Powered By Blogger

Saturday, June 06, 2009

Wanita Seseorang, atau Sesuatu?

Meskipun banyak membicarakan tentang cinta, saya tetap menjujung tinggi feminisme dan masih terus menghendaki emansipasi yang ditegakkan. Mengapa? Karena sebagai seorang wanita selain mematuhi kodratnya untuk menjadi pendamping hidup bagi laki-laki, saya merasa wanita perlu menunjukkan prestasinya dan eksistensinya di dunia ini.
Entah mengapa, hingga sekarang ini saya terus menerus merasakan kurang, kurang, dan kurang dalam menjalani hidup delapan belas tahun di dunia yang sudah beriklim emansipasi ini. Meskipun wanita sekarang sudah diijinkan sekolah, mengenyam pendidikan, memperoleh pekerjaan, bahkan memimpin sebuah organisasi atau perusahan, senantiasa hati saya menjerit tentang pendapat banyak orang tentang kelemahan wanita. Kelayakan dan penghormatan bagi wanita dikesampingkan. Entah itu didasarkan pada peraturan perusahaan, gelora hidup di era globalisasi ini, ataupun adat yang masih dipegang teguh.
Terima kasih untuk Bapak Soekarno, presiden pertama kita yang juga seorang idealis yang menuangkan kepeduliannya yang amat sangat untuk persamaan hak bagi wanita dalam buku karyanya bertajuk “Sarinah”. Buku itu saya temukan di rak paling atas tempat buku-buku papa saya dan sudah lama tak tersentuh. Bukunya sudah kuning, berdebu, dan tentunya agak bau. Namun, saya tertarik membacanya karena aura emansipasi di dalamnya sudah terpancar begitu saya membaca kata-per kata pada bab pertama.
Menanggapi apa yang ditulis Bung Karno kurang lebih lima puluh tahun yang lalu, ternyata perkembangan jaman seiring puluhan tahun terlewati, keadaan Sarinah-Sarinah di Indonesia boleh dikatakan berkembang dari luar, namun sangat mengiris hati jika ditelisik lebih jauh dan dalam.
Jaman boleh berkembang. Tekhnologi boleh kian hari kian muthakir. Pandangan manusia juga lebih maju. Tapi, seiring perkembangan itu wanita semakin tenggelam dalam kekelaman masa. Harapan, angan-angan untuk maju telah terwujudkan. Tetap saja, wanita semakin direndahkan.
Pemberlakuan kontrak kerja mempersempit ruang bagi wanita yang ingin menikah dan punya anak. Mereka terikat kontrak sehingga melulu menunda pernikahan sampai kontrak itu selesai. Perusahaan juga sedikit kejam pada wanita dimasa hamil dan melahirkan. Tenggat waktu pulih setelah melahirkan tak terbayar dengan waktu cuti yang pendek. Wanita senantiasa menanggung beban, beban, dan tanggung jawab di setiap geraknya.
Tenaga kerja wanita yang dikirim ke luar negeri dan dijuluki Pahlawan Devisa bagi negara tak luput menjadi sasaran penganiayaan bahkan pelecehan seksual oleh majikannya sendiri. Apakah ini yang dinamakan emansipasi? Para TKW korban penganiayaan itupun sangat lemah dimata hukum dan jarang berani mnyeruakkan kasusnya dihadapan publik. Mereka hanya bisa pasrah. Terima perlakuan majikan, atau tidak digaji. Uang, masalah ekonomi yang mereka hadapi menjadi sebab kerelaan diri mereka untuk diinjak-injak dan takut menuntut hak yang selayaknya bagi hidup mereka yang semesstinya mereka dapatkan.
Eksploitasi terjadi bukan hanya milik tenaga wanita saja, tapi juga tubuhnya. Eksploitasi terhadap wanita terjadi seiring berkembangnya jaman. Hal ini kalau boleh dibilang, bukan masalah baru. Wanita dianggap sebagai ‘sesuatu’ yang dapat menarik hati jika dipakai untuk promosi. Maka, dipasanglah iklan yang menampilkan lekuk-lekuk tubuh wanita yang indah untuk menarik hati pembeli. Entah itu iklan sabun mandi, sabun cuci, pasta gigi, operator seluler, barang-barang elektronik, permen, minuman penyegar, alat-alat kesehatan,s emua memajang wanita cantik dengan senyumannya yang menawan dan dijamin, produk yang ditawarkan akan laku.
Lebih ekstrim lagi jika kita membicarakan pelacuran anak gadis di bawah umur. Wajah lugu dan pikiran yang masih polos diracuni oleh paham-paham hidup enak secara praktis.Sungguh miris, karena paham itu ditanamkan orangtua mereka sendiri. Maka tak jarang kita temui orangtua yang tega menjual anaknya kepada mucikari-mucikari ibukota. Ya, anak gadis itu dijual. Dengan anggapan untuk mendapatkan hidup yang lebih layak dan untuk menghidupi orangtuanya di rumah. Tega yha... Namun itu adalah realita yang ada. Mereka digelimangi oleh kemewahan duniawi, menjadi konsumeris dan hedonis yang mewarnai kota-kota metropolitan. Sayang, kesenangan instan yang mereka dapatkan sama dengan perendahan harga dini wanita secara global.
Perkembangan jaman mendorong difusi kebudayaan. Sayangnya asimilasi yang terjadi semakin membuat kaum wanita semakin terinjak-injak. Budaya yang masuk mengajarkan life style baru, pergaulan bebas. Umum memang kalau kita membicarakan ini di dunia Barat. Namun, mengapa pola hidup seperti itu juga tumbuh subur di negara kita yang sangat menjunjung tinggi adat dan tradisi, peraturan yang begitu ketat tentang kesucian wanita sebelum menikah. Dimana budaya yang dijunjung tinggi itu? Seolah kebudayaan juga mengijinkan perendahan yang makin menjadi-jadi untuk kaum wanita. Disini seolah wanita adalah hanya ‘sesuatu’ barang saja. Tidak dihormati, dan dapat digunakan sesuka hati.
Anehnya, sadar atau tidak sadar, wanita bangga akan eksploitasi itu. Wanita berlapang dada dengan pandangan yang diberikan padanya. Seolah itu adalah hal yang biasa dan tidak apa-apa. Saya heran, betapa keras hati para wanita yang rela memberikan dirinya untuk dieksploitasi. Bayaran yang diterimanya tidak sebanding untuk membunuh semua pancaran ketegaran dan penghargaan yang ada pada dirinya. Mereka menunjukkan diri mereka rapuh dan lemah. Mereka seolah membiarkan mereka menjadi ‘sesuatu’, membiarkan dirinya menjadi sarana. Itu sama saja mereka membangun image menyedihkan atas nama perempuan.

