Hawa pantai menyergapku pagi ini kala aku menyempatkan diri bangun pagi-pagi dan membuka jendela rumah baruku diantara tumpukan-tumpukan kardus yang masih belum rapi. Aku tersenyum. Langit yang masih biru, bau laut yang sampai ke hidungku, awan daerah pesisir yang putih tipis, serta matahari yang baru menampakkan semburat jingganya di horizon, batas antara langit dan laut. Indahnya..
Seumur hidup aku baru sekali ini pindah rumah. Dan dengan bangganya aku pamerkan rumah milikku dengan hasil kerja kerasku selama empat tahun dari mulai masuk kuliah. Yah, memang cicilan rumah ini baru lunas delapan tahun lagi, tapi aku tetap senang mempunyai rumah di perumahan pinggir pantai yang tenang ini. Meninggalkan rumah papa-mama memang nggak gampang. Karena bagaimanapun juga sudah duapuluh dua tahun aku bernaung di dalam rumah itu, tinggal bersama papa-mama, serta mengukir banyak kenangan dalam rumah itu. Dari aku bayi, mulai berjalan, masuk SD, mulai kencan pertama saat SMP kelas tiga, sampai lulus SMA, hingga lulus dari universitas dan mendapat pekerjaan tetap sebagai penerjemah sekarang ini. Yah..tapi bagaimanapun juga, mungkin sekarang adalah saatnya aku mandiri dan memulai kehidupanku sendiri.
Aku hendak berlari pagi hari ini. Setelah melewati sehari melelahkan menata rumah kemarin. Aku menyusuri jalan setapak perumahanku untuk mencapai daerah pantai yang tampaknya sudah ramai. Hawa pantai memang berbeda. Entah mengapa aku sangat suka sekali menatap gelombang ombak yang berbuih sampai ke daratan, aku juga suka melihat anak-anak kecil yang bermain pasir di pinggir pantai. Aku menikmati bau amis laut. Ketika aku memandang laut, seakan aku memandang sebuah kode yang sangat luas, tak terjabar dan tak terpecahkan. Aku tak pernah khawatir dengan gelombangnya, karena gelombangnya selalu seolah memberi jawaban akan pertanyaan-pertanyaan hatiku.
“ Awas, kak…”
Aku menengok. Segera saja aku singkirkan kakiku yang tidak sengaja menginjak senar laying-layang seorang bocah laki-laki kecil.
“ Maaf yha…” kataku merasa bersalah pada bocah itu.
Bocah itu mengangguk. Namun, dia tidak segera pergi berlalu meninggalkanku. Ia malah duduk di kayu-kayu dekat dermaga dan memandang kearah laut. Pandangan anak itu polos dengan mata yang berbinar-binar, seolah laut ini memang sesuatu yang dirindukannya.
“ Kamu kelas berapa…?” Tanyaku sambil ikut jongkok di sebelah bocah laki-laki itu.
“ Kelas 2 SD..” jawabnya sambil memandangku. Matanya hitam legam, sehitam rambutnya yang tebal.
“ Owh…nama kamu sapa?” Aku semakin ingin mengenal anak kecil itu.
“ Fandy.”
“ Ow. Rumahmu deket-deket sini yha?! Pasti tiap minggu main di sini yha…?”
“ He-eh.” Fandy mengangguk. “ Rumahku di Perumahan Olympus sebelah sana..” Fandy menunjuk arah yang berlawanan dengan arah rumahku.
Aku sempat memperhatikan arah tangan si Fendy menunjuk. Tidak ada satu perumahanpun di sana. Setahuku, tanah itu baru akan dibebaskan untuk mendirikan sebuah apartemen mewah yang proyeknya masih lima tahun lagi.
“ Bener, Fandy rumahnya situ?? Nggak salah…?” Mungkin bertanya seperti itu pada anak kecil agaknya terlalu memaksa, tapi aku penasaran aja.
“ Bener, kok…” Sekarang Fandy menatapku kembali. Sorot matanya dalaaammm…sekali. Di kesempatan ini aku memperhatikan Fandy. Kulitnya putih, matanya besar, rahangnya keras, dan bahunya kokoh. Fandy mengingatkanku akan Kay. Seseorang yang pernah mengisi hari-hariku jauh sebelum ini. Kay sangat mirip dengan Fandy. Bahu kokohnya mengingatkanku akan bahu Kay yang dulu pernah menjadi sandaranku. Dan sorot mata hitam yang dalam itu benar-benar sorot mata Kay yang sedang memandangku saat menyatakan cinta.
