Powered By Blogger

Saturday, June 06, 2009

Maaf
Pertama aku mengenalnya, aku kira dia anak Dewa. Bagamana tidak. Wajahnya senantiasa berseri sebagaimana matahari yang menyinari. Semua keceriaannya, seperti apa yang dipantulkan laut kepada langit. Dan satu lagi. Langit seolah patuh kepadanya. Karena tatkala ia sedih, merasa gelisah ataupun galau, langit tiba-tiba menjadi mendung dan hujan rintik-rintik semakin deras membasahi bumi.
Kini sang ana Dewa berada di hadapanku. Oh, bukan. Yha, tepatnya dihadapanku karena aku sedang mencuri pandang padanya sedangkan aku semestinya memeriksa laporan keuangan bulan ini. Si anak Dewa kali ini sedang membuka-buka sebuah majalah ekonomi bersampul merah. Yha, ia sedang mengagumi karyanya. Apa yang ditulisnya secara cerdas dan penuh semangat hidupnya tertuang dalam artikel-artikel dalam majalah itu. Yup. Si anak Dewa adalah jurnalis sekarang.
“ Nona Meiti, hari ini cookies butter dan minumnya es cappuccino… Atau mau yang lain?”
Sayup-sayup kudengar Arin, waitress kesayangan si Anak Dewa menghampirinya sembari menawarkan pesananan yang sudah biaa dipesannya.
Si Anak Dewa tersenyum menyibakkan poninya sedikit, lalu mengangguk. Ia kembali menekuni hasil karya yang telah dituliskannya pada majalah temapatnya bernaung sebagai jurnalis. Seperti biasanya jug, sejak dua bulan yang lalu ia menenumkan café ini sebagai tempat nongkrong, ia selalu memilih untuk duduk di tengah-tengah café, dimana ada kursi empuk seperti sofa dan vas bunga berisikan bunga lili putih kesukaannya. Sejak dua bulan yang lalu, si Anak Dewa menjadi customer langganan di café ini. Bahkan secara tidak langsung, ia menjadi public relation bagi café ini kerena telah menyebarkan dri mulut ke mulut betapa enaknya cookies butter di café ini. Dia menjadikan café ini tempat bertemunya dengan para narasumber, bertemu dengan teman-teman wartawannya yang esentrik, bertemu dengan adik kesayangannya, bahkan juga bertemu dengan pacarnya terkadang. Di hari siang yang panas, biasanya dia memesan es krim vanilla kesukaannya, lebih sering disaat santai, ia memesan es cappuccino, meskipun pacarnya udah seribu kali menasehatinya supaya nggak terlalu banyak minum kopi. Tapi, jawabannya selalu begini;
“ Yang ajarin aku minum kopi itu, pacarku waktu SMP yang sampe sekarang aku belom bisa lupa. Dan kayaknya aku nggak pernah bakal bisa lupa. So, sampe kapan pun aku pasti minum kopi..”
Maaf. Tapi aku jadi ingin menangis mendengar perkataan itu. Itu sudah lewat hampir sembilan tahun yang lalu.
Tok….tok…
“Maaf, Pak. Ini minumnya.” Airin menyuguhkan padaku es cappuccino sama seperti yang dipesan oleh Anak Dewa. Aku tetap lekat memandangi gelagat si Anak Dewa.
“ Makasih, Rin. Tunggu saat yang tepat sampai dia tahu kalau aku pemilik café ini.”
“ Maaf, Pak. Saya rasa cepat atau lambat, Bapak harus kasih tahu nona Meiti kalau Bapak yang senantiasa memajang lili putih di tengah-tengah café, ataupun kelakuan konyol Bapak yang selalu memberikan fortune cookies yang isinya bagus semuanya buat nona Meiti. Permisi, Pak.”
Arin keluar dari ruanganku. Maaf saja, waitress cuma pekerjaan sambilan Arin. Ia mahasiswa hukum di universitas negeri setempat. Jadi, wajar jika ia pandai dan si Anak Dewa begitu senang padanya.
\\\

