, jangan-jangan lo malaikat yang mau jemput gue yha? Gue udah siap kok…. Bawa gue ke langit bareng mama!”
“ Ssssstttttt…” Kenny mendekatkan jari telunjuknya di mulutku, memberiku isyarat untuk diam.
“ Lo nggak bakalan mati, selama lo mau hidup. Selama lo percaya lo masih bisa hidup. Lihat tuh, bintang mama lo bersinar terang buat lo. Banyak orang yang butuh semangat dari lo nantinya agar mereka bisa terus hidup….” lanjutnya.
Aku amat bingung dengan apa yang dikatakan Kenny. Suaranya yang sabar dan tenang, membuatku merasa sepuluh ribu kali lebih nyaman meskipun sulit mencerna semua kata-katanya. Auranya menggerakkan simbol semangat yang ada dalam dadaku.
“ Kenny… dari mana lo tau itu bintang mamaku? Dari mana lo tau gue nggak bakalan mati…? Sekarang gue nggak tau dan pasrah aja mengenai hidup gue. Gue sama sekali nggak punya semangat. Gimana gue bisa dibutuhin banyak orang nantinya?? Gue cuman nggak mau nyusahin papa lagi, makanya gue kepingin cepet-cepet mati….”
“ Nggak. Lo nggak boleh punya pikiran kayak gitu. Papa lo berusaha biar lo hidup, karena mungkin dia tau lo bakal jadi orang yang mulia nantinya. Sekarang gue mau lo jangan kecewain papa ama adik lo. Berusahalah sembuh, dan berpikirlah kalo lo bakal sembuh.… Oke...? Gue pergi dulu.”
Dan entah bagaimana, si Kenny yang aneh itu meloncat keluar dari jendelaku. Lama baru aku bisa bangkit berdiri melawan sakit di otot pahaku, kutatap langit malam, Kenny menghilang. Selama beberapa malam, aku merenungkan semua perkataannya. Tentang aku yang nantinya akan menyemangati banyak orang, dan tentang keinginan untuk hidup. Ya, sekarang ada seruan dalam benakku, bahwa ‘aku ingin hidup’ dan ‘aku berusaha sembuh’. Dengan semangat itulah aku mulai menjalani seratus hariku sebelum aku menjalani operasi. Di malam-malam yang gelap dan dingin dalam kamarku, ada sebagian dari dalam diriku yang mengharapkan sosok Kenny aneh yang tak jelas itu datang kembali. Sampai sekarang aku hanya bisa meyakini kalau Kenny itu adalah malaikat pembangkit semangat yang dikirimkan Tuhan untukku. Ehm...jika suatu saat dia datang lagi, pasti akan kutanya siapa sebenarnya dia, dan dari mana asalnya….
ddd
Ini malam terakhirku sebelum menjalani operasi. Ruangan kamar rumah sakit yang bernuansa putih tampaknya tak begitu bersahabat denganku. Karena setiap kali aku dirawat di rumah sakit karena penyakitku ini, tembok-tembok rumah sakit yang putih pucat, serta bau obat khas rumah sakit memberi kesan seolah ingin menelanku bulat-bulat. Adikku, Tania dan papa baru saja pulang setelah menjenguk dan memberi semangat padaku. Tania barusan menunjukkan hasil ulangan matematika yang mendapatkan nilai seratus dengan wajah bangga imutnya padaku. Dan Tania berjanji dia akan mendapatkan nilai seratus di setiap ulangannya jika aku berhasil sembuh dan bisa menemaninya bermain puzzle. Walaupun sekarang aku lebih ingin hidup daripada mati, ehm...tapi dalam hatiku masih rapuh.
Pintu kamar rumah sakit yang aku tempati bergoyang ke dalam, ada seseorang yang masuk ke kamar perawatanku yang berisikan dua orang ini. Jam besuk telah usai, paling itu hanya perawat yang memberikan obat sebelum tidur.
Tapi dugaanku salah. Di sini, Kenny, sang cowok dewasa pembangkit semangatku itu berdiri di hadapanku. Kali ini mengenakan T-shirt hijau muda cerah. Rambutnya sama seperti saat pertama kali ia menemuiku, berantakan dan di tengah belahan pinggirnya juga disemir pirang kecoklatan. Sebuah benda elektronik seperti ponsel kecil dan mewah tampak dikalungkan di lehernya, menggantung sampai ke dadanya. Kenny tersenyum padaku.
“ Hai… I’m Kenny. Remember me?” tanyanya, sambil mengambil kursi untuk duduk di samping tempat tidurku.
“ Hallo, Kak Kenny.” Sapaku sambil juga tersenyum.
“ Gimana hari ini...?” tanyanya.
“ Makasih, kasih gue semangat kemaren. Gue jadi lebih optimis kalo gue bakal sembuh. Besok gue operasi lhoh…!”
“ Iya, gue tauk…. Eh, liat cewek sebelah nggak?!” Kenny menunjuk seseorang cewek yang sekamar denganku beberapa hari ini. Rambutnya sudah tak banyak lagi, kuduga karena chemotherapy yang dijalaninya. Dan hobby-nya hanya bermain tamagochi setiap hari.
“ Kenapa emang? Papa bilang dia juga kanker...,” jawabku, sedikit melirik ranjang di sebelahku, melihat cewek itu tidur pulas ditemani boneka kodok kesayangannya.