Ah..tapi mengapa tiba-tiba aku jadi teringat akan Kay,yha..?! Itu kan sudah jauh berlalu dan menjadi sebuah masa lalu.. Oke. Mia, tenanglah. Kamu hanya sedikit teringat aja.. Kamu nggak boleh nginget-nginget lagi..itu udah lama banget berlalu… Semua itu kenangan. Sekarang yang kuherankan, mengapa Fandy menunjuk arah yang kosong? Ahh…sudahlah. Hari ini aku harus memanfaatkan hari Minggu untuk menyelesaikan pengaturan rumah.
“ Fandy, kakak pulang dulu yha..” Kataku sambil tersenyum. Fandy membalas senyumku. Ia berdiri dan mencoba menerbangkan layang-layang naga-nya lagi.
lll
“ Allow….iyha, mah. Oke deh. Nanti Mia masak dheh. Jam setengah sebelas yha. OK. OK. C-ya ma….”
Aku mematikan ponselku dan menaruhnya di kantong celana pendekku. Sudah seminggu aku menempati rumah baruku. Minggu ini papa-mama akan berkunjung dan aku berjanji akan masak buat mereka.
Aku senang. Minggu pagi ini bisa jogging di pantai lagi. Langit biru yang sama, mentari dengan semburat jingganya, serta buih ombak cantik sampai ke darat. Dan…itu Fandy lagi. Dia sedang menulis di atas pasir dengan sebatang ranting kering. Aku tersenyum sampai mataku memincing melihatnya. Lucu sekali gayanya. Maka, aku menghampirinya.
“ Hai, Fandy…ngapain??”
Fandy menoleh. Dia juga tersenyum padaku. Agaknya hari ini memang dia sedang bahagia.
“ Lagi nulis huruf cina….” Jawabnya.
Kubaca beberapa huruf yang sudah diukirnya di pasir. Papa, mama, dan goresan ‘wo’ yang berarti aku. Semua goresan itu dinaungi dalam gambar hati menjadi satu.
“ Wah, pinter banget kamu. Siapa yang ngajarin?”
“ Papa.”
“ Wah, papamu keren yha. Di rumah juga kamu ngomong pakai bahasa mandarin?”
Fandy mengangguk. “ Iya. Mama sama Papa jago bahasa mandarinnya.. Tapi yang lebih jago thu Papa. Katanya, dari kecil Papa selalu ngomong pakai bahasa Mandarin..” Fandy menjelaskannya dengan antusias dengan gayanya yang lucu.
“ Wah…emang Papa kamu orang mana?”
“ Orang Medan.”
Aku terdiam sejenak, kemudian tersenyum lagi. Dalam angan-anganku terbersit lagi sosok Kay sebagai orang Medan yang sangat fasih berbahasa Mandarin dari kecil. Agh..tapi mengapa aku teringat kembali akan Kay?! Mengapa si Fandy kecil ini begitu mirip sama Kay…? Caranya berjalan dengan bahunya yang kokoh, juga cara Fandy memandangku dan berbicara menjelaskan sesuatu…
“ Eh, kakak namanya siapa sih..?” Fandy bertanya padaku, membuyarkan lamunanku.
“ Ah. Mia. Nama kakak Mia..”
“ Waduh.. nama kakak kayak nama mama… Kakak juga mirip banget sama mama….” Fandy berkata polos.
“ Ah, masak sih..?! Papa sama mama kamu nggak suka ke pantai yha? Kok kamu nggak bareng mereka…?” Tanyaku semakin penasaran setelah Fandy mengatakan aku mirip mamanya.
“ Ah, papa mama seneng banget kok, ama pantai. Makannya milih rumah di sini. Tapi papa sama mama sibuk terus sih..”
“ Aduh. Udah jam delapan. Kayaknya kakak udah harus pulang deh.. Fandy ati-ati yha, di sini…” Aku bangkit berdiri serta membersihkan pasir yang menempel di celana training-ku.
Sedetik sebelum aku meninggalkan Fandy dengan tulisan mandarinnya, Fandy memanggilku;
“ Kak…! Minggu depan aku ajak papa sama mama. Kakak ke sini yha…!” Katanya.
“ OK…” Kataku sambil berlari dan melambaikan tangan padanya.
lll
Minggu ini aku bersiap jogging lagi. Aku mengikat rambutku tinggi-tinggi, menyiapkan Ipod dengan lagu-lagu asyik buat jogging pagi ini. Aku sengaja bangun lebih awal pagi ini, aku terlanjur penasaran dengan si kecil Fandy. Yang entah mengapa mengingatkanku pada Kay.