Sore ini aku tahu, si Anak Dewa sedang janjian dengan pacarnya. Pakaiannya lumayan rapi. Rok terusan, jaket jins yang langsung dilepasnya begitu duduk di singgasananya, serta sebuah syal kuning muda yang tampaknya hangat sekali. Rambutnya diikat satu di sebelah kanan, seperti anak kecil. Aku kali ini tidak berada di ruanganku, tapi berada bersama semua pegawaiku di belakang bartender.
Tak lama kemdian, pacar si Anak Dewa datang. Ia membawa sebuket lili putih ditangannya persembahan untuk Anak Dewa. Si Anak Dewa tersenyum dan langsung saja mengoceh ria seperti kebiasaannya menjadi orang ceria. Lalu tiba-tiba, topik itu muncul.
“ Mei, gimana aku bisa mencintaimu begitu tulus dari SMA, sementara kamu tetep nggak bisa lupa mantan pacarmu waktu SMP..”
Meiti terdiam sejenak. Aku yakin sudah pernah ia menceritakan masa lalunya secara komplit dan terperinci pada pacarnya sekarang ini. Kembali, dia ungkapkan dengan cerdas;
“ Bagaimanapun juga, masa lalu tetep akan menjadi bagian masa sekarang dan masa depan ka, Don…?!”
“ Tapi gimana bisa menggapai masa depan yang bagus kalau kamu berjalan lurus ke depan dengan pandangan ke belakang. Kamu bakal nabrak kan, Mei…. Common!”
“ Yah. Bagaimanapun dia thu pernah ada di hatiku, mengisi hari-hariku masa itu, buat perubahan-perubahan dala diriku, dan diriku nggak akan pernah sama lagi..”
Keduanya terdiam. Aku hanya bisa menelan ludah. Sakit rasanya. Hatiku seperti ditikam rotan. Aku sungguh tak bermaksud begini.
“ Meiti. Aku bener-bener tulus sayang sama kamu.”
“ Aku tahu itu. Tunggu, Don. Tanggal 2 Sepetember empat hari lagi yah..?”
“Iya. Aku tahu, itu hari ulang tahunnya Ray.”
“ Menurutmu, apa pintu maaf itu akan terbuka setelah sekian lamanya, Don…?”
“ Aku nggak tahu. Aku nggak yakin, Mei.. Setelah kita lulus, kita nggak tahu kan, Dia dimana? Dia jadi setahun angkatan di bawah kita gara-gara dia nggak naik kelas khan..?! Yang kamu sebut karma-nya padamu.”
“ Don. Aku mau cari dia. Semoga belum terlambat buat minta maaf..”
“ Apa mau dan keyakinanmu, Mei…”
“ Makasih, Don. Aku bener-bener beruntung punya pacar yang kayak kamu.”
Aku terus mendengar percakapan antara si Anak Dewa bersama Dony, pacarnya sembari aku membuat es cappuccino pesanannya, setelah kularang bartenderku meraciknya.
“ Pak. Ada telepon di line 3 dari tunangan Bapak.” Arin menghampiriku.
Aku segera menuju kantorku, dan mengangkat telepon.
“ Iyha, Maya. Ada apa?”
Jengkelnya, Maya selalu saja ingin mengecek keberadaanku dengan menelepon ke café, bukan ke ponselku.
\\\