“ Ntar dia bakal jadi sohib lo…. Sohib yang nggak kepisahin malah. Dia sama lo ntar bakal nolong banyak orang….” Bukan sekali ini Kenny menjelaskan hal-hal masa depanku yang sama sekali aku nggak ngerti.
“ Kak.. Thanks udah nyemangatin gue. Walaupun sebenernya gue nggak tau apa lo bilang tu bener atau nggak. Gue tetep ngerasa nyaman, dan punya temen…. Sebenernya malem ni gue takut banget coz besok gue operasi. Operasi yang bakal jadi tolak ukur kehidupan gue nantinya.... Gue seneng banget malem ini lo ada di sini, Kak.”
Pandangan kami bertemu. Ada kekaguman menyelusup di hatiku untuk sosok Kenny satu ini. Penampilannya yang dewasa, tapi tetap bisa membuatku nyaman dan punya teman. Tak ada sikap merendahkan. Kenny menyemangatiku tanpa ada rasa kasihan. Itulah, yang membuatku bangkit.
“ Eh, di rumah sakit ternyata juga ada bintang mama lo yha... Tuh, liat. Mama lo juga nyemangatin lo sebelum operasi. Gue yakin dia mau bilang kalau operasi lo bakal berhasil.…” Kenny berkata padaku saat menatap langit luar dengan satu bintang di antara ratusan bintang yang bersinar lebih terang. Aku tersenyum.
“ Lo nggak mau jadi awan...? Awan yang kayaknya rapuh, tapi dia bisa mempengaruhi banyak orang dengan hujan, atau dengan kecerahan.… Lo harus tahu, lo nggak selamanya lemah. Lo boleh rapuh, tapi lo bisa berguna buat banyak orang. Oke...?! Dan satu lagi. Lo nggak bakalan mati, selama lo mau hidup….” Diam sejenak menyelimuti antara aku dan Kenny. Dan akhirnya….
“ Gue mesti pergi dulu sekarang. Gue percaya 100% lo bisa sembuh... Bye...” Katanya, menghampiri pintu kamar rawat inapku.
“ Tunggu…!!! Kenny, sebenernya lo siapa??” Aku sedikit berteriak.
Kenny membalikan badannya, dan tersenyum dengan senyum yang memamerkan kedua lesung pipitnya, dan berucap;
“ Gue soul mate lo….”
Lalu Kenny berjalan menyusuri jalan keluar dari kamarku, meninggalkan semangat membaraku untuk sembuh, sekaligus meninggalkan keheranan yang sangat di sudut hatiku ini.
ddd
Ini tahun 2006. Aku sudah berumur sembilan belas tahun. Aku bisa melewati tahap tersulit dalam hidupku. Akhirnya aku sembuh. Aku bisa melanjutkan sekolah, dan menemani adikku bermain puzzle sekaligus tempatnya memamerkan nilai seratusnya. Sekarang aku punya sahabat. Sahabat sangat karib, namanya Rosi. Ia suka banget boneka kodok. Dulunya dia seperti aku, terkungkung dalam keputusasaan menghadapi kanker hati yang menggerogotinya. Tapi akhirnya, sepertiku, karena ia percaya dia akan sembuh dan keinginannya yang kuat untuk hidup, dia sembuh. Mulai saat itu, aku bekerja membantu di organisasi sosial remaja. Untuk membantu menyemangati semua remaja menghadapi masalahnya. Sekarang aku jadi berguna untuk orang lain. Yah, karena aku ingin benar-benar hidup!
Awan putih berarak menghiasi birunya langit siang hari ini. Benar-benar cerah. Aku suka awan yang seperti diriku. Aku berjalan penuh semangat menuju ruangan rapat di organisasi sosial remaja. Rencananya, kami akan mengunjungi panti rehabilitasi narkoba dan mencoba memberi penyuluhan. Ada kabar menggembirakan hari ini, tadi Rosi mengirimkan SMS untukku yang isinya, hari ini akan ada seseorang baru yang akan menjadi anggota organisasi kami.
Ruangan rapat sudah separuh penuh berisi orang-orang, dan aku sibuk mencari Rosi di antara banyak orang peduli remaja itu. Ups..ada seseorang menghampiriku. Ia mengenakan T-shirt hijau muda. Ponsel berkameranya digantungkan di lehernya. Rambutnya seperti gaya cowok-cowok masa kini yang berantakan tapi keren. Di tengah belahan pinggirnya juga disemir pirang kecoklatan. Orang itu tersenyum padaku, menampilkan kedua lesung pipitnya.
“ Hai. I’m Kenny. Remember me?” Katanya padaku.
Aku sedikit mengeryitkan alisku.
“ Hei... Aku Sani. Anggota baru yha...?!” Tanyaku dijawab dengan anggukan kepalanya dengan cepat. Sekejap, Rosi sudah berada di dekatku dan mengajakku mengobrol. Aku tahu, Kenny yang keren itu sedang memperhatikanku….
Aku tersenyum pada Kenny dari kejauhan. Dia membalas senyumku dengan tulus. Tampangnya sangat keren, dan, tak kupungkiri, ada gelombang cinta menjalariku kini. Ehm..tunggu! ‘I’m Kenny. Remember me?’ sepertinya aku ingat ucapan itu…?!
ddd

No comments:
Post a Comment