Sampai di pingggir pantai, pandanganku menyapu ke seluruh arah mencari Fandy. Namun bocah lucu itu sepertinya belum datang. Aku duduk di bawah pohon kelapa, tempat kemarin Fandy menulis huruf-huruf mandarin yang sederhana. Di atas pasir, aku menggambar wajah seekor kucing. Yha, karena memang aku suka kucing.
“ Persis kayak gambar mama…”
Hampir saja aku terlonjak kaget. Fandy sudah berdiri di sebelahku. Kali ini dengan kaos biru dan celana pendek hitam. Fandy habis potong rambut.. Lucu. Aku tersenyum melihatnya.
“ Kakak suka banget ama kucing Fan… Jadi gambarnya yha gambar kucing. Hehehe..” Aku melanjutkan; “ Mana papa sama mama kamu? Katanya mau kamu ajak…?!”
“ Kak. Sorry. Hari ini papa mau ke rumahnya om Elbert, mau main basket. Tuh, mama sama papa nunggu di sana..” Kata Fendy.
Yah..semangatku jadi turun. Padahal aku sudah membayangkan bagaimana serunya mengobrol bersama mamanya Fandy yang katanya mirip sama aku. Namun, aku memperhatikan Fandy menunjuk. Di dekat dermaga sana ada dua orang sedang bergandengan. Yha, itu pasti papa dan mama Fandy. Dari belakang, mama Fandy berambut panjang belahan pinggir mengenakan rok motif bunga-bunga. Papa Fandy dari belakang kelihatan gagah dengan punggung lebar dan rambut hitam legam seperti rambut Fandy.
“ Oh, yha udah. Kamu mau pergi yha?! Kakak mau di sini bentar lagi.. Titip salam buat mama sama papa kamu yha…” Kataku masih sambil mendengarkan lagu-lagu dari ipod.
“ Bye kak Mia….”
Fandy lalu berlari menuju papa dan mamanya. Aku masih mengamati bocah kecil itu digandeng dengan mamanya yang katanya mirip aku. Lama baru keluarga kecil itu berbalik arah menghadapku. Aku menyipitkan mata untuk memperhatikannya. Mulutku terbuka perlahan. Mama Fandy sungguh mirip aku. Matanya lebar, postur tubuhnya juga nggak tinggi-tinggi amat. Aku menangkupkan tangan ke mulutku. Karena papanya Fandy sungguh benar-benar adalah Kay. Kay yang sudah tumbuh dan banyak berubah sejak SMA. Walaupun rambutnya masih hitam legam, bahunya masih kokoh seperti dulu, dan kostumnya adalah kaos basket seperti enam tahun yang lalu, tapi auranya adalah aura papa. Yha, papanya Fandy. Aku sungguh nggak bisa percaya dengan apa yang kulihat ini.. Apakah aku melihat masa depanku? Kalau benar itu masa depanku, ma wajah Fandy adalah perpaduanku dengan Kay.. Rambut hitam legam, sorot mata hitam dalam, dan bahu kokoh itu milik Kay. Sedangkan senyum polos, kulit putih, dan mata yang lebar adalah milikku… Yha Tuhan.
lll
Minggu depan walaupun dengan perasaan tak karuan, dan agak cemas, aku memberanikan diri berlari ke pantai. Udara yang hangat. Langit yang biru dengan awannya yang putih, serta semburat jingga mentari. Bukan itu yang kunantikan. Namun kehadiran Fandy. Ini sudah dua jam. Tepatnya jam delapan. Tapi aku belum melihat Fandy. Sejenak aku memejamkan mata menikmati angin yang begitu menggoyangkan daun pohon kelapa sehingga bergemersik indah.
Aku menyapukan pandanganku ke laut. Hei….siapa itu berdiri di pinggir pantai. Celana panjangnya ditekuk sampai batas lutut. Ia memakai kaos santai sekali. Dari belakang, punggungnya lebar dan indah sekali. Untuk kesekian kalinya, aku merindukan memeluk bahu kokoh Kay. Dan untuk pertama kalinya setelah lulus SMA, kenangan-kenangan indah akan Kay kembali mengusikku. Entah mengapa, memory indah itu datang kembali. Seperti sebuah film yang diputar kembali. Tentang pertama kalinya dia menyatakan cinta, kebersamaan kami di SMP, semua kenakalannya yang membuatku jatuh hati, gayanya saat main basket yang keren, juga sikap keras hatinya yang membuat semua harapan hancur, namun juga kemauannya yang sempat menyusun kembail puing-puing hati yang telah berserakan. Namun, semuanya dikalahkan oleh ego masing-masing.