Hari berikutnya, aku melihatnya duduk sedikit termnung, membawa sebuah buku katalog zaman SMA dulu. Semakin lama ia memandanginya, matahari semakin menyingkir, dan langit menjadi mendung. Lalu, tiga jam berselang, hujan mulai turun. Pertama hanya rintik saja. Namun semakin lama, semakin besar disertai petir juga. Si Anak Dewa menangis, menghabiskan gelas keempat es cappuccino-nya. Aku tahu. Dia sedang mengingat masa-masa indahnya di SMP bersama mantan pacar yang sampai sekarang masih diingatnya. Si Anak Dewa terpaksa tetap di café karena hari hujan. Sebenarnya bisa saja ia menelepon Dony, pacarnya supaya menjemputnya dengan mobil. Tapi, agaknya si Anak Dewa masih ingin bernostalgia mengenang mantan pacarnya di sini. Tunggu, ia memanggil Arin. Sejenak kemudian, dia sudah mulai menggunting kertas dari Arin dari gunting persediaan di tasnya. Arin lewat di depan kantorku;
“ Arin!” Panggilku.
Arin tersenyum simpul; “ Tadi dia minta kertas yang nggak pakai, Pak. Katanya dia mau buat bintang.”
Kedua mata Arin seolah mengikuti pandanganku yang menuju ke sebuah toples yang sengaja kupajang di kantorku. Toples bening itu berhiaskan pita warna biru langit di luarnya, dan berisikan warna-warni seribu bintang. Hapir saja awang-awangku menggapai kenangan masa lalu... Namun Arin kembali menyadarkanku.
“ Satu lagi, Pak. Seorang teman lama Bapak tdi menelepon dan berpesan supaya Bapak datang ke tempat ibadah Tri Dharma bisanya karena ia sedang menunggu di sana.”
“ Makasih, Rin.” Aku segera bergegas mengambil kunci mobilku dan bersiap untuk pergi di hari hujan ini.
“ Rin. Nanti kalo Maya ke sini, suruh langsung ke rumah aja. Mamah aku ada di rumah.” Pesanku pada Arin.

Lampu mobil dan pembersih kaca mobil tetap menyala sementara aku mecari parkir kosong di depan klenteng yang berwarna merah. Dan dengan melintasi jalan yang becek karena air hujan, aku memasuki ruangan yang pekat dengan bau dupa yang dibakar. Kulepas sepatuku dan aku bersembayang sebentar. Seorang teman lama tak sulit untuk ditemui, di ruangan serba bisa dekat aula. Aku menggosok-gosok telapak tangan menghampirinya. Ia mengenakan kemeja putih dengan lengan yang digulung. Potongannya rapi, sangat rapi.
“ Masih ingat, kita taekwondo di sini, Ray…” Katanya membenahi letak kacamatanya.
“ Udah lama banget… Dan aku nggak mau pertengkaran bertahun-tahun di klub taekwondo itu terulang lagi, Don…”
Dony menatap hujan yang seperti ditumpahkan dari langit. Bagitu juga aku. Dulu, aku sangat suka dengan hujan. Setiap hari hujan, aku selalu keluar untuk berbasah-basah bermain air hujan. Tapi di hari kemudian, aku jadi benci hujan. Setelah tahu, jika hari hujan, itu berarti si Anak Dewa sedang sedih.
“ Ray, dia mau cari kamu. Mau minta maaf..”
“ Aku tahu. Kemarin aku denger sedikit pembicaraanmu sama dia.”
“ Tapi masalahnya, apa pintu maafmu terbuka buat dia? Dan… sudah terlambatkah dia untuk minta maaf…?”
Aku menghela nafas. Ingin rasanya aku menangis, tapi aku seorang laki-laki yang dididik untuk pantang menangis sejak lahir.
“ Maaf. Kejadian thu udah lama banget. Ehm…aku nggak yakin. Tapi seperti kata pepatah bilang, jika kita mau liat pelangi, kita harus melewati hujan terlebih dahulu..”
“ Ray. Entah apa yang kamu lakukan sama dia. Sampai sembian tahun dia tetep nggak kuasa buat ngelupain kamu.. Dia sempat jatuh gara-gara kamu, di membatasi pergaulannya, dia sagat hati-hati sama hubungannya ma cowok, semua karena dia takut bakal ngelupain kamu.”
“ Don, apa kamu…. Apa kamu cinta dia?”
Tanpa ragu, teman lamaku ini mengangguk.
“ Apa masih ada cinta dalam hatinya untukku…?” Tanyaku lagi. Meskipun aku tahu, adalah salah besar menanyakan hal ini pada pacarnya sekarang.
“ Aku nggak tahu. Rasanya bukan cinta jika dibilang cinta. Itu hanya perasaan teringat. Seperti batu yang telah tergoreskan ukiran… Yha, aku raa hanya itu.”
“ Bagus. Terus tetap cintainya…”
Aku pergi meninggalkan Dony. Aku melepas kacamataku sambil melangkah pergi dari Dony. Aku takut. Semakin dilanjutkan pembicaraan ini, aku semakin kalah akan masa lalu.
“ Ray… Tentang dia mau cari kamu?!”
Aku menoleh, “ Tanggal 2 September kan? Akan ada untuk satu pintu maaf…”
\\\