Di saat jasa EO (Event Organizer) menjamur dimana-mana dan banyak anak muda (ABG wanita) menerima pekerjaan sampingan sebagai pagar ayu untuk menjamu tamu-tamu undangan perkawinan ataupun pesta ultah, saya diwanti-wanti dengan keras oleh papa dan family saya untuk jangan ikut-ikutan. Saya selalu bertanya-tanya dalam hati. Kenapa? Kenapa? Kenapa? Padahal selain bisa didandani cantik dan pinjam baju pesta bagus gratis, dengan itu saya bisa mendapatkan uang tambahan. Saya tentunya tidak perlu merepotkan orangtua dengan meminta uang jajan lagi. Saya bisa belajar untuk mandiri dan belajar kerja.
Ini adalah masalah didikan. Belajar bekerja bukan begitu caranya. Perlahan namun pasti, keluarga saya memberi pelajaran bagaimana sulitnya mencari uang. Keuletan, keterampilan, prestasi, sangat ditonjolkan. Bukan sekedar berdandan dan memasang senyum manis. Segala apa saja yang mudah, menjerumuskan kita pada segalanya yang instan. Dan tentunya mematikan daya akal budi kita sebagai manusia.
Sekarang saya tahu, papa saya, Oom saya, kakak perempuan saya, semua sayang saya. Mereka tidak mau saya direndahkan sebagai wanita. Mereka tidak mau saya membangun penilaian buruk terhadap diri saya sendiri. Mereka mendidik saya untuk menghormati diri saya sendiri. Mereka menjaga saya dari semua hal pencemaran diri sendiri dan kesenangan untuk direndahkan.
Maaf jika saya terlalu skeptis pada hal-hal yan saya sebutkan diatas. Ini adalah masalah pandangan. Dan setiap orang boleh berpendapat. Dan saya rasa, pandangan yang ditanamkan pada diri saya dan saya junjung tinggi sekarang, membawa motivasi dan semangat saya dalam menjalani apapun.
Mereka kolot. Terserah apa kata orang. Yang jelas, didikan mereka sangat berarti buat saya. Saya memang wanita. Saya adalah seseorang yang punya penghargaan dan penghormatan pada diri saya sendiri. Saya adalah ‘seseorang’, bukan ‘sesuatu’ sarana pemeriah dan penggembira, atau sarana untuk menjual barang. Saya adalah ‘seseorang’, bukan untuk dipamerkan, bukan untuk dijadikan sarana, namun saya hidup untuk berkarya dan menunjukkan eksistensi saya.
Terima Kasih untuk Papa, seorang yang sangat menyanyangi saya dan membuat saya berharga.
Papa, aku akan jadi ‘seorang’ wanita yang membanggakan buatmu.

No comments:

Post a Comment