Aku menerawang begitu lama memandangi birunya laut sampai aku tak sadar, ada seseorang yang duduk di sebelahku. Aku menghela nafas dan menoleh perlahan. Dan, air mata itu seketika menetes jatuh ke pipiku. Aku melihat Kay tersenyum. Wajahnya masih tidak berubah. Aku masih bisa merasakan sensasi sorot matanya yang dalam walaupun tertutup oleh kacamatanya. Rasanya seperti mengulang kejadian lima tahun lalu ketika aku masih duduk di kelas tiga SMA.
“ Terlambatkan buat minta maaf sekarang…”
Suara Kay yang sedikit serak. Seperti dulu… Suara ini sudah lama sekali tak kudengar. Sejak aku dan dia putus semuanya hancur dan meninggalkan banyak sakit hati. Bahkan dalam sapaanpun aku tak pernah mendengarnya. Bahkan, setelah putus, sorot mata Kay bukan sorot mata dalam. Melainkan sorot mata benci dan dingin.
Aku tersenyum pada Kay. Dan air mata ini sudah tak terbendung lagi. Bahkan jenjang SMApun kami tinggalkan dengan menyisakan sakit hati yang begitu mendalam dan dalam dendam. Kay merengkuhku ke pelukannya, seperti dulu. Aku menghela nafas. Panjang…. Kay masih bau segar sabun ivory seperti dulu.
“ Kay…maaf.” Kataku lirih dalam pelukannya.
Dan sepanjang pagi itu, aku menghabiskan waktu untuk berbincang dengan Kay. Dan bersandar pada bahu kokohnya seperti dulu lagi. Yha, aku suka pantai. Baru sekarang aku menemukan alasan kenapa aku suka pantai. Karena ini semua terjadi di pantai…
lll
Minggu ini tepat tanggal 31 Juli. Ulangtahunku. Aku tetap melakukan rutinitasku setiap Minggu, jogging ke pantai. Sudah sebulan aku jadian lagi dengan Kay. Kali ini agaknya kami serius. Senangnya bila cinta pertamamu bisa meenjadi cinta terakhir dalam hidupmu.. Tentang Fandy, sejak terakhir kali aku bertemu dengannya bersama papa dan mamanya, aku nggak pernah ketemu dia lagi.
Hhmmff…awan putih tipis yang indah. Buih laut yang indah juga. Aku memandang ke horizon, batas antara langit dan laut yang sama-sama berwarna biru.
Hap…
“ Kay….yang bener yha..?! Lepas ah. Jangan kayak anak kecil….!” Kay menutup mataku dari belakang. Maka, otematis aja aku langsung mengomel.
“ Happy birthday…” Kay mencium keningku. Sejenak kemudian, memasangkan sebuah kalung di leherku. Kutimang liontin kalung itu di jemariku sambil aku melihatnya. Bandul kalung cantik. Bentuknya hanya paduan dari lengkungan-lengkungan indah dan tengahnya ada sebuah mutiara warna ungu tua. Cantik sekali.
“ Makasih, Kay….” Aku memandangnya.
Kemudian, Kay ikut bergabung duduk denganku dan mendengarkan lagu lewat sebelah headset ipod-ku. Kami memandang laut di pagi hari bersama. Kusapukan kembali pandanganku ke laut dan pantainya. Tunggu. Di sana ada seorang anak yang sedang menerbangkan layang-layang naga.. Fandy kecil. Sedang bermain-main. Sebentar kemudian, ia menghampiri papa dan mamanya di dekat dermaga. Lalu, mereka bertiga makan kue tart bersama setelah menyanyikan lagi ‘Happy Birthday’ versi Mandarin yang sayup-sayup kudengar. Aku tersenyum. Dari jauh sana, Fandy dengan mulut belepotan tart, melambai kearahku. Aku balas melambai pada Fandy sambil tersenyum.
“ Kay….Kay…”
Kay membuka matanya dan memandangku. “ Apa?”
“ Kamu lihat anak yang lagi makan tart sama keluarganya di sana nggak? Lucu yha?! Mirip kamu lho, mukanya….” Kataku menunjuk kearah keluarga kecil Fandy makan.
Kay tampak menyipitkan mata mengamati arah jariku menunjuk. Namun, Kay kembali bersandar ke pohon dan memejamkan mata.
“ Apa, sih. Nggak ada apa-apa juga…nggak ada anak kecil.” Katanya.
Aku hanya tersenyum memandang keluarga Fandy. Karena mungkin, itu adalah aku sepuluh tahun dari sekarang.
lll
Kenangan itu telah lama berlalu. Aku juga tak percaya tentang kejadian-kejadian yang kualami dengan Fandy akhir-akhir ini. Yha, harusnya aku sadar itu adalah sebuah pertanda. Yang harus kuyakini adalah bahwa memory itu akan tetap ada. Meskipun bukan di angan-angan, memory itu tersimpan dalam lubuk hati terdalam.