“ Ma aku keluar sebentar.”
“Tunggu. Bentar lagi Maya sama keluarganya kan mau dateng… Ray, jangan main-main. Pa, tolong hentikan anakmu satu itu…”
Tapi papa yang semenjak kecil keras padaku, tak mengindahkan ucapan mama. Aku pergi meninggalkan suasana pesta perjamuan besar di restaurant dalam hotel mewah. Aku berlari dengan kemeja biu muda resmi untuk makan malam hari ulang tahunku. Di parkiran, aku segera mencari mobilku. Namun sayang, mobilku itu terletak terjepit diantara dua mobil lainnya dan tak mungkin untuk dikeluarkan sekarang. Aku terus berlari. Berlari dan berlari menyusuri tempat parkir mencari jalan keluarnya.
Teeetttt…..
Sebuah mobil dengan lampunya yang membutakan mata dan suara klaksonnya yang memekakkan telinga mengagetkanku. Aku menengok. Seseorang yang akan parkir itu membuka kaca jendelanya dan melongokkan kepalanya keluar. Sosok kakakku, Alvin beserta isterinya Vina dan seorang anaknya yang masih balita. Semuanya dalam pakaian semiformal untuk ulang tahunku yang ke dua puluh enam. Segera saja aku menghampirinya.
“ Meiti…. Kenangan yang kembali lagi…..” Dengan ngos-ngosan aku berusaha bicara.
Sebentar Alvin tampak mengeryitkan dahi dan bingung.
“ Tunggu. Meiti yang pernah double-date sama kita nonton itu bukan..? Jamannya kamu masih SMP…??” Vina berkata sambil menggendong ponakanku yang lucu.
“ Iyhah…..” Jawabku.
Segera saja Alvin sekeluarga turun dari mobil dan menyerahkan kunci serta STNK mobilnya padaku. Untung saja, Vina ingat. Yha, dulu aku-Anak Dewa dan Alvin-Vina pernah sekali kencan ganda untuk nonton bioskop. Dan saat itu, tampaknya Vina maupun Alvin langsung menyukai Anak Dewa yang memang selalu ceria.
“ Ray.. Kamu sendiri yang nentuin masa depanmu.” Kata Vina sambil melambai ketika aku mulai menginjak pedal gas.

