Powered By Blogger

Saturday, June 06, 2009

Tentang Manohara

Tragis memang jika menilik nasib Manohara yang baru beranjak dewasa dan dinikahi oleh Pangeran Negeri Seberang. Wajah ayunya kini mengisi semua acara talk-show di TV. Semuanya membicarakan Manohara, sang Puteri yang disiksa oleh suaminya sendiri.
Orangtua siapa yang tidak bangga, tidak berbesar hati, dan sangat senang sekali menerima lamaran Pangeran dari Negeri Seberang. Seolah memanfaatkan kecantikan dan keelokan wajah anak daranya yang belum genap 17 tahun, sang Mama rela memberikan anaknya pada Pangeran Kelantan untuk diperisteri. Tentunya dengan membumbungkan harapan, anaknya akan dikasihi dan hidup serba berkecukupan bersanding dalam keluarga istana. Namun apa yang mau dikata, entah karena terburu-buru menerima pinangan sang Pangeran, ataukah memang belum siap mental Mano untuk dinikahkan, beginilah jadinya.
Rumor penyiksaan secara seksual dan kekerasan dalam rumah tangga kepada Mano membuat geger publik beberapa waktu yang lalu. Nyonya Daisy, ibu Manohara sibuk riwa-riwi di stasiun-stasiun TV menangis mengkhawatirkan keadaan Manohara yang saat itu masih simpang-siur beritanya. Berminggu-minggu kabar itu beredar, muncullah sebuah cibiran sebagai konsekuensi publik karena Nyonya Daisy telah membeberkan perkara penyiksaan dalam pernikahan Manohara. Publik seolah memberikan feedback pada apa yang dikeluhkannya. Siapa suruh ia menikahkan anaknya yang masih belia. Kenapa Mano dilepaskan begitu saja seolah dijual. Terbungkam mulut Nyonya Daisy dan iapun hanya bisa diam dan menunggu pihak-pihak yang tengah mengusahakan pembebasan Manohara.
Sekarang, setelah Mano berhasil kabur dari suaminya dan kembali ke Indonesia, seolah lupa akan gugatan terkait masalah keselamatan anaknya, Nyonya Daisy menikmati roadshow bergilir dari satu talkshow ke talkshow lain, bermisi mau mengungkap ketidakadilan dan penyiksaan pada diri Mano. Lho, ini bagaimana. Bukannya malah melakukan visum, malah pameran kesana-sini. Diundang talkshow di semua stasiun TV hadir, namun diundang Mabes POLRI berkaitan dengan penyidikan kasus yang dilaporkannya malah mangkir... Kalau mau mengungkap kasus kekerasan yha cepat visum dan diurus ke kantor polisi, bukannya malah ribut cari perhatian di TV. Hingga publik merasa bosan karena pemberitaannya sudah over expose.
Saya rasa, tidak semudah itu mengungkap kasus penyiksaan dan KDRT dalam rumah tangga Mano. Berurusan dengan keluarga kerajaan, apalagi dengan kekuasaan yang lebih superior daripada kuasa Mano dan ibunya sebagai seorang warga negara Indonesia biasa. Mereka hanya bisa pasrah dengan sistem peradilan Negara dalam menuntut hak dan keadilan. Pastilah dari dalam hati kecil Nyonya Daisy ataupun Mano terselip rasa inferior dalam menghadapi kasus ini. Yang dipertaruhkan adalah harga diri, dan nama baik. Tapi, diatas itu, ada yang namanya uang, dan power.
Jika Mano dan ibunya berhasil memenangkan kasus ini, maka Mano akan dikembalikan pada ibunya di Indonesia. Mano akan kembali memperoleh kemerdekaan dan kebebasannya. Namun, jika mereka kalah, Mano akan kembali lagi dikurung di ‘istana kebesaran’ keluarga suaminya dan yang lebih parah lagi, Mano akan terus dan kembali disiksa bahkan akan lebih parah daripada sebelumnya.
Saya hanya bisa mendukung dan membantu lewat doa. Yang perlu saya tegaskan disini, kasus Mano ini adalah satu dari sebagian besar kasus kekerasan pada wanita. Saya tahu, di dunia Timur ini, bagaimanapun kebebasan dan penghormatan bagi wanita belum terlaksana dengan baik. Wanita belum mendapat tempat yang cukup berharga dalam realita hidup sehari-hari. Dan saya sadar, wanita berusaha untuk membuktikan dirinya dan merealisasikan apa yang ada dipikirannya, namun masyarakat kita sudah terpatri oleh tradisi yang memang menomor-duakan wanita. Sekeras apapun kaum hawa berusaha menunjukkan intensitasnya dan partisipasinya dalam kehidupan ini, sangat disayangkan, hal itu tak diimbangi dengan keterbukaan mata masyarakat tentang kuatnya kita sebagai wanita.
Wanita, buktikan dirimu untuk dunia ini. Karena tanpamu, tak akan ada dunia seperti ini.

No comments:

Post a Comment