Seumur hidup aku baru sekali ini pindah rumah. Dan dengan bangganya aku pamerkan rumah milikku dengan hasil kerja kerasku selama empat tahun dari mulai masuk kuliah. Yah, memang cicilan rumah ini baru lunas delapan tahun lagi, tapi aku tetap senang mempunyai rumah di perumahan pinggir pantai yang tenang ini. Meninggalkan rumah papa-mama memang nggak gampang. Karena bagaimanapun juga sudah duapuluh dua tahun aku bernaung di dalam rumah itu, tinggal bersama papa-mama, serta mengukir banyak kenangan dalam rumah itu. Dari aku bayi, mulai berjalan, masuk SD, mulai kencan pertama saat SMP kelas tiga, sampai lulus SMA, hingga lulus dari universitas dan mendapat pekerjaan tetap sebagai penerjemah sekarang ini. Yah..tapi bagaimanapun juga, mungkin sekarang adalah saatnya aku mandiri dan memulai kehidupanku sendiri.
Aku hendak berlari pagi hari ini. Setelah melewati sehari melelahkan menata rumah kemarin. Aku menyusuri jalan setapak perumahanku untuk mencapai daerah pantai yang tampaknya sudah ramai. Hawa pantai memang berbeda. Entah mengapa aku sangat suka sekali menatap gelombang ombak yang berbuih sampai ke daratan, aku juga suka melihat anak-anak kecil yang bermain pasir di pinggir pantai. Aku menikmati bau amis laut. Ketika aku memandang laut, seakan aku memandang sebuah kode yang sangat luas, tak terjabar dan tak terpecahkan. Aku tak pernah khawatir dengan gelombangnya, karena gelombangnya selalu seolah memberi jawaban akan pertanyaan-pertanyaan hatiku.
“ Awas, kak…”
Aku menengok. Segera saja aku singkirkan kakiku yang tidak sengaja menginjak senar laying-layang seorang bocah laki-laki kecil.
“ Maaf yha…” kataku merasa bersalah pada bocah itu.
Bocah itu mengangguk. Namun, dia tidak segera pergi berlalu meninggalkanku. Ia malah duduk di kayu-kayu dekat dermaga dan memandang kearah laut. Pandangan anak itu polos dengan mata yang berbinar-binar, seolah laut ini memang sesuatu yang dirindukannya.
“ Kamu kelas berapa…?” Tanyaku sambil ikut jongkok di sebelah bocah laki-laki itu.
“ Kelas 2 SD..” jawabnya sambil memandangku. Matanya hitam legam, sehitam rambutnya yang tebal.
“ Owh…nama kamu sapa?” Aku semakin ingin mengenal anak kecil itu.
“ Fandy.”
“ Ow. Rumahmu deket-deket sini yha?! Pasti tiap minggu main di sini yha…?”
“ He-eh.” Fandy mengangguk. “ Rumahku di Perumahan Olympus sebelah sana..” Fandy menunjuk arah yang berlawanan dengan arah rumahku.
Aku sempat memperhatikan arah tangan si Fendy menunjuk. Tidak ada satu perumahanpun di sana. Setahuku, tanah itu baru akan dibebaskan untuk mendirikan sebuah apartemen mewah yang proyeknya masih lima tahun lagi.
“ Bener, Fandy rumahnya situ?? Nggak salah…?” Mungkin bertanya seperti itu pada anak kecil agaknya terlalu memaksa, tapi aku penasaran aja.
“ Bener, kok…” Sekarang Fandy menatapku kembali. Sorot matanya dalaaammm…sekali. Di kesempatan ini aku memperhatikan Fandy. Kulitnya putih, matanya besar, rahangnya keras, dan bahunya kokoh. Fandy mengingatkanku akan Kay. Seseorang yang pernah mengisi hari-hariku jauh sebelum ini. Kay sangat mirip dengan Fandy. Bahu kokohnya mengingatkanku akan bahu Kay yang dulu pernah menjadi sandaranku. Dan sorot mata hitam yang dalam itu benar-benar sorot mata Kay yang sedang memandangku saat menyatakan cinta.
Ah..tapi mengapa tiba-tiba aku jadi teringat akan Kay,yha..?! Itu kan sudah jauh berlalu dan menjadi sebuah masa lalu.. Oke. Mia, tenanglah. Kamu hanya sedikit teringat aja.. Kamu nggak boleh nginget-nginget lagi..itu udah lama banget berlalu… Semua itu kenangan. Sekarang yang kuherankan, mengapa Fandy menunjuk arah yang kosong? Ahh…sudahlah. Hari ini aku harus memanfaatkan hari Minggu untuk menyelesaikan pengaturan rumah.