Aku sampai di depan café. Aku mengatur nafasku sejnak sebelum aku keluar dari mobil. Namun, di saat itu, aku telah melihat si Anak Dewa. Rambutnya berkibar ditiup angin ketika ia berspeda. Ia menaruh sepedanya di seberang jalan, sembari ia merapikan bajunya, bersiap-siap untuk menyebrang jalan. Tapi, kurasa ia sudah melihatku. Kuputuskan, inilah saatnya aku untuk keluar dari mobil.
Benar. Pandangannya seolah merindu kala melihatku. Aku takut. Aku sangat takut berhadapan langsung dengannya. Dan tiba-tiba, waktu seolah berhenti sejenak. Memoriku kembali pada saat-saat terbaik dalam hidupku. Saat aku diterima seutuhnya dalam hati seseorang. Dimana aku tepuruk dan masih ada seseorang untukku. Di kala aku patah semangat, ada dia yang selalu mengiburku. Semua pemberian darinya, dari perhatiannya, hingga mimpinya tentang seribu bintang yang kini menjadi hiasan di meja kerja kantorku. Aku teringat sepasang bangku dimana aku dan dia selalu duduk berdua, bersenda gurau waktu pelajaran, aku yang mengajarinya mulai main game, aku yang mengajarinya untuk minum kopi dan aku yang membuat dia percaya dengan berbagai takhayul. Aku masih ingat rasa kue cokelat yang pertema dibuatnya untukku, aku juga masih ingat rasa legit milk-tea yang pernah dia berikan buatku.
Aku juga memikirkan semua jasanya padaku. Dia membuat aku merasa lebih berharga. Dari dia aku belajar untuk menghormati orang dan mengalah. Aku belajar untuk tidak patah semangat dan terus berjuang. Tapi yang terpenting, dari dia aku belajar tertawa dan mencinta. Dua hal yang membuat dunia ini indah. Dan dari dia, aku mengetahui bahwa tidak semua harta itu berharga, tidak semua emas berkilau, namun semua besi berkarat. Aku sungguh-sungguh merasa diterima seutuhnya sebagai manusia olehnya.
Begitu pula si Anak Dewa juga mengingat masa-masa berkilau dalam kehidupannya, tanpa sadar ia menitikkan air mata. Akupun belum beranjak dari tempatku, aku telah merasa perasaannya menjamah hatiku kembali. Di malam yang terang ini, hujan turun gerimis. Ya, gerimis yang mengiringi air matanya.
Aku tak kuasa berlama-lama tanpa kata. Ingin aku menghampirinya, dan memeluknya. Tap. Selangkah aku melangkahkan kaki. Terus. Mantap dan perlahan. Semetara dia belum beranjak.
Namun….. Teeeettttt………….
Suara klakson kembali mengagetkanku. Blash. Aku terjatuh. Segalanya gelap. Dan yang kuingat adalah gerimis, dan sayup-sayup kudengar kata ‘maaf’.
\\\

Badanku kaku dan kepalaku masih pening rasanya. Mata ini rasanya lekat dan tak ingin dibuka. Namun aku memaksakannya. Pandanganku buram sejenak. Aku membuka mataku, diikuti perasaan lemah dan lemas dari sekujur badanku. Aku ingin berbicara, namun suster menunjukkan isyarat untuk diam. Sementara ia memanggil dokter untuk kembali memeriksa keadaanku.
Kali kedua aku bangun, kamar rumah sakitku tak tampak seperti kamar sebelumnya yang penuh dengan alat-alat kedokteran. Kamarku kali ini lebih lebar. Dan…ada tiga tangkai bunga lili putih di vas bunga yang ditaruh di tas TV. Ada Maya yang cantik seperti biasanya. Kuduga, dia menemaniku selama di rumah sakit.
“ Ray. Dua minggu kamu nggak sadar. Kaki sama tulang rusukmu patah karena kecelakaan.” Maya berkata.
Aku terdiam. Sementara tangannya membawa sebuah karton tebal berwarna putih dan dibalut pita. Maya sadar aku memandangi apa yang dibawanya. Lalu ia menyerahkannya padaku.
Sebuah undangan. Tanganku masih kaku. Maka dibantunya aku membuka balutan pita putih di luarnya. Dan tampak sebuah undangan putih berhiaskan gliter dan dihiasi origami bintang.
“ Dony married ama Meiti akhirnya…” Kata Maya.
Meskipun hati ini masih tak rela, tapi apa mau dikata. Karena kata ‘maaf’ telah terucap. Semua masa depan yang baik ada di depan mata.
“ Ray… Sayangnya aku nggak pernah tahu tentang pacar SMPmu dari mulutmu sendiri….” Maya kembali membereskan undangan putih itu.
“ Maya, aku cinta kamu.”
Aku hanya bisa berkata begitu.
\\\

No comments:

Post a Comment