“ Fandy, kakak pulang dulu yha..” Kataku sambil tersenyum. Fandy membalas senyumku. Ia berdiri dan mencoba menerbangkan layang-layang naga-nya lagi.
lll
“ Allow….iyha, mah. Oke deh. Nanti Mia masak dheh. Jam setengah sebelas yha. OK. OK. C-ya ma….”
Aku mematikan ponselku dan menaruhnya di kantong celana pendekku. Sudah seminggu aku menempati rumah baruku. Minggu ini papa-mama akan berkunjung dan aku berjanji akan masak buat mereka.
Aku senang. Minggu pagi ini bisa jogging di pantai lagi. Langit biru yang sama, mentari dengan semburat jingganya, serta buih ombak cantik sampai ke darat. Dan…itu Fandy lagi. Dia sedang menulis di atas pasir dengan sebatang ranting kering. Aku tersenyum sampai mataku memincing melihatnya. Lucu sekali gayanya. Maka, aku menghampirinya.
“ Hai, Fandy…ngapain??”
Fandy menoleh. Dia juga tersenyum padaku. Agaknya hari ini memang dia sedang bahagia.
“ Lagi nulis huruf cina….” Jawabnya.
Kubaca beberapa huruf yang sudah diukirnya di pasir. Papa, mama, dan goresan ‘wo’ yang berarti aku. Semua goresan itu dinaungi dalam gambar hati menjadi satu.
“ Wah, pinter banget kamu. Siapa yang ngajarin?”
“ Papa.”
“ Wah, papamu keren yha. Di rumah juga kamu ngomong pakai bahasa mandarin?”
Fandy mengangguk. “ Iya. Mama sama Papa jago bahasa mandarinnya.. Tapi yang lebih jago thu Papa. Katanya, dari kecil Papa selalu ngomong pakai bahasa Mandarin..” Fandy menjelaskannya dengan antusias dengan gayanya yang lucu.
“ Wah…emang Papa kamu orang mana?”
“ Orang Medan.”
Aku terdiam sejenak, kemudian tersenyum lagi. Dalam angan-anganku terbersit lagi sosok Kay sebagai orang Medan yang sangat fasih berbahasa Mandarin dari kecil. Agh..tapi mengapa aku teringat kembali akan Kay?! Mengapa si Fandy kecil ini begitu mirip sama Kay…? Caranya berjalan dengan bahunya yang kokoh, juga cara Fandy memandangku dan berbicara menjelaskan sesuatu…
“ Eh, kakak namanya siapa sih..?” Fandy bertanya padaku, membuyarkan lamunanku.
“ Ah. Mia. Nama kakak Mia..”
“ Waduh.. nama kakak kayak nama mama… Kakak juga mirip banget sama mama….” Fandy berkata polos.
“ Ah, masak sih..?! Papa sama mama kamu nggak suka ke pantai yha? Kok kamu nggak bareng mereka…?” Tanyaku semakin penasaran setelah Fandy mengatakan aku mirip mamanya.
“ Ah, papa mama seneng banget kok, ama pantai. Makannya milih rumah di sini. Tapi papa sama mama sibuk terus sih..”
“ Aduh. Udah jam delapan. Kayaknya kakak udah harus pulang deh.. Fandy ati-ati yha, di sini…” Aku bangkit berdiri serta membersihkan pasir yang menempel di celana training-ku.
Sedetik sebelum aku meninggalkan Fandy dengan tulisan mandarinnya, Fandy memanggilku;
“ Kak…! Minggu depan aku ajak papa sama mama. Kakak ke sini yha…!” Katanya.
“ OK…” Kataku sambil berlari dan melambaikan tangan padanya.
lll
Minggu ini aku bersiap jogging lagi. Aku mengikat rambutku tinggi-tinggi, menyiapkan Ipod dengan lagu-lagu asyik buat jogging pagi ini. Aku sengaja bangun lebih awal pagi ini, aku terlanjur penasaran dengan si kecil Fandy. Yang entah mengapa mengingatkanku pada Kay.
Sampai di pingggir pantai, pandanganku menyapu ke seluruh arah mencari Fandy. Namun bocah lucu itu sepertinya belum datang. Aku duduk di bawah pohon kelapa, tempat kemarin Fandy menulis huruf-huruf mandarin yang sederhana. Di atas pasir, aku menggambar wajah seekor kucing. Yha, karena memang aku suka kucing.
“ Persis kayak gambar mama…”
Hampir saja aku terlonjak kaget. Fandy sudah berdiri di sebelahku. Kali ini dengan kaos biru dan celana pendek hitam. Fandy habis potong rambut.. Lucu. Aku tersenyum melihatnya.
“ Kakak suka banget ama kucing Fan… Jadi gambarnya yha gambar kucing. Hehehe..” Aku melanjutkan; “ Mana papa sama mama kamu? Katanya mau kamu ajak…?!”
“ Kak. Sorry. Hari ini papa mau ke rumahnya om Elbert, mau main basket. Tuh, mama sama papa nunggu di sana..” Kata Fendy.
Yah..semangatku jadi turun. Padahal aku sudah membayangkan bagaimana serunya mengobrol bersama mamanya Fandy yang katanya mirip sama aku. Namun, aku memperhatikan Fandy menunjuk. Di dekat dermaga sana ada dua orang sedang bergandengan. Yha, itu pasti papa dan mama Fandy. Dari belakang, mama Fandy berambut panjang belahan pinggir mengenakan rok motif bunga-bunga. Papa Fandy dari belakang kelihatan gagah dengan punggung lebar dan rambut hitam legam seperti rambut Fandy.
“ Oh, yha udah. Kamu mau pergi yha?! Kakak mau di sini bentar lagi.. Titip salam buat mama sama papa kamu yha…” Kataku masih sambil mendengarkan lagu-lagu dari ipod.
“ Bye kak Mia….”
Fandy lalu berlari menuju papa dan mamanya. Aku masih mengamati bocah kecil itu digandeng dengan mamanya yang katanya mirip aku. Lama baru keluarga kecil itu berbalik arah menghadapku. Aku menyipitkan mata untuk memperhatikannya. Mulutku terbuka perlahan. Mama Fandy sungguh mirip aku. Matanya lebar, postur tubuhnya juga nggak tinggi-tinggi amat. Aku menangkupkan tangan ke mulutku. Karena papanya Fandy sungguh benar-benar adalah Kay. Kay yang sudah tumbuh dan banyak berubah sejak SMA. Walaupun rambutnya masih hitam legam, bahunya masih kokoh seperti dulu, dan kostumnya adalah kaos basket seperti enam tahun yang lalu, tapi auranya adalah aura papa. Yha, papanya Fandy. Aku sungguh nggak bisa percaya dengan apa yang kulihat ini.. Apakah aku melihat masa depanku? Kalau benar itu masa depanku, ma wajah Fandy adalah perpaduanku dengan Kay.. Rambut hitam legam, sorot mata hitam dalam, dan bahu kokoh itu milik Kay. Sedangkan senyum polos, kulit putih, dan mata yang lebar adalah milikku… Yha Tuhan.
lll
Minggu depan walaupun dengan perasaan tak karuan, dan agak cemas, aku memberanikan diri berlari ke pantai. Udara yang hangat. Langit yang biru dengan awannya yang putih, serta semburat jingga mentari. Bukan itu yang kunantikan. Namun kehadiran Fandy. Ini sudah dua jam. Tepatnya jam delapan. Tapi aku belum melihat Fandy. Sejenak aku memejamkan mata menikmati angin yang begitu menggoyangkan daun pohon kelapa sehingga bergemersik indah.
Aku menyapukan pandanganku ke laut. Hei….siapa itu berdiri di pinggir pantai. Celana panjangnya ditekuk sampai batas lutut. Ia memakai kaos santai sekali. Dari belakang, punggungnya lebar dan indah sekali. Untuk kesekian kalinya, aku merindukan memeluk bahu kokoh Kay. Dan untuk pertama kalinya setelah lulus SMA, kenangan-kenangan indah akan Kay kembali mengusikku. Entah mengapa, memory indah itu datang kembali. Seperti sebuah film yang diputar kembali. Tentang pertama kalinya dia menyatakan cinta, kebersamaan kami di SMP, semua kenakalannya yang membuatku jatuh hati, gayanya saat main basket yang keren, juga sikap keras hatinya yang membuat semua harapan hancur, namun juga kemauannya yang sempat menyusun kembail puing-puing hati yang telah berserakan. Namun, semuanya dikalahkan oleh ego masing-masing.
Aku menerawang begitu lama memandangi birunya laut sampai aku tak sadar, ada seseorang yang duduk di sebelahku. Aku menghela nafas dan menoleh perlahan. Dan, air mata itu seketika menetes jatuh ke pipiku. Aku melihat Kay tersenyum. Wajahnya masih tidak berubah. Aku masih bisa merasakan sensasi sorot matanya yang dalam walaupun tertutup oleh kacamatanya. Rasanya seperti mengulang kejadian lima tahun lalu ketika aku masih duduk di kelas tiga SMA.
“ Terlambatkan buat minta maaf sekarang…”
Suara Kay yang sedikit serak. Seperti dulu… Suara ini sudah lama sekali tak kudengar. Sejak aku dan dia putus semuanya hancur dan meninggalkan banyak sakit hati. Bahkan dalam sapaanpun aku tak pernah mendengarnya. Bahkan, setelah putus, sorot mata Kay bukan sorot mata dalam. Melainkan sorot mata benci dan dingin.
Aku tersenyum pada Kay. Dan air mata ini sudah tak terbendung lagi. Bahkan jenjang SMApun kami tinggalkan dengan menyisakan sakit hati yang begitu mendalam dan dalam dendam. Kay merengkuhku ke pelukannya, seperti dulu. Aku menghela nafas. Panjang…. Kay masih bau segar sabun ivory seperti dulu.
“ Kay…maaf.” Kataku lirih dalam pelukannya.
Dan sepanjang pagi itu, aku menghabiskan waktu untuk berbincang dengan Kay. Dan bersandar pada bahu kokohnya seperti dulu lagi. Yha, aku suka pantai. Baru sekarang aku menemukan alasan kenapa aku suka pantai. Karena ini semua terjadi di pantai…
lll
Minggu ini tepat tanggal 31 Juli. Ulangtahunku. Aku tetap melakukan rutinitasku setiap Minggu, jogging ke pantai. Sudah sebulan aku jadian lagi dengan Kay. Kali ini agaknya kami serius. Senangnya bila cinta pertamamu bisa meenjadi cinta terakhir dalam hidupmu.. Tentang Fandy, sejak terakhir kali aku bertemu dengannya bersama papa dan mamanya, aku nggak pernah ketemu dia lagi.
Hhmmff…awan putih tipis yang indah. Buih laut yang indah juga. Aku memandang ke horizon, batas antara langit dan laut yang sama-sama berwarna biru.
Hap…
“ Kay….yang bener yha..?! Lepas ah. Jangan kayak anak kecil….!” Kay menutup mataku dari belakang. Maka, otematis aja aku langsung mengomel.
“ Happy birthday…” Kay mencium keningku. Sejenak kemudian, memasangkan sebuah kalung di leherku. Kutimang liontin kalung itu di jemariku sambil aku melihatnya. Bandul kalung cantik. Bentuknya hanya paduan dari lengkungan-lengkungan indah dan tengahnya ada sebuah mutiara warna ungu tua. Cantik sekali.
“ Makasih, Kay….” Aku memandangnya.
Kemudian, Kay ikut bergabung duduk denganku dan mendengarkan lagu lewat sebelah headset ipod-ku. Kami memandang laut di pagi hari bersama. Kusapukan kembali pandanganku ke laut dan pantainya. Tunggu. Di sana ada seorang anak yang sedang menerbangkan layang-layang naga.. Fandy kecil. Sedang bermain-main. Sebentar kemudian, ia menghampiri papa dan mamanya di dekat dermaga. Lalu, mereka bertiga makan kue tart bersama setelah menyanyikan lagi ‘Happy Birthday’ versi Mandarin yang sayup-sayup kudengar. Aku tersenyum. Dari jauh sana, Fandy dengan mulut belepotan tart, melambai kearahku. Aku balas melambai pada Fandy sambil tersenyum.
“ Kay….Kay…”
Kay membuka matanya dan memandangku. “ Apa?”
“ Kamu lihat anak yang lagi makan tart sama keluarganya di sana nggak? Lucu yha?! Mirip kamu lho, mukanya….” Kataku menunjuk kearah keluarga kecil Fandy makan.
Kay tampak menyipitkan mata mengamati arah jariku menunjuk. Namun, Kay kembali bersandar ke pohon dan memejamkan mata.
“ Apa, sih. Nggak ada apa-apa juga…nggak ada anak kecil.” Katanya.
Aku hanya tersenyum memandang keluarga Fandy. Karena mungkin, itu adalah aku sepuluh tahun dari sekarang.
lll
Kenangan itu telah lama berlalu. Aku juga tak percaya tentang kejadian-kejadian yang kualami dengan Fandy akhir-akhir ini. Yha, harusnya aku sadar itu adalah sebuah pertanda. Yang harus kuyakini adalah bahwa memory itu akan tetap ada. Meskipun bukan di angan-angan, memory itu tersimpan dalam lubuk hati terdalam.

No comments:
Post